Summary 06 August 2017

 

Kesaksian Bapa Tentang Anak (Yohanes 5:31-40)

Relay Khotbah 6 Agustus 2017

Pdt. Billy Kristanto

Judul yang diberikan LAI untuk perikop ini “Kesaksian Yesus tentang Diri-Nya” kurang tepat, karena ayat 31 dikatakan “Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar”; kalau Yesus bersaksi tentang diri-Nya sendiri, kesaksian itu menjadi kesaksian yang tidak benar. Yesus tidak bersaksi tentang diri-Nya sendiri tapi tentang Bapa. Roh Kudus bersaksi tentang Yesus. Dan di dalam bagian ini kita membaca, bahwa Bapa bersaksi tentang Anak. Inilah Pribadi Tritunggal, masing-masing bukan bersaksi tentang dirinya sendiri; kalau bersaksi  tentang diri sendiri, itu kepribadian manusia yang narsisistik, bukan Pribadi Tritunggal.

Kita ini diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, oleh karena itu kita musti mengikuti gerakan yang ada di dalam Tritunggal, bukan menciptakan konsep kepribadian kita sendiri yang diracuni oleh dosa. Kata ‘dosa’ sudah sering sekali kita dengar, tapi apa sebenarnya arti dosa? Banyak sekali dimensi dosa, salah satunya kalau kita bahas dalam pengertian Trinitarian, yaitu konsep kepribadian yang ngawur yang tidak sesuai dengan konsep Tritunggal. Jadi, bukannya Bapa bersaksi tentang Bapa sendiri, Anak bersaksi tentang Anak sendiri, Roh Kudus bersaksi tentang Roh Kudus sendiri, itu bukan Trinitarian yang kita baca dalam Alkitab; yang ada adalah masing-masing bersaksi tentang pribadi yang lain.

Kalau kita bersaksi tentang diri kita sendiri, kita bisa ngawur, kita kurang-kurangi kelemahan dan kegagalan kita, kita besar-besarkan kelebihan kita sebanyak-banyaknya bahkan kalau bisa melampaui kenyataan. Yesus tidak mungkin melakukan itu. Saudara perhatikan di sini, seandainya katakanlah Yesus bersaksi tentang diri-Nya sendiri, pasti perkataan-Nya benar, tidak mungkin ada yang salah, karena Dia Yesus. Tetapi, kalau menurut iman Kristen persoalannya bukan hanya ‘konten’ kesaksiannya yang benar, namun juga ‘siapa’ yang bersaksi. Seandainya Yesus bersaksi tentang diri-Nya sendiri, pasti kontennya benar, tapi di sini Yesus mengatakan bahwa kesaksian itu menjadi tidak benar. Mengapa? Karena tidak seharusnya Yesus bersaksi tentang diri-Nya sendiri.

Dalam pasal-pasal pertama kita sudah bahas bahwa setting in life dari ‘saksi’ yaitu ruang pengadilan; berarti di sini ada yang dituduh (terdakwa) dan ada yang bersaksi (menjadi saksi). Oleh karena itu kalau Yesus bersaksi tentang diri-Nya sendiri, berarti Dia ada di dalam posisi terdakwa sekaligus saksi; kalau seperti itu, sekalian saja jadi hakim juga, karena Yesus itu Hakim, pasti menang perkara. Tapi Alkitab tidak bicara begitu. Ayat 31 ini sangat relevan di dalam kehidupan kita, karena kita sendiri tidak luput dari diomongin orang lain, digosipin --yang seringkali salah-- lalu disalah-mengerti, difitnah, dsb., dan kita tergoda untuk membela diri kita sendiri. Kita tergoda untuk bersaksi tentang diri kita sendiri. Seandainya kita kemudian mengatakan kebenaran tentang diri kita sendiri, menurut Yesus itu tetap salah. Kita tidak dipanggil untuk jadi saksi diri kita sendiri; kita dipanggil untuk jadi saksi Kristus. Kepribadian yang berputar pada dirinya sendiri --yang dituduh dia, yang membela juga dia, sekalian juga dia yang jadi hakim-- itu non-Trinitarian, bukan kepribadian Tritunggal tapi kepribadian asing yang tidak ada hubungannya dengan Tritunggal. Dan ini dosa. Penolakan terhadap konsep kepribadian Tritunggal, itu dosa.

Di dalam Alkitab, kita melihat kaitan sangat erat antara pengenalan akan Tritunggal dengan hidup yang kekal. Kalau Saudara membaca buku katekisasi, termasuk juga katekismus-katekismus dan Reformed confessions yang klasik seperti Heidelberg, Belgic, Second Helvetic, Canons of Dort, Westminster, Geneva Catechism yang ditulis Calvin, Saudara bisa mendapatkan banyak insight tentang Tritunggal. Pengenalan Tritunggal adalah dasar hidup yang kekal. Kalau kita tidak mengenal Allah Tritunggal, menurut konsep Alkitab kita tidak memiliki hidup yang kekal. Pertanyaannya, mengenal Tritunggal itu artinya bagaimana? Saudara harus hati-hati dengan gambaran yang disebut formulae Christianity, yang cuma main formula, “O, pengertian saya tentang Tritunggal beres, tidak sesat, yaitu Una Substantia (satu substansi), Tres Personae (tiga pribadi)”  lalu berpikir kalau mengatakan ‘satu substansi, tiga pribadi’ langsung selamat; tapi kalau ‘satu pribadi, tiga substansi’, masuk neraka. Inilah yang namanya Kekristenan ala formula. Saya bukan melecehkan konsili-konsili ekumenikal yang sangat diberkati Tuhan, sama sekali tidak; tapi kalau Saudara baca Alkitab, kita akan sadar betapa terbatasnya konsili-konsili ekumenikal itu. Ada banyak yang tidak dibahas di dalam konsili-konsili ekumenikal, Alkitab amat sangat jauh lebih dalam, lebih luas, lebih kaya dari itu. Ada banyak hal yang tidak bisa ditampung oleh konsili-konsili ekumenikal yang agung itu, termasuk juga tidak bisa ditampung katekismus-katekismus Reformed yang agung, karena kekayaan Alkitab terlalu limpah. Kalau pengertian arti Tritunggal menjadi dasar hidup yang kekal, maka kita harusnya menghidupi hubungan seperti yang terjadi dalam Tritunggal. Kalau kita menolak menghidupi konsep ‘bersaksi tentang pribadi yang lain’, bukankah ini penolakan terhadap Tritunggal sebetulnya?? Mungkin kita tetap mengatakan “Una Substantia Tres Personae” tapi tidak menghidupi gerakan yang ada di dalam Tritunggal, bahkan mungkin tidak tertarik, kita lebih suka bersaksi tentang diri kita sendiri, kita menjadi pribadi yang berputar pada diri sendiri, a highly narcissistic personhood yang tidak ada hubungannya dengan Allah Tritunggal, lalu kita tetap bersikeras mengatakan diri kita masuk surga karena bisa bicara formula Tritunggal yang benar. Menurut saya, bukan itu iman kepada Tritunggal.

