Summary 09 July 2017

 

Diberkati Untuk Menjadi Saluran Berkat (Yohanes 17:13-19)

Relay Khotbah 9 Juli 2017

Vik. Jethro Rachmadi

Hari ini saya akan berkotbah mengenai “misi”, satu tema yang harusnya sentral dalam hidup orang Kristen. Misi pada dasarnya adalah tentang mengutus, dan dalam bagian yang kita baca meski tidak ada kata ‘misi’ tapi bicara mengenai pengutusan itu. Kata ‘misi/mission’ dalam kamus hari ini pengertiannya biasa diterjemahkan sebagai mengirim orang untuk melakukan sesuatu. Tapi salah satu definisi kata ‘misi’ yang cukup tua adalah sebuah embassy/kedutaan besar, karena misinya jelas yaitu memberikan kebenaran mengenai negara yang diwakili kedubes tersebut, dan juga mungkin melawan berita-berita palsu yang tidak sesuai mengenai negara tersebut.

Aspek yang tidak kalah penting, khususnya dalam misi Kekristenan, bukan cuma membawa kebenaran tapi membawa kebenaran untuk satu tujuan tertentu yaitu mengasihi orang lain. Jadi misi dalam Kekristenan adalah kombinasi antara truth and love (kebenaran dan kasih). Ini sangat relevan, karena waktu berbicara mengenai misi/penginjilan seringkali pertanyaan atau halangan yang pertama muncul adalah: siapa saya --orang yang banyak halangan, kekurangan, ketidak-mampuan, dsb.-- sehingga saya boleh menginjili?? Atau mungkin orang yang kita injili bertanya seperti ini: siapa kamu sehingga kamu mau bicara mengenai Allah bagi saya?? Tapi pengertian misi tidak pernah mengenai diri kita sama sekali, melainkan mengenai kebenaran dan kasih kepada orang lain. Satu contoh sederhana tentang kombinasi antara truth and love, misalnya seperti ini: Truth-nya bahwa di jalan sekian di Kelapa Gading ada rumah makan bakmi yang enak. Kalau Saudara hanya memiliki kebenaran ini, Saudara tidak akan menjalankan misi; tapi karena Saudara mengasihi teman Saudara, Saudara mengatakan kepada dia, “Tau ‘gak, ada resto bakmi di situ yang super enak”. Kalau cuma ada truth, tidak ada love, tidak akan ada misi; di sisi lain kalau cuma ada love tanpa ada truth, juga tidak akan ada misi. Misi adalah ketika dua hal itu menjadi satu, dan dalam bagian ini sama sekali tidak ada consideration mengenai diri kita. Waktu Saudara tahu ada resto bakmi yang enak dan Saudara mengasihi orang lain, Saudara tidak akan tanya dulu mengenai diri ‘saya ini memangnya koki yang sekualitas apa sehingga saya boleh mengabarkan cerita mengenai bakmi yang enak, selera orang ‘kan lain-lain??’ dsb.; itu tidak jadi faktor ketika ada truth and love. Itulah misi. Kalau Saudara memulai misi dengan pertanyaan tentang diri seperti yang kita bicarakan tadi, itu bukan awal yang benar. Misi is not about you, misi is about the truth dan orang lain yang Saudara kasihi. Ini hal yang pertama.

Jadi apa persisnya yang dinamakan misi orang Kristen? Waktu dikatakan bahwa kita mempunyai misi ke dalam dunia, artinya kita membawa apa? Kebenaran/truth apa yang kita bawa? Yoh 17:4 Tuhan Yesus mengatakan: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya”. Misi Tuhan Yesus adalah mempermuliakan Bapa; memperlihatkan kemuliaan Bapa kepada dunia. Memperlihatkan kebenaran ini kepada dunia adalah sesuatu yang mengasihi dunia, karena inilah hal yang dunia paling perlukan. Hari ini dunia penuh dengan segala macam problem, dan kita mengatakan bahwa Gereja perlu meresponi hal-hal ini --tentang kesenjangan sosial, radikalisme, dsb.-- sedangkan soal kemuliaan Allah itu terlalu abstrak, terlalu di awang-awang untuk dipikirkan. Tapi tidak ada satu hal pun yang lebih praktis daripada kemuliaan Allah, dan inilah yang diperlukan seluruh dunia, karena semua problem yang kita lihat adalah lahir dari problem tentang kemuliaan Allah, yaitu karena dunia tidak melihat kemuliaan Allah.

Kata ‘kemuliaan’ dalam bahasa Ibrani kabod, diambil dari kata kabad yang artinya berat, berbobot. Kemuliaan dalam konsep Perjanjian Lama adalah sesuatu yang berbobot - bukan ringan, sesuatu yang substansial - bukan remeh, sesuatu yang kekal - bukan sementara; sesuatu yang nilainya besar. Contoh batu dan air, mana yang lebih berbobot? Kalau batunya lebih berbobot daripada air yang melewati batu tersebut, maka air yang akan bergeser. Tapi kalau air yang lewat besar sekali volumenya sehingga massanya lebih besar daripada batu itu, maka batu yang bergeser. Bobot sangat menentukan prioritas kita, oleh karena itu isu kemuliaan sangat praktikal. Contoh lain, Saudara diperhadapkan dengan pilihan di satu sisi untuk jujur bayar pajak atau di sisi lain sedikit akal-akalan sehingga bisa save beberapa ratus juta, bagaimana memutuskannya? Ini bukan keputusan mengenai uang, ini keputusan mengenai kemuliaan, mengenai hal apa yang lebih berbobot bagi Saudara. Kalau Saudara memilih akal-akalan, berarti uang lebih berbobot daripada kejujuran bagi Saudara. Kalau Saudara memilih jujur, berarti kejujuran lebih berbobot dibandingkan uang. Dalam pertanyaan yang sangat sederhana seperti ini saja, kemuliaan sudah merupakan isu yang sangat praktis. Mengapa manusia hari ini banyak kehancuran? Karena mereka menempatkan hal-hal yang tidak sepantasnya --yang tidak berbobot, yang bukan bobot sejati itu-- di tempat yang paling berbobot. Oleh karena itu misi orang Kristen adalah memberitakan kemuliaan Tuhan, karena inilah yang paling praktis, yang paling fundamental. Tidak ada isu yang lebih praktis, lebih fundamental, daripada isu bobot ini.

Mungkin kita sudah banyak tahu misi itu memberitakan apa, tapi yang kita tidak sadar adalah hasil dari misi. Efek dari misi bisa kita lihat dalam bagian Yohanes 17 ini. Ketika Tuhan Yesus mengatakan tentang ‘Allah Bapa’, yaitu Dia tidak cuma mengatakan sebagai ‘Bapa’ melainkan ‘Bapa yang mengutus Aku’. Ini muncul di sepanjang kitab Yohanes, paling tidak ada di 7 tempat (pasal 5, 6, 8, 12, 17, dan 20). Tuhan Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai seorang yang on a mission, dan misi-Nya adalah memutar-balikkan dosa kita. Dosa kita adalah: kita menempatkan diri di tempat Allah; pembalikannya adalah: Allah menaruh diri di tempat kita. Manusia mengambil yang seharusnya hanya menjadi milik Allah, yaitu kemuliaan; tapi Allah meresponi itu dengan mengambil yang harusnya hanya jadi milik manusia berdosa, yaitu penghukuman. Ketika Tuhan Yesus mengatakan “Bapa mengutus Aku untuk melakukan ini”, kira-kira seperti ini: Bapa mengatakan kepada Yesus, ‘Misi-Ku bagi-Mu adalah Kamu akan menderita, akan dihukum, dianiaya, oleh karena sesuatu yang bukan salah-Mu; apa jawab-Mu?’; dan reaksi Tuhan Yesus adalah bersukacita. Ibrani 12:2 dikatakan: ‘Yesus dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia’. Hasil akhir dari misi Kristus adalah sukacita. Ini yang seringkali kita tidak sadar. Dan ini tidak berhenti pada misi Kristus saja, karena Tuhan Yesus sendiri mengatakan: “Sebagaimana Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu”. Misi kita mempunyai pola dari misi Kristus, maka hal yang sama juga akan berlaku bagi kita. Pengutusan yang Tuhan Yesus katakan di ayat 13: “Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini --mengenai misi-Ku ini-- sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka”, artinya hasil dari misi adalah sukacita.