Dalam  bagian ini kita mendapati Yesus sedang mengajar kepada kita bukan cuma mengatakan kalimat yang benar, tapi ‘siapa’ yang mengatakannya. Kalau saya bicara tentang diri saya sendiri, itu tidak menjadi sesuatu yang benar; Yesus tidak dipanggil untuk jadi saksi diri-Nya sendiri, Dia adalah saksi Bapa-Nya. Maka di ayat 32 dikatakan “Ada yang lain yang bersaksi tentang Aku”. Biar orang lain yang bicara tentang kebaikan kita, jangan kita bicara tentang kebaikan kita sendiri. Itu tidak cocok dengan konsep Tritunggal. Tapi kita biasanya tidak sabar, apalagi waktu kita dibicarakan secara keliru. Toleransi Tuhan itu panjang sekali, dan kadang kita juga gereget kepada Tuhan bukan cuma gereget sama orang yang menfitnah kita. Namun Tuhan itu berdaulat, termasuk juga berdaulat kapan waktunya Dia menyelesaikan kesalah-mengertian. Waktu Yesus bangkit, Dia tidak menyelesaikan kesalah-mengertian orang Farisi. Apa Saudara pernah membaca, setelah bangkit Yesus pergi ke Yerusalem hitung-hitungan sama orang-orang yang dulu salah bicara tentang Dia? Tidak ada. Yesus menyerahkan kepada saksi-saksi-Nya; murid-murid-Nya menjadi saksi tentang Dia, lalu Dia naik ke surga. Dan kemudian murid-murid-Nya juga dianiaya. Orang yang tadinya dalam posisi ‘saksi’, akhirnya mereka sendiri menjadi posisi yang didakwa; ini namanya Unio cum Christo (persekutuan dengan penderitaan Kristus). Saudara dan saya dipanggil untuk menghidupi gerakan seperti ini. Itulah mengenal Kristus, itulah artinya kita dipersekutukan dalam penderitaan Kristus. Di dalam Injil dan Kisah para Rasul tidak ada cerita Yesus menjadi saksi untuk diri-Nya sendiri, yang ada adalah ‘yang lain’ menjadi saksi. Saudara dan saya juga dipanggil untuk tidak menjadi saksi bagi diri kita sendiri, karena itu bukan cerita Injil melainkan cerita yang entah dari mana. Dalam keadaan seperti ini, kita belajar untuk dibentuk, dikuduskan, termasuk juga emosi kita, konsep kita tentang waktu --musti menunggu Tuhan. 

Yesus menyerahkan kepada Bapa-Nya, “ada yang lain yang bersaksi tentang Aku”, selanjutnya “ dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar” (ayat 32). Di sini bahasa Indonesia terjemahan LAI sangat tepat, kalimat ‘kesaksian yang diberikan-Nya’ memakai ‘Nya’ huruf besar, yang maksudnya adalah Bapa; biarkan Tuhan yang bersaksi tentang kita. Betapa luar biasa ayat ini, kita bersaksi tentang Tuhan, Tuhan pun bersaksi tentang kita. Apa maksudnya? Bukan di atas Tuhan ada yang lebih tinggi lagi yaitu kita --tentu ini sesat-- tapi maksudnya kalau kita hidup benar, jangan kita bersaksi-bersaksi sendiri biarkan Tuhan yang bersaksi akan hal itu, Tuhan yang tahu. Tapi di sini saya perlu segera menambahkan bahwa kalimat “Tuhan yang tahu” ini kadang-kadang keluar dari mulut orang yang membenarkan diri, sudah salah masih tidak mau disalahkan lalu mengatakan, “Tuhan tahu”. Saudara dan saya bisa mengatakan “Tuhan yang tahu” cuma untuk membenarkan diri kita sendiri, padahal yang Tuhan tahu lain dari yang kita katakan itu. Orang salah, ditegur, lalu mengatakan Tuhan yang tahu”, maksud sebenarnya ‘lu semua ‘gak usah menghakimi saya, penghakiman itu datang dari Tuhan, jadi tutup mulutmu!’; ini orang yang sombong luar biasa lalu pakai kalimat yang mirip perkataan Yesus “Bapa yang bersaksi tentang Aku”. Hati-hati. Kalimat ini bisa disalah-gunakan manusia berdosa seperti Saudara dan saya. Kadang-kadang Tuhan tahu dan menegur kita melalui peneguran orang lain, kita musti terbuka untuk itu. Tapi waktu Yesus mengatakan kalimat tersebut, kita tahu Dia betul-betul tidak ada salah. “Ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar”, Bapa bersaksi tentang Kristus. Dalam kehidupan kita, profiling karakter kita yang paling final itu datang dari Allah, bukan dari manusia. Ini bukan berarti manusia sama sekali tidak berhak menilai kita, tapi intinya kita tidak perlu terlalu terganggu dan gelisah dengan penilaian manusia, kalau kita menghidupi doktrinTritunggal bukan cuma formulae Christianity.

Tapi di bagian berikutnya kita membaca ada juga kesaksian manusia. Bapa bersaksi akan Kristus, itu sebenarnya sudah cukup. Kalau Bapa mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”,  itu sudah cukup, perlu tambah apa lagi? Kalau Bapa mengatakan, “Hai hamba-Ku yang baik dan setia, masuklah di dalam kebahagiaan Tuanmu”, maka orang mau kritik apapun tidak usah pusing karena Tuhan sendiri sudah memuji, sudah cukup. Tapi mengapa di sini ada kesaksian manusia, misalnya Yohanes Pembaptis, padahal kesaksian Bapa tentang Anak sudah cukup? Di dalam ayat 33-34 kita baca: “Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan.”  Yesus tidak memerlukan kesaksian dari manusia. Demikian juga kehidupan kita waktu Tuhan sudah menilai, tidak perlu ada kesaksian manusia karena penilaian Tuhan tidak mungkin salah, tidak mungkin perlu koreksi, tidak mungkin kurang lengkap, tidak mungkin salah perspektif, dan Tuhan melihat semuanya sehingga waktu Tuhan bersaksi/ mengatakan tentang kehidupan kita, ya, itulah finalnya. Bapa adalah saksi bagi Sang Anak, Anak sendiri adalah saksi bagi Sang Bapa, tapi di sini Yohanes Pembaptis juga menjadi saksi tentang Kristus, tentang kebenaran. Di sini Yesus segera menambahkan : “...tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan.”  Apa artinya? Apa saya diselamatkan karena kesaksian Yohanes Pembaptis?? Bukankah kita diselamatkan karena korban Kristus mati menebus dosa di kayu salib?? Saya percaya ini ditafsir di dalam pengertian konsistensi teologi Inkarnasi; Allah yang tidak kelihatan menjadi manusia, masuk di dalam dunia yang kelihatan, menjadi daging, lalu disaksikan oleh manusia yang berada di dalam dunia yang kelihatan, yaitu Yohanes Pembaptis. Manusia tidak selalu bisa mendengar Yang tidak kelihatan, bukan karena Bapa tidak jelas mengatakan tapi karena manusia tuli dan buta rohani tidak bisa melihat kesaksian dari Bapa, maka perlu Yohanes Pembaptis. Ini juga bukan berarti Yohanes Pembaptis mutlak, sehingga kalau tidak ada dia rencana keselamatan bubar. Tuhan tidak bergantung kepada siapa pun, tapi waktu di sini dikatakan “supaya kamu diselamatkan”, artinya rencana keselamatan itu memang melibatkan kesaksian manusia, termasuk kesaksian Saudara dan saya. Kalau kita tidak mau jadi saksi, Tuhan pasti punya cara sehingga orang pilihan datang kepada Dia. Tapi Tuhan mau pakai kita, melibatkan kita menjadi saksi, seperti Yohanes Pembaptis juga dilibatkan menjadi saksi. Yang tidak kelihatan masuk ke dalam dunia yang kelihatan, kemudian disaksikan oleh orang-orang yang ada di dalam dunia yang kelihatan juga, bukan cuma disaksikan dari surga.