Implikasinya, kalau hari ini hidup kita kurang sukacita, itu karena hidup kita kurang misi. Ini berita Alkitab. Saudara dicipta untuk diutus, diselamatkan juga untuk diutus. Maka kalau Saudara tidak menghidupi kehidupan yang bermisi, hidupmu jadi tidak terlalu hidup. Dalam hidup kita jelas sekali hubungan antara sukacita dengan pengutusan. Contohnya kita melihat pada anak kecil, dongeng yang mereka paling sukai adalah cerita tentang orang yang terutus, tentang pahlawan yang terutus, yang berjuang mengalahkan musuh, dan akhirnya menyelamatkan dunia. Dan bukan cuma anak kecil yang menyukai film seperti itu, tapi kita juga. Genre film yang paling menarik biasanya film petualangan --dalam bahasa Inggris dibedakan antara kata ‘adventure’ dan ‘quest’-- dan yang lebih disenangi orang biasanya bukan adventure tapi quest. Kalau adventure itu Saudara pergi/berpetualang karena mau atau memang ingin pergi; sedangkan quest berarti Saudara pergi bukan karena mau melainkan itu semacam paksaan yang diberikan kepada Saudara karena satu situasi. Contohnya film yang dibuat Tolkien yaitu The Hobbit dan Lord of The Rings. The Hobbit adalah cerita adventure karena si Bilbo memang berkeinginan untuk pergi, sedangkan dalam Lord of The Rings bukannya Frodo ingin pergi tapi dia harus pergi, terutus untuk pergi, quest itu diberikan kepada dia untuk mengalahkan Sauron. Cerita seperti Lord of The Rings ini akhirnya lebih epik, lebih disukai orang, lebih populer dibandingkan The Hobbit. Itulah kisah yang kita senangi, ada hubungan yang jelas antara sukacita dengan pengutusan.

Anak kecil kalau ditanya “nanti sudah besar mau jadi apa?” biasanya mereka bilang mau jadi presiden, pilot, dokter, dsb., peran-peran yang berpengaruh dalam masyarakat, yang heroik, yang terutus, yang punya visi, yang melakukan sesuatu lebih besar dalam hidup mereka, yang membuat perbedaan dalam masyarakat. Dan ketika mengatakan itu, mata mereka penuh sukacita. Mengapa anak kecil bisa melihat masa depan hidup mereka dalam kerangka misi, sedangkan kita tidak? Bagaimana dan kapan kita kehilangan hal itu? Kita mungkin menganggap anak kecil itu tidak tahu realita dunia, tapi jangan-jangan mata kita yang sudah tertutup, kita tidak hidup dengan misi karena hari ini kita menghidupi ‘diri kita yang paling tinggi, tidak ada yang lebih besar dari itu’, kita menghidupi kehidupan yang tidak ada apapun lebih berbobot dan lebih tinggi daripada kebahagiaan saya secara individual. Ini yang menghancurkan misi.

Tentara-tentara yang pulang dari medan perang, seringkali tidak tahan berada di rumah, mereka ingin kembali ke medan perang. Mengapa? Apakah karena di sana aman? Apakah karena di sana mendapat gaji besar? Tidak. Tapi karena di sana mereka menemukan artinya jadi orang yang punya misi, dan ini sesuatu yang tidak tergantikan. Meski hal itu meresikokan nyawa mereka, meski mereka harus melihat teman-temannya mati, mereka tetap ingin kembali. Bukan karena di sana hidup mereka paling tinggi, tapi justru karena di sana mereka mendapatkan sesuatu yang lebih besar, lebih penting, lebih berbobot daripada diri mereka. Justru di situ mereka mendapatkan sukacita.

Mengapa hidup kita kosong sukacita? Mengapa hari ini kita menghancurkan misi? Karena kita mengatakan ‘tidak ada satu perkara yang lebih tinggi daripada kebahagiaanku, nyawaku’. Itulah yang membuat hidup kita tidak ada sukacita. Orang yang tidak bermisi atau misi hidupnya hanya hartanya, kenyamanannya, kebahagiaannya, hidupnya akan kosong. Tiga puluh atau empat puluh tahun pertama kita masih bisa punya alasan hidup terasa kosong karena belum punya ini dan itu, nanti kalau sudah punya uang, punya pacar, punya anak-anak yang baik, kesuksesan, karir, dsb. hidup tidak akan kosong. Tapi banyak orang sampai mati tidak sadar dan masih hidup di situ-situ terus, hidupnya tetap sama kosongnya. Selebriti-selebriti dari negara Barat berbondong-bondong ke Timur mencari spiritualitas, mengapa? Karena hidup mereka terasa kosong, semua harta yang dimiliki makin membuat mereka sadar hidupnya kosong. Orang yang miskin merasa tidak bahagia karena dirinya tidak sekaya orang lain. Orang yang lumayan berada pun tidak bahagia karena dia tahu kekayaan tidak membantu untuk hal ini.