Kalau Saudara membaca Injil Matius, Markus, Lukas, di situ ada perspektif yang berbeda-beda. Waktu Yesus dibaptis, ada perspektif yang menunjukkan bahwa ini pembicaraan Bapa yang bukan kepada Anak, melainkan merupakan satu pengumuman yang paling sedikit ditujukan kepada Yohanes Pembaptis atau mungkin murid-muridnya juga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”.  Tapi kalau Saudara baca dalam Injil sinoptik yang lain ada perbedaan: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”. Kalau kita pakai perspektif yang terakhir ini, bagian ini adalah pembicaraan Bapa kepada Anak, tidak ada yang harus dengar karena pembicaraan ini antara Bapa dan Anak, yang tahu adalah Anak. Jika demikian, bagaimana yang lain bisa mendengar suara Bapa di situ? Oleh sebab itulah ada perspektif yang lain tadi, bahwa pembicaraan ini bisa ditafsir sebagai pengumuman/proklamasi.

Kembali pada perspektif yang pertama,  --yaitu pembicaraan Bapa dengan Anak-- “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”,  memangnya siapa yang bisa dengar suara Bapa kalau begini? Kalau dalam perspektif ini, cuma Yesus yang bisa mendengar, oleh karena itulah perlu kesaksian manusia. Kesaksian dari Bapa itu cukup, final, tidak perlu dikoreksi, tetapi supaya kamu diselamatkan maka Allah yang tidak kelihatan menjadi daging supaya kamu bisa melihat secara fisik juga, supaya kamu bisa raba dan bisa pegang. Ada yang bersaksi dari dari dunia yang kelihatan juga --bukan kesaksian para malaikat atau para orang kudus di surga yang semua tidak kelihatan-- adalah supaya kamu bisa diselamatkan; menurut  konsep Alkitab, teologi inkarnatoris itu tekanannya pada manusia hidup di dunia sini dan sekarang. Meskipun Yesus tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Yesus mengatakan hal ini supaya kamu diselamatkan.

Calvin pernah mengatakan ‘kalau kita tidak bisa mendengar pengajaran dari orang yang kelihatan, bagaimana kita bisa mendapatkan pengajaran dari Allah yang tidak kelihatan? kalau kita tidak bisa dididik oleh manusia yang kelihatan, bagaimana kita mau dididik oleh Tuhan yang tidak kelihatan?’ Ini mirip seperti perkataan Yohanes ‘kamu tidak mengasihi sesamamu yang kelihatan, bagaimana kamu mengasihi Allah yang tidak kelihatan’, tapi kemudian Calvin menerapkannya di dalam pengajaran, kepemimpinan, dan kalau boleh saya tambahkan juga dalam kesaksian: kalau kita tidak bisa mendengar kesaksian dari manusia yang kelihatan, bagaimana kita menerima kesaksian dari Tuhan? Tuhan memberikan orang-orang ini supaya kita juga diberkati. Kalau dalam konteks suami istri, seorang istri yang tidak bisa tunduk pada suaminya, bagaimana dia mau tunduk kepada Tuhan? Begitu juga  seorang suami, kalau suami tidak mengasihi dan berkorban bagi istrinya, bagaimana dia bisa bilang dia berkorban kepada Kristus yang tidak kelihatan? Itu problem yang sama. Oleh sebab itu Yohanes Pembaptis memberi kesaksian, yang memang dari manusia. Inilah keindahan inkarnasi, Yesus menjadi manusia dan Yesus melibatkan manusia menjadi saksi-saksi-Nya. Ini bukan berarti Yesus perlu manusia; waktu Yesus masuk Yerusalem, ada ayat yang mengatakan kalau orang-orang itu pun tidak memuji, batu-batu akan dipakai Tuhan untuk memuji Tuhan. Bersaksi itu boleh pakai manusia --tidak harus pakai manusia-- tapi Tuhan mau pakai manusia, supaya kita diselamatkan.

Selanjutnya Yohanes digambarkan seperti pelita yang bercahaya; ayat 35 “Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu”. Bahasa Inggrisnya: He was a burning and shining lamp, and you were willing to rejoice for a while in his light. Maksudnya, Yohanes Pembaptis itu terang --yang lebih kecil daripada Kristus, Terang yang sesungguhnya--  dan seharusnya itu membawa mereka kepada Terang yang lebih besar itu, tapi mereka mandek di dalam terang yang seketika itu saja. Yohanes Pembaptis itu orang yang dipakai Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias,  maka kalau orang mendapat terang dari Yohanes, ia seharusnya datang kepada Terang yang lebih besar itu karena Yohanes memang menunjuk ke sana, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia”.  Harusnya orang terus menuju kepada Terang yang lebih besar, tapi nyatanya tidak, maka dikatakan ‘kamu hanya mau menikmati terangnya seketika saja, dia seperti pelita yang menyala, tapi kamu tidak datang kepada yang ditunjuk oleh Yohanes Pembaptis’.

Metafor “terang” lumayan sering di dalam Injil Yohanes dibanding Injil sinoptik. Terang itu terang yang mengatasi kegelapan, pelita yang bercahaya. Apa artinya? Yohanes Pembaptis itu seperti terang, dia menyinari dunia yang dalam kegelapan, yaitu dosa. Apa itu dosa? Dalam cara bagaimana Yohanes menjadi terang? Kotbah Yohanes Pembaptis tidak banyak dicatat, pendek-pendek, tapi dalam kotbahnya itu kita tahu yang dimaksud dengan kegelapan. Dia bicara tentang kemunafikan pemimpin-pemimpin agama, orang-orang itu ditegur dengan begitu keras, kemudian ada orang-orang yang diajak mencukupkan diri dengan gaji yang ada, jangan memeras.  Kemunafikan (hypocrisy), kecongkakan tidak mau dididik (the sin of pride), keserakahan (the sin of greed), inilah kegelapan. Waktu Yohanes berkotbah, dia menegur, mempersiapkan Kerajaan Allah: “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat”. Di sini kita musti merenungkan lagi, apa artinya Kerajaan Allah? Saya kuatir sekali dengan formulae Christianity, Saudara bisa memakai kata ‘dosa’, ‘Kerajaan Allah’, ‘kehendak Tuhan’, dan kalimat-kalimat jargon yang kita semua sudah hafal, tapi sebetulnya artinya apa? Waktu kita berdoa “datanglah Kerajaan-Mu”, apa itu maksudnya? Orang mengertinya bisa sangat melebar, ngawur luar biasa, semau dia sendiri tentang Kerajaan Allah ini. ‘Kerajaan Allah itu kalau yang saya kehendaki semuanya terpenuhi’; padahal itu tidak ada urusannya dengan Kerajaan Allah. ‘Kerajaan Allah berarti Tuhan bekerja dengan mujizat’; padahal itu juga bukan substansinya. Lalu ‘Kerajaan Allah itu kemegahan Kekristenan yang makin lama makin jadi agama yang mayoritas’, apakah itu Kerajaan Allah?? Waktu Yohanes Pembaptis bicara tentang Kerajaan Allah, apa sebenarnya artinya? Yohanes Pembaptis membangun tradisi Kerajaan Allah berdasarkan kitab nabi-nabi, oleh karena itu kita musti belajar  kitab nabi-nabi untuk bisa mengerti yang dikatakan Yohanes Pembaptis dan Yesus tentang Kerajaan Allah. Yesus ada juga menjelaskan tentang Kerajaan Allah di dalam berbagai  perumpamaan, tapi Yohanes Pembaptis tidak menjelaskan; darinya kita hanya mendapatkan sedikit gambaran yang tidak terlalu lengkap, justru dia mengatakan kepada pendengarnya untuk menyelidiki kitab-kitab suci yang dari dulu sudah ada.