Waktu kita hidup bagi diri kita, memang bukan berarti kita tidak mencari kenyamanan bagi orang lain, bukan berarti kita tidak memberikan uang untuk orang lain, tapi kita tidak pernah menempatkan kenyamanan orang lain di atas kenyamanan kita. Itu yang jadi permasalahan. Waktu Saudara mengeluarkan uang bagi orang lain, pernahkah sampai Saudara merasa pengeluaran tersebut tidak nyaman bagi Saudara? Waktu kita mengasihi orang lain, pernahkah sampai kita membahayakan reputasi kita sendiri? Satu contoh, ada jemaat cerita kepada saya tentang  sesuatu yang tidak beres dalam pembagian konsumsi, yang dilakukan oleh seseorang, tapi dia tidak mau memberitahukan nama orang itu karena menurutnya itu berbahaya bagi dirinya, nanti dianggap tukang mengadu, hubungan jadi tidak enak, dsb. Orang seperti ini tidak rela meresikokan dirinya demi Gereja ada perbaikan. Tapi sebenarnya kita semua seperti itu, ujungnya adalah ‘kenyamanan saya nomer satu’, itu yang tidak boleh dilanggar. Kalau benar kita ini orang-orang yang bermisi, itu berarti Saudara punya sesuatu yang lebih besar daripada diri Saudara sehingga Saudara lupa dengan diri, tidak terlalu peduli apakah cukup qualified atau tidak, lalu tetap ingin memberikan karena ujungnya adalah mengenai truth dan love. Contoh lain dalam diskusi penatalayan ibadah seringkali banyak ‘titipan’, misalnya saya tidak bisa pelayanan yang ini atau yang itu, dsb. lalu minta supaya jadwal diatur sedemikian rupa. Memang tentu tiap orang ada keterbatasan, tapi pernahkah kita rela sekali-sekali melepaskan diri dari keterbatasan itu, keluar dari kenyamanan kita? Ini baru satu perkara kecil, perkara internal di gereja, dan kita seringkali tidak lulus, bagaimana dengan perkara besar menjadi berkat bagi Kelapa Gading, Jakarta, Indonesia? Dan ironis, inilah yang membuat hidup kita tidak ada sukacita.
Ketika tidak ada yang lebih tinggi daripada kebahagiaan kita, itulah saatnya kita kehilangan kebahagiaan. Ketika tidak ada yang lebih tinggi daripada nyawa kita, itulah saatnya kita merasa hidup kita tidak hidup. Orang-orang muda hari ini adalah generasi yang amat sangat berlimpah entertainment, and yet mereka adalah generasi yang paling cepat bosan. Hal yang sama juga berlaku bagi kita. Semua manusia perlu misi. Misi adalah hidup bagi sesuatu yang lebih penting, lebih besar, lebih berbobot, daripada hartamu, kenyamananmu, kebahagiaanmu, bahkan nyawamu. Ironis ketika kita melebih-lebihkan signifikansi kita, itulah saatnya hidup kita kehilangan signifikansi. Ini sebabnya Kristus telah mengatakan, “Kamu mengutamakan nyawamu sendiri, kamu akan kehilangan nyawamu; tapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, justru akan mendapatkannya”. Kalau Saudara mau mendapatkan diri Saudara, caranya adalah menyerahkan diri Saudara. Itu logika Alkitab, dan seringkali tidak kita hidupi. Inilah sebenarnya hasil dari misi yang Tuhan janjikan bagi kita.