Koresy, raja Persia yang terakhir dalam masa pembuangan, adalah seorang yang dipakai Tuhan, diurapi, menjadi seorang raja yang dipakai oleh Raja di atas segala raja yaitu Kerajaan Allah bukan kerajaan Media-Persia, Syria, dsb., untuk bisa menghantar orang Israel yang terbuang dari hadirat Tuhan sehingga bisa menikmati hadirat-Nya dan membangun Bait Suci kembali. Lalu Alkitab (Yesaya) mencatat perkataan Tuhan, Koresy disebut sebagai His messiah (‘His’ di sini maksudnya Tuhan); di dalam bahasa aslinya, Koresy adalah mesias Tuhan. Bukankah harusnya Mesias itu keturunan Daud? Tapi ini raja kafir? Di sinilah, kalau kita bicara ‘Kerajaan Allah’ banyak tidak cocoknya; kita maunya Kerajaan Allah itu gereja kita, dan orang Israel dulu juga berpikir seperti itu.  Kerajaan Allah menurut Israel ya, kerajaan Israel, tapi nyatanya Koresy. Koq bisa Koresy disebut mesias, bukankah ‘gak cocok, ‘gak boleh dong, paling sedikit harus orang Israel, lebih baik lagi harusnya keturunan Daud, keturunan Yehuda, sedangkan keturunan suku lain pun ‘gak boleh, tapi mengapa jadi Koresy? lagipula tidak jelas ini orang statusnya orang diselamatkan apa bukan, orang pilihan apa bukan, mengapa boleh terlibat dalam pekerjaan Tuhan, mengapa bisa included di dalam Kingdom of God?? Lalu kita lebih terkejut lagi karena jangankan Koresy, waktu Yesus berbicara perumpamaan tentang seorang penabur,  Iblis yang menabur pun termasuk bagian dari  Kerajaan Allah. Penaburan benih yang jahat itu termasuk Kerajaan Allah, menurut konsep Yesus Kristus. Tapi kalau menurut konsep kita, semua orang jahat harus dibabat, dibersihkan dari Kerajaan Allah; pertanyaannya, Kerajaan Allah yang mana, menurut konsepnya siapa, pemahamannya siapa, karena ini tidak cocok dengan gambaran Yesus. Kerajaan Allah menurut gambaran Yesus itu peperangan, di dalamnya ada juga pekerjaan Iblis. Jadi kembalilah kepada Alkitab.

Waktu Yohanes Pembaptis menjadi terang, pelita yang menyala, dia menerangi kegelapan, Kerajaan Allah yang hadir di tengah-tengah Israel. Apa maksudnya? Kalau kita membaca kitab Yesaya, artinya selain Koresy  Tuhan bisa memakai orang-orang yang non-Israel, orang-orang miskin (the poor and the needy) diberitakan kabar baik, diakonia. Itu semua termasuk dalam Kerajaan Allah. Saya bukan mengajar social gospel, tapi dalam Kisah Para Rasul diakonia itu salah satu fungsi yang sangat berjalan di dalam Gereja. Tadi kita mengatakan, salah satu dosa yang ditegur Yohanes Pembaptis adalah dosa kesarakahan, maka kalau kita dikuasai sin of greed, tidak mungkin ada diakonia; kalau kita dikuasai keserakahan, kekikiran, kepelitan, bagaimana mungkin kita mendukung pekerjaan Tuhan, lalu sudah begitu kita masih tetap bersikeras diselamatkan masuk surga karena bisa menjawab Una Substantia Tres Personae, Yesus dua natur --natur Ilahi, natur manusia-- satu pribadi. Betul-betul  mengkuatirkan model Kekristenan yang main formula seperti ini tapi tidak tertarik untuk menghidupi Injil. Yohanes Pembaptis itu mengapa disebut pelita? Apa yang menjadi terang dalam kehidupannya? Yaitu bahwa dia menegur kegelapan-kegelapan yang ada di dalam hati manusia, di dalam hati Saudara dan saya, lalu mengajak kita untuk menikmati realita Kerajaan Allah. Tidak  menjadi orang yang discourage, pesimis berlebihan hanya karena ada pekerjaan Iblis sebab Yesus sudah mengatakan itu termasuk Kerajaan Allah. Kita tidak perlu kaget, Yesus sendiri sudah mengajarkan seperti itu. Jangan kehilangan pengharapan dalam gambaran yang seperti ini karena inilah gambaran yang sangat realistik tentang Kerajaan Allah, bukan gambaran yang steril. “Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu”, mengapa? Karena manusia lebih suka dalam kegelapan, tidak mau hidup dalam terang.

Yesus mengatakan: “Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya” (ayat 36a). Yohanes Pembaptis itu terang yang kecil, dan dia melenyapkan kegelapan di dalam konteks porsi dirinya. Yesus itu Terang yang besar, Terang yang sesungguhnya, Dia juga melenyapkan kegelapan. Inilah dosa manusia,  yaitu hidup dalam kegelapan, tidak menjalankan prinsip-prinsip Kerajaan Allah, kita cuma membangun network dengan orang-orang yang menurut kita menguntungkan dan tidak tertarik berbagian dalam kehidupan orang-orang yang jelas-jelas tidak bisa membalas apa-apa. Tapi kalau kita mengikuti prinsip Kerajaan Allah, waktu Saudara memberi kepada orang yang tidak bisa membalas, pemberian itu lebih gampang murni, meski bisa saja kita tetap murni waktu memberi kepada orang yang bisa membalas. Bukan cuma soal keuangan, tapi mungkin juga senyuman. Waktu Saudara senyum kepada orang yang tidak suka Saudara dan malah buang muka, itu sakit, tapi Yesus mengajak kita masuk dalam realita ini. Ini adalah realita Kerajaan Allah, bukan pilih-pilih, bukan like and dislike, bukan selective fellowship. Waktu kita Perjamuan Kudus, itu Kerajaan Allah, semua orang berdosa diundang oleh Yesus, termasuk orang Farisi yang self-righteous pun diundang. Cerita bapa yang punya dua anak, baik anak yang terhilang ke tempat jauh maupun anak yang terhilang di dalam rumah, keduanya diundang masuk lagi ke dalam rumahnya. Yesus table fellowship bukan cuma dengan si anak bungsu tapi si anak sulung juga, orang yang self-righteous itu, termasuk Saudara dan saya. Yesus datang dengan terang ini. Terang ini kontras sekali dari kegelapan yang ada di dalam dunia. Kegelapan yang ada dalam dunia tidak bisa menerima ini, karena dunia selalu mengajarkan ‘kita ini tidak punya banyak waktu, maka kenalan sama orang pun harus pilih-pilih, kalau tidak waktumu habis’. Waktu Yesus datang di dalam dunia, Dia mendemonstrasikan artinya hidup di dalam realita Kerajaan Allah. “Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku”  (ayat 36b), kehidupan Kristus menyatakan kehidupan Bapa.

Ayat 37 “Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya (suara Bapa), rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat”. Kalau membaca ayat ini, seolah-olah ya, memang begitu, Bapa ‘kan tidak terlihat, Dia ada dalam terang yang tak terhampiri seperti kata Yakobus, tapi bukan itu yang dimaksud di sini. Perhatikan sekali lagi: “Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu” --ini semuanya sinonim--  “sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya”. Seharusnya kita ini bisa mendengar suara Bapa, rupa-Nya jelas kita lihat di dalam Yesus Kristus karena Yesus mengatakan ‘barangsiapa melihat Aku, dia melihat Bapa’ (bukan berarti Yesus sama dengan Bapa tapi bahwa Yesus adalah perfect representation dari Bapa). Lalu mengapa orang tidak bisa mendengar suara Bapa, yang bisa mendengar cuma Anak? Yaitu karena firman-Nya tidak menetap dalam diri kita, karena kita tidak percaya kepada Sang Anak yang diutus oleh Sang Bapa. Yesus itu satu-satunya jalan kepada Bapa, kalau kita tidak menerima kehidupan Sang Anak maka kita tidak bisa melihat Bapa, tidak ada pengenalan akan Allah. Tidak ada orang yang bisa datang kepada Bapa, mengenal Bapa, kalau tidak melalui Sang Anak; menurut Alkitab.
Apa yang dimaksud dengan suara Bapa? Yaitu yang ada dalam Kitab Suci. Bapa berbicara melalui Kitab Suci; suara-Nya harusnya bisa didengar. Tapi mengapa orang membaca Kitab Suci dan tetap tidak mendengar suara Bapa? Bukan karena Bapa itu tidak terlihat, bukan karena yang bisa akses ke Bapa hanya Sang Anak, tapi karena firman tidak menetap dalam diri kita, karena kita tidak percaya kepada Sang Anak. Kata ‘percaya’ ini jangan ditafsir dalam pengertian formulae Christianity tadi. Kalau cuma formulae Christianity akhirnya kita bicara Credo (Aku Percaya), lalu di dalamnya kita bilang communio sanctorum (persekutuan orang-orang kudus) tapi orang kudusnya kita pilih sendiri yang sesuai dengan diri saya. Waktu Yesus menghidupi prinsip communio sanctorum ini, Dia membuka meja kepada semua orang.

Ayat 39-40 “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu”. Saya membaca bahwa waktu Yesus mengatakan kalimat ini, ada latar belakang di dalam Yudaisme; saya mengambil kutipan dari Rabi Hillel yang sangat terkenal: “If a man has gain for himself words of the law, he has gain for himself life in the world to came”, jelas ada kaitan antara words of the law (perkataan Taurat) dengan hidup kekal. Dan satu lagi dari Rabi Akiba: “God said: ‘The word is not an idle thing for you (Ulangan 32:47), and if it is idle for you, why is it so? Because you do not know how  to search it (karena kamu tidak tahu bagaimana menyelidikinya), for you do not energetically occupy yourself with it,  for it is your life; when is it your life? When you exert yourself with it.’“ Jadi waktu Yesus mengatakan ‘kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal’ karena memang sebenarnya seperti itulah ajaran para rabi. Yesus sebenarnya tidak sedang berpolemik dengan ajaran para rabi, tapi Dia mau mengatakan bahwa menyelidiki Kitab Suci seperti itu, tanpa mencari Pribadi Kristus --padahal Kitab-kitab Suci memberi kesaksian tentang Pribadi Kristus-- maka kamu tidak akan memperoleh hidup.

Belajar firman Tuhan, belajar teologi, dsb. , kalau kita tidak berjumpa dengan Pribadi Kristus maka tidak ada hidup. ‘Ikut Yesus, ikut Yesus’, apa itu artinya? Apa maksudnya mengabarkan Injil? Apa itu Injil? Jangan-jangan Saudara mengabarkan injil model formulae Christianity lagi, karena kita sendiri tidak tertarik dengan kehidupan Pribadi Tritunggal, kita berputar di dalam diri kita sendiri, bicara tentang diri sendiri, membela diri sendiri, dsb., lalu memberitakan Injil; pertanyaannya: injil yang mana?? kehidupan Yesus yang mana?? Kalau kita bilang kita ini mengikut Kristus, berarti kita belajar untuk berpartisipasi di dalam kehidupan-Nya, seperti kehidupan yang ada pada Kristus. Itu namanya mengabarkan Injil, termasuk juga dengan perkataan. Tapi kalau kita mengabarkan dan mengabarkan kemudian kita menghidupi teori yang lain, tidak menghidupi Injil tapi menghidupi kapitalisme misalnya, tidak tertarik akan diakonia dan belas kasihan, hanya bicara tentang bekerja keras untuk makin lama makin sukses, maka itu bukan Injil. Saudara bukan ikut Kristus, Saudara ikut yang lain. Itu berhala.

Orang sering bilang, ‘kalau mau mengajar orang, selagi dia muda, lebih gampang diajar; orang makin tua makin susah diajar’. Saya tidak percaya statement itu; ini bijaksana dunia. Kalau menurut prinsip Alkitab, mengapa orang tidak berubah? Jawabannya sederhana: karena dia tidak bertemu Kristus. Waktu baca firman Tuhan tidak ada personal encountering with Jesus, maka tidak berubah. Saudara bisa membaca berapa pun banyaknya buku teologi, membaca berapa kali pun banyaknya Alkitab dari kejadian sampai Wahyu, tapi kalau tidak ada perjumpaan pribadi dengan Yesus, maka tidak ada perubahan. “Kitab-kitab suci itu memberi kesaksian tentang Aku”, bukan menyediakan formula-formula. Orang yang berjumpa dengan Yesus, bagaimana mungkin tidak diubah kehidupannya? Di dalam kitab-kitab Injil, semua orang yang bertemu Kristus ada transformasi, atau penolakan. Kalau tidak cinta, ya, benci. Tidak ada orang bertemu Kristus lalu cuma ignore. Terang itu menyilaukan bagi orang yang hidup dalam kegelapan, tidak mungkin tidak menyadari. Kalau ada terang masuk dan masih tidak sadar juga, ya, memang keterlaluan kegelapannya, mungkin Tuhan sudah membutakan orang-orang seperti itu. Tapi kita berharap bukan seperti ini. Saya berharap kita bukan orang yang menolak mentah-mentah, tapi waktu berjumpa dengan Yesus kita diubahkan. Ini bukan masalah usia.

Waktu kita membaca Kitab Suci, waktu mendengar kotbah, waktu saat teduh, waktu baca buku teologi, pertanyaannya: Saudara berjumpa dengan Pribadi Kristus atau tidak? Karena perjumpaan dengan Pribadi Kristus pasti mengubahkan. Tidak ada orang yang bisa tahan di depan Pribadi Kristus lalu simply ignore Dia; kalau tidak ada perubahan maka tidak ada personal encounter with Jesus Christ. Dan perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus ini berarti juga personal encounter with The Trinity, karena Yesus bukan bersaksi tentang diri-Nya sendiri, Dia bersaksi  tentang Bapa, dan di dalam Roh Kudus kita dicelikkan untuk bisa mengerti ini. “Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku”, yaitu memberi kesaksian tentang Pribadi Kristus, yang membawa kepada pengenalan Pribadi Tritunggal.
Mari kita belajar  dalam kehidupan kita untuk menghayati ini, karena perjumpaan dengan Tuhan itu perjumpaan yang mengubahkan. Ketidak-berjumpaan dengan Tuhan, membuat kita terus-menerus berada dalam kegelapan. Kiranya Tuhan memberkati.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)

 

 

 

Testimony of the Father about the Son

John 5:31-40

Rev. Billy Kristanto

The title given by Indonesian Bible Institute for this passage "The Testimony of Jesus about Himself" is not quite right, because in verse 31 says "If I testify of myself, my testimony is not true"; If Jesus testifies of Himself, the testimony becomes an untrue witness. Jesus did not testify about Himself but about the Father. The Holy Spirit testifies of Jesus. And in this passage we read, that the Father testifies of the Son. This is the Trinity Person, each not a witness of himself; If you testify of yourself, it is a narcissistic personality, not a Trinity Person.

We are created in the image of God, therefore we must follow the movement that exists in the Trinity, not create our own personality concept which is poisoned by sin. The word 'sin' we have heard so often, but what does sin really mean? There are so many dimensions of sin, one of which if we are discussing in the Trinitarian sense, that is, the inconsequential concept of personality that is inconsistent with the concept of the Trinity. So instead of the Father testifying of the Father himself, the Son testifies of the Son himself, the Holy Spirit testifies of the Holy Spirit himself, it is not the Trinitarian we read in the Bible; however each testifying about another person.

You notice here, hypothetically, if Jesus were to testify of himself, surely his words are true, there can be nothing wrong, for He is Jesus. If we testify about ourselves, we can be inconsequential, we hide our weaknesses and failures, we exaggerate our strengths as much as we can, even more than the reality if that’s possible. Jesus could not have done that. However, in the Christian faith the problem is not only on the 'content' of his true testimony, but also on the 'who' gives the testimony. If Jesus had testified of Himself, the content must be true, but here Jesus said that the testimony was incorrect. Why? Because Jesus should not have testified about Himself.

In the first chapters we have already discussed that the setting in life of 'witness' is courtroom; Here it means that there is the accused (the defendant) and there are the witnesses. Therefore if Jesus testifies of Himself, then He is in the position of both the accused and the witness; If so, just be a judge too, because Jesus is the Judge, He would definitely win the case. But the Bible does not say that. Verse 31 is very relevant in our lives, because we ourselves do not escape from being talked about by the others, being gossiped by others, which is often wrong - then misunderstood, slandered, etc., and we are tempted to defend ourselves. We are tempted to testify about ourselves. If we then say the truth about ourselves, according to Jesus, it remains incorrect. We are not called to be witnesses of ourselves; We are called to be witnesses of Christ. The self-rotating personality is where one is the accused, but also defending his own self as well as becomes the judge himself -this is non-Trinitarian, not the personality of the Trinity but this is such a foreign personality that has nothing to do with the Trinity. And this is a sin. The rejection of the concept of the Trinity personality is a sin.

In the Bible, we see a very close connection between the knowledge of the Trinity and eternal life. If you read catechisms, including classic catechisms and Reformed confessions like Heidelberg, Belgic, Second Helvetic, Canons of Dort, Westminster, Geneva Catechism, written by Calvin, you can get many insights about the Trinity. The introduction of the Trinity is the basis of eternal life. If we do not know the Trinity God, according to the biblical concept we have no eternal life. The question is, how to know the meaning of Trinity? You have to be careful with the picture called formulae Christianity, which is just a formula, "O, my understanding of the Trinity is correct, not heretical, that is Una Substantia (one substance), Tres Personae (three persons)" then by thinking of saying 'one Substance, three persons' instantly saved; But if a person says 'one person, three substances', he/she could go to hell. This is what Christianity calls the formula. I am not harassing the Ecumenical councils that God blessed, not at all; But if you read the Bible, we will realize how limited the ecumenical councils are. There is so much more that is not discussed in the ecumenical councils, the Bible is very much deeper, wider, richer than that. There are many things that the great ecumenical councils can not accommodate, even in the great Reformed catechisms can not be accommodated, for the richness of the Bible is too much. If the sense of the Trinity becomes the basis of eternal life, then we should live the relationship as it does in the Trinity. If we refuse to live the concept of 'testifying about another person', is this not a rejection of the Trinity actually? Perhaps we keep saying "Una Substantia Tres Personae" but not living the movement that is in the Trinity, perhaps not even interested, we prefer to testify about ourselves, we become a self-rotating personal, a highly narcissistic personhood that does not have any relation with the Triune God, and we still insist on telling ourselves that we can enter heaven because we can speak the true Trinity formula. In my opinion, that is not faith in the Trinity.

In this passage we find Jesus teaching us not just saying the right phrase, but 'who' is saying it. When I speak of myself, it does not become right; Jesus is not called to be a witness of Himself, He is the witness of His Father. So in verse 32 it says "There is another who testifies of me". Let others talk about our good, we do not talk about our own good. It does not fit the concept of the Trinity. But we are usually very impatient, especially when we are being wrongly accused. God's tolerance is very long, and sometimes we feel impatient with God, not just with the person who slanders us. Yet God is sovereign, as well as He is sovereign when it is time for Him to resolve the misunderstanding. When Jesus rose, He did not resolve the misunderstanding of the Pharisees. Have you ever read, after Jesus is risen, He then went to Jerusalem to settle the issues with the same people who had wrongly accused Him? It is not written anywhere in Acts. Jesus handed over to His witnesses; His disciples became the witnesses of Him, and He then ascended into heaven. And then His disciples were also persecuted. People who were previously in the 'witness' position eventually they themselves were in the indicted positions; This is called Unio cum Christo (fellowship with the sufferings of Christ). You and I are called to live in this motion. That is to know Christ, that is to say we are united in the sufferings of Christ. In the Gospels and Acts of the Apostles there is not in any stories that Jesus being a witness for Himself, which is 'the other' to be a witness. You and I are also called not to be a witness for ourselves, because it is not a Gospel story but a story out of nowhere. In these circumstances, we learn to be shaped, to be sanctified, as well as our emotions, our concepts of time - when to wait in God.

Jesus handed, whether He is true or not, to His Father’s testimony, "there is another who testifies of me", then "and I know that the testimony He has given of me is true" (v. 32). Here the Indonesian translation from the Indonesian Bible Institute is very precise, the phrase 'the testimony given of Him' uses 'Him' in uppercase, which means the Father; Let God testify about us. How wonderful this verse is, we testify of God, the Lord also testifies of us. What does it mean? This does not mean that above God, there is a higher level and that is us - this is pervertedness - but if we live righteously, we do not need to testify - let God be the witness if we live righteously, God knows. But here I need to immediately add that the phrase "God knows" is sometimes comes out of the mouth of a self-righteous person, he is wrong but then does not want to be blamed and then says, "God knows". You and I can say "God who knows" just to justify ourselves, when God knows what else can we say. A person who is wrong, being rebuked, then he says “God who knows ", the real intention is for all of you not to judge me, the judgment comes from God, so shut up! '; This is a very arrogant person and then uses a phrase similar to the words of Jesus "the Father who testifies of me". Beware this sentence can be misused by the sinners like you and me. Sometimes God knows and rebukes us through the reprimands of others, we must be open to it. But when Jesus said this sentence, we know that He is absolutely right. "There is another that testifies of me and I know that His testimony about me is true", the Father testifies of Christ. In our lives, our most final character profiling comes from God, not from man. This does not mean that man absolutely has no right to judge us, but in essence we do not need to become agitated and anxious with the judgment from man, if we live the doctrine of the Trinity not just the formulaic Christianity. We have to follow Jesus, He handed that to His Father.

But in the next section we read there is also the testimony. The Father bears witness to Christ, that is enough. If the Father says, "This is My beloved Son, in whom I am pleased", that is enough, what else should be added? If the Father says, "My good and faithful servant, enter in your Master's happiness", If people want to criticized, not need to worry because God Himself has praised, that is enough. But why here, there is testimony from men, for instance, John the Baptist, whereas the Father's testimony of the Son should be sufficient? In verses 33-34 we read: “You have sent to John, and he has borne witness to the truth. Yet I do not receive testimony from man, but I say these things that you may be saved." Jesus did not need testimony from men. Likewise our life when God has judged, there is no need for human testimony because God's judgment can not be wrong, it does not need correction, can not be incomplete, can not be in the wrong perspective, and God sees everything. So when God testifies about us / says about our lives, yes, that's the final, the end. The Father is the witness for the Son, the Son himself is a witness to the Father, but here John the Baptist also bears witness to Christ, about the truth. Here Jesus immediately adds: "... but I do not need the testimony of man, but I say this, that you may be saved." What does that mean? Am I saved by the testimony of John the Baptist? Are we not saved because the sacrifice of Christ died for our sins on the cross? I believe this is interpreted in terms of the consistency of the theology of the Incarnation; The invisible God became a man, entered in a visible world, became flesh, and then witnessed by man in the visible world, i.e John the Baptist. Man can not always hear the invisible, not because the Father is not clear but because man is spiritually deaf and blind, can not see the testimony of the Father, John the Baptist is needed. This does not mean that John the Baptist is absolute, so that if he wasn’t there, the plan of salvation was ruined. God does not depend on anyone, but here, when it is said "that you may be saved" means that the plan of salvation does involve human witness, including your testimony and me. If we do not want to be witnesses, God certainly has a way so that the elect will come to Him. But God wants to use us, involving us to be witnesses, as John the Baptist was also involved in being a witness. The invisible enter into the visible world, then witnessed by those in the visible world, not just from heaven.

If you read the Gospels of Matthew, Mark, Luke, there are different perspectives. When Jesus was baptized, there is a perspective which shows that this is the Father's talk not to the Son, but rather an announcement which is at least addressed to John the Baptist or perhaps his disciples as well: "This is my beloved Son in whom I am well pleased". But if you read in another synoptic gospel there is a difference: "You are my beloved Son, in You I am well pleased". If we use this latter perspective, this passage is the Father's talk to the Son, no one should hear because of this conversation between the Father and the Son, the one who knows is the Son. If so, how anyone else can hear the voice of the Father in it? That is why there is another perspective, that this conversation can be interpreted as an announcement / proclamation.

Back in the first perspective, that is, the Father's talk with the Son - "You are my beloved Son, to You I am well pleased", who can hear the voice of the Father in this way? If in this perspective, it is only Jesus who can hear, therefore there’s a need for human testimony. The testimony of the Father is sufficient, final, no need to be corrected, but in order for you to be saved, the invisible God becomes flesh so you can see physically as well, so that you can touch and hold. Some also bear witness from the visible world - not the testimony of angels or saints in heaven all invisible - is that you can be saved; According to the biblical concept, the Incarnatory theology emphasizes on the human lives in the world here and now. Although Jesus did not need the testimony of men, Jesus is saying this so that you may be saved.

Calvin once said 'if we can not listen the teachings from the visible man, how can we receive the teachings from the invisible God? If we can not be educated by visible man, how can we be educated by an invisible God? ' It is similar to John's saying 'you do not love your visible neighbour, how can you love the invisible God', but then Calvin applies it in the teachings, leadership, and if I may add in testimony: if we can not hear the testimony of a human how do we receive the testimony from God? God gives these people so we are also blessed. If in the context of a husband and wife, a wife who can not submit to her husband, how will she submit to God? Likewise, a husband, if the husband does not love and sacrifice for his wife, how can he say he would sacrifice to the invisible Christ? It's the same problem. Therefore John the Baptist bears witness, which is from man. This is the beauty of the incarnation, Jesus became human and Jesus involved humans into his witnesses. This does not mean Jesus needs man; When Jesus entered Jerusalem, there was a verse that said that if people did not praise, stones would be used by God to praise God. To testify can use man - but not have to use man - but God wants to use men, so that we are saved.

Furthermore, John was described as a glowing lamp; Verse 35 "He was the burning and shining lamp and you were willing for a time to rejoice in his light.” It means that John the Baptist is the light - smaller than Christ, the true Light - and it should lead them to the Greater Light, but they are stagnant in that instant light. John the Baptist was the man that God used to prepare the way for the Messiah, so when one gets the light from John, he should come to the greater Light because John did point there, "Behold the Lamb of God that taketh away the sin of the world." One should continue to go on to the bigger Light, but the fact it is not, then it says 'you just want to enjoy the brightness for a time, he is like a burning lamp, but you do not come to the one indicated by John the Baptist'.

The metaphor of "light" is quite common in the Gospel of John rather than the synoptic gospels. It is the light that transcends the darkness, the glowing lamp. What does it mean? John the Baptist is like the light, he illuminated the world in darkness, that is sin. What is sin? In what way did John become light? The preaching of John the Baptist is little noted, short, but in his sermon we know what darkness meant. He talked about the hypocrisy of the religious leaders, the people who were hardly rebuked then there were those who were invited to suffice with the existing salary, do not extort. Hypocrisy, the sin of pride, the sin of greed, this is darkness. When John preached, he rebuked, preparing for the kingdom of God: "Repent, the kingdom of God is near". Here we must reflect again, what does the Kingdom of God mean? I am so afraid of formulae Christianity, you can use the word 'sin', 'Kingdom of God', 'God's will', and all the jargons that we all already know, but what does ie mean exactly? When we pray "your kingdom come”, what does that mean? People can be very much inconsequent, use as he likes it, his own understanding about this Kingdom of God. 'The kingdom of God when all I want is fulfilled'; Even though this has nothing to do with the Kingdom of God. 'The Kingdom of God means God works miraculously'; but that is not even the substance. Then 'the Kingdom of God is the greatness of Christianity that is increasingly becoming the majority religion', is that the Kingdom of God ?? When John the Baptist spoke of the Kingdom of God, what does it exactly mean? John the Baptist built the tradition of the Kingdom of God according to the prophets, therefore we must study the prophets to understand what John the Baptist and Jesus said about the Kingdom of God. Jesus also described the Kingdom of God in various parables, but John the Baptist did not explain; From him we only get a little picture that is not too complete, it is precisely he told his audience to investigate the holy books that have been there ages ago.

Cyrus, the last Persian king of exile, was a man used by God, anointed, to be the king worshiped by the King of kings, the Kingdom of God, not the kingdoms of Media-Persian, Syriac, etc.; to deliver the exiled Israelites from the presence of God so that they can enjoy His presence and build the Temple again. Then the Bible (Isaiah) records the word of God, Cyrus is called His Messiah ('His' here means God); In the original, Cyrus is the Messiah of God. Should not the Messiah be a descendant of David? But this gentile king? This is where, if we talk 'The Kingdom of God' there are many that are not acceptable. We want the Kingdom of God to be our church, and the Israelites used to think that way. The kingdom of God according to the Israelites yes, of course, the kingdom of Israel, but the fact was Cyrus. How could Cyrus be called a Messiah, it is not suitable, it is not acceptable, at least he should be an Israelite, better still descendants of David, descendants of Judah, whilst other tribe's descendants' not even be allowed, but why was it Cyrus? After all it is unclear this person's status if he was already saved or if he was the chosen one or not, how could he be involved in the work of God, how could he be included in the Kingdom of God ?? Then we are even more shocked because not only Cyrus, when Jesus spoke the parable of a sower, Satan who sowed the evil seeds was also part of the Kingdom of God. The sowing of the evil seeds belongs to the Kingdom of God, according to the concept of Jesus Christ. But according to our concept, all bad people should be cleared away, cleansed from the Kingdom of God; The question is which kingdom of God, according to whose concept, to whose understanding, because this does not fit the image of Jesus. The kingdom of God according to the image of Jesus is a war, in which there is also the work of Satan. So back to the Bible.

When John the Baptist became a light, a glowing lamp, he illuminated the darkness, the kingdom of God present in the midst of Israel. What does it mean? If we read Isaiah, it means that besides Cyrus, God can use the non-Israelites, the poor and the needy, who were preached good news, diaconia. All of that is included in the Kingdom of God. I am not teaching the social gospel, but in Acts diaconia is one of the most profound functions in the Church. Earlier we say, one of the sins that John the Baptist rebuked is the sin of greed, so if we are controlled by the sin of greed, there can not be diaconia; If we are being controlled by greed, miserliness, stinginess; how can we support God's work, then we still insist on being saved into heaven by being able to answer Una Substantia Tres Personae, Jesus with two natures - Divine nature and human nature - one person. This is really worrying with this model of Christianity who is playing this formula but is not interested in living the gospel. John the Baptist, why was he called as a lamp? What was the light of his life? It is that he rebuked the darkness which is in the heart of man, in your heart and mine, and invites us to enjoy the reality of the kingdom of God. Not being a discouraged person, excessively pessimistic simply because there is a job of Satan because Jesus has said it belongs to the Kingdom of God. We do not need to be startled, Jesus himself has taught like that. Do not lose hope in this picture because this is a very realistic depiction of the Kingdom of God, not a sterile picture. "He is a burning and shining lamp and you only want to enjoy the light momentarily", why? Because man prefers to stay in darkness, does not want to live in the light.

Jesus said: "But I have greater testimony than John’s, that of all the work which the Father has given me, that I might carry it out" (verse 36a). John the Baptist was a small light, and he obliterated the darkness in the context of his portion. Jesus is the great Light, the true Light, He also obliterates the darkness. This is the sin of man, living in darkness, not carry out the principles of the Kingdom of God, we are only building a network with the people who we think are profitable and not interested in the lives of other people who obviously can not repay anything. But if we follow the principle of the Kingdom of God, when you give to those who can not repay, the gift is more genuine, though we may still be genuine when giving to those who can repay. Not only financially, but may be only with a smile. When you smile to someone who does not like you and even look away, it hurts, but Jesus invites us to be in this reality. This is the reality of the Kingdom of God, not picky, not like and dislike, not selective fellowship. When we have Holy Communion, it is the Kingdom of God, all sinners are invited by Jesus, including the self-righteous Pharisees are invited. The story of the father who has two sons, the one who was lost at far away places and also the one who was lost at home, both were invited to enter the house again. Jesus’ table fellowship is not just with the youngest child but with the eldest son as well, that self-righteous person, including you and me. Jesus came with this light. This brightness is in stark contrast to the darkness that exists in the world. The darkness that exists in the world can not accept this, because the world always taught 'we do not have much time, so you have to choosy when making friends otherwise your time is up'. When Jesus came in the world, He demonstrated the meaning of living in the reality of the Kingdom of God. "The same work I am doing now, and it is that which bears witness to me, that the Father hath sent me" (verse 36b), the life of Christ reveals the life of the Father.

Verse 37 "You have neither heard His voice (the voice of the Father) at any time nor seen His form". If you read this verse, as if yes, that is so, the Father is invisible, He is in the unsealed light as James says, but that is not what is meant here. Notice again: "You have neither heard His voice (the voice of the Father) at any time nor seen His form. But you do not have His Word abiding in you" - this is all synonyms - "for you believe not the one whom He sent" . We should be able to hear the voice of the Father, the form we see clearly in Jesus Christ because Jesus said 'whoever sees me, he sees the Father' (not that Jesus is the Father but that Jesus is the perfect representation of the Father). Then why can one not hear the voice of the Father, why only the Son can hear it? That is because His word does not abide in us, because we do not believe in the Son who was sent by the Father. Jesus is the only way to the Father, if we do not accept the life of the Son we can not see the Father, there is no knowledge of God. No one can come to the Father, know the Father, or through the Son; according to the Bible.

What does the voice of the Father mean? That is in Scripture. The Father speaks through the Scriptures; His voice should be heard. But why do people read the Scriptures and still not hear the voice of the Father? Not because the Father can not be seen, not because only the Son has the access to the Father, but because the Word does not abide in us, because we do not believe in the Son. The word 'believe' is not to be interpreted in terms of formulae Christianity. If we just talk about formulae Christianity, at end we are only talking about the Credo (I Believe), then in it we say communio sanctorum (the communion of saints) but the saints we ourselves choose to suit ourselves. When Jesus lived the principle of this communion sanctorum, He opened the table to everyone.

Verses 39-40 "You search the Scriptures, for in them you think you have eternal life; and these are they which testify of Me. But you are not willing to come to Me that you may have life”. I read that when Jesus said this sentence, there was a background in Judaism; I took a quote from the famous Rabbi Hillel: “If a man has gain for himself words of the law, he has gain for himself life in the world to come”. Clearly there is a connection between words of the law and eternal life. And another from Rabbi Akiba: "God said: 'The word is not an idle thing for you (Deuteronomy 32:47), and if it is idle for you, why is it so? Because you do not know how to search it, for you do not energetically occupy yourself with it, for it is your life; When is it your life? When you exert yourself with it.” So when Jesus said 'You search the Scriptures, for in them you think you have eternal life” because that is exactly what the rabbis has taught. Jesus is not really being polemic with the teachings of the rabbis, but He wanted to say that searching Scriptures that way, without searching for the Person of Christ - where the Scriptures bear testimony of the Person of Christ-then you will not have the life.

Learning the Word of God, studying theology, etc. , If we do not meet the Person of Christ then there is no life. 'Follow Jesus, follow Jesus', what does that mean? What does it mean to preach the gospel? What is the Gospel? Perhaps you may preach the gospel of the formulaic Christianity again, for we ourselves are not interested in the life of the Trinity, we rotate within ourselves, talk about ourselves, defend ourselves, etc., and preach the gospel; The question is which gospel ?? Which life of Jesus? If we say we follow Christ, then we learn to participate in His life, just as the life that is in Christ. That is called preaching the Gospel, as well as with words. But if we preach and preach then we live another theory, not living the gospel but living in capitalism for example, not interested in diaconia and mercy, just talking about working hard for more and more success, then that is not the Gospel. You are not following Christ, you are joining others. That's an idol.

People often say, 'if you want to teach people, teach them while they are still young, they are more easily taught; The older they get, it’s more difficult to teach '. I do not believe in that statement; This is a wisdom from the world. If according to biblical principles, why do people not change? The answer is simple: because he does not meet Christ. When reading the word of God, there is no personal encounter with Jesus, so there’s no change. You can read as many theological books as possible, read the Bible as many times from Genesis to Revelation, but if there is no personal encounter with Jesus, nothing changes. "The scriptures bear witness of Me", not providing formulas. A person who has met Jesus, how could his/her life not be changed? In the Gospels, all who meet Christ are transformed, or rejected. If not love, yes, hate. No one met Christ then only ignore. The light is so dazzling for people living in darkness, it is impossible not to realize there’s the light. If there is light coming in and still not realizing too, yes, it is so outrageously dark, maybe God has blinded such people. But we hope it is not like this. I hope we are not the one who reject, but when we meet Jesus we are changed. It's not a matter of age.

When we read the Bible, when we listen to the sermon, at devotion time, when we read the theology book, the question is: Are you meeting the Person of Christ or not? Because the encounter with Christ personally will have to transform. No one can stand before the Person of Christ and just ignore Him; If there is no change then there is no personal encounter with Jesus Christ. And this personal encounter with Jesus Christ also means personal encounter with The Trinity, for Jesus is not a witness of Himself, He testifies of the Father, and in the Holy Spirit our eyes are opened to understand this. "The Scriptures bear witness of Me", which is a testimony of the Person of Christ, which leads to the introduction of the Trinity.

Let us learn in our lives to live this, because the personal encounter with God is a transforming encounter. The non-encounter with God makes us constantly live in the darkness. May God bless.

Translated by MTA