Ketiga, dari mana kita mendapatkan kuasa untuk bisa memiliki hidup yang bermisi? Kristus mengatakan “sebagaimana Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu”, maka pola bermisi kita mengambil dari pola bermisi Kristus. Kristus bermisi karena Dia bertemu dengan Allah Bapa, memiliki persekutuan dengan Allah Bapa; maka kalau kita mau bermisi, kita bertemu secara pribadi dengan Kristus, punya pengalaman bersama Dia. Tapi yang menarik, itu berarti bahwa ketika Saudara belum diutus keluar, ketika Saudara tidak menghidupi misi dalam hidup Saudara, itu berarti Saudara belum bertemu dengan Tuhan. Itu prinsipnya. Jika Saudara merasa Kekristenanmu adalah bagi diri dan bukan bagi orang lain, maka sesungguhnya Saudara belum bertemu dengan Allah. Alkitab penuh dengan pola ini: Saudara tidak pernah bertemu dengan Tuhan hanya untuk dirimu, Saudara bertemu dengan Tuhan selalu untuk diutus keluar. Tuhan hanya menarikmu ke dekat-Nya untuk kemudian melempar jauh. Tuhan hanya menarikmu ke dalam untuk mengutusmu keluar.

Abraham dipanggil Allah, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, membuat namamu masyhur”, tapi sebelum kalimat itu selesai, Allah mengatakan, “dan engkau akan menjadi berkat”. Lalu setelah Allah mengatakan seperti itu, Allah menyuruh Abraham keluar dan Ibrani 11 mengatakan: ‘Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui’. Prinsipnya adalah orang dipanggil ke dalam untuk diutus keluar; tidak pernah tidak seperti itu. Allah tidak pernah memberkati Saudara kecuali membuat Saudara menjadi saluran berkat bagi orang lain. Cara untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain adalah keluar dari comfort zone, dari kenyamanan dan keamanan. Dan setelah Abraham keluar, dia tidak pernah kembali ke Ur Kasdim. Inilah beda antara adventure dan quest. Dalam adventure The Hobbit judul ceritanya adalah “There and Back Again” (ke sana dan kembali); tapi cerita Lord of The Rings ketika semua sudah selesai, Sauron sudah kalah, ring-nya sudah hancur, para hobbit itu kembali ke Shire namun mereka tidak pernah bisa hidup sama seperti sediakala. Waktu mendengar bunyi terompet, mereka teringat suasana pertempuran yang pernah mereka alami. Waktu minum bir, bir itu jadi sesuatu yang tidak lagi manis buat mereka. Mereka tidak pernah benar-benar kembali. Itulah quest, itulah panggilan Kekristenan, itulah misi. Saudara keluar dan mungkin tidak pernah kembali lagi ke dalam comfort zone Saudara, itulah agenda yang Tuhan berikan. Panggilan yang Tuhan berikan kepada Abraham itu radikal, ya, memang Aku akan memberkatimu, membuat namamu masyhur, tapi itu untuk membuat engkau keluar, menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Dalam Yes 6, Yesaya datang ke Bait Allah waktu hari Sabat untuk beribadah seperti biasanya. Lalu tiba-tiba dia kaget luar biasa dan teriak “Celakalah aku!” Mengapa? Karena nampaknya --sama seperti kita-- waktu Yesaya beribadah, dia tidak sangka akan bertemu Tuhan. Waktu kita ke Gereja seringkali kita juga tidak berharap untuk bertemu Tuhan, Tuhan mungkin adalah orang terakhir yang kita harapkan hadir di kebaktian. Dan ketika Dia hadir, Yesaya super kaget, lalu semua insecurities-nya keluar, dia teriak, “Celakalah aku orang yang najis bibir, tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir”. Lalu Allah menyuruh malaikat mengambil bara dari mezbah, menyentuhkannya ke bibir Yesaya. Ini mengantisipasi karya Kristus, karena mezbah korban bakaran mengantisipasi Kristus yang dikorbankan bagi kita. Itu menguduskan Yesaya, keselamatan yang Tuhan berikan bagi Yesaya. Lalu apakah ceritanya selesai di berkat itu? Tidak. Allah lalu bertanya, “Siapa yang mau Aku utus?” dan lagi “Saya akan utus dia untuk berkotbah ke orang-orang yang tidak akan dengar kotbahnya”. Yesaya tidak minta waktu pikir-pikir dulu, tapi dia mengatakan “saya akan pergi”. Jadi mengapa Tuhan memperlihatkan diri-Nya kepada Yesaya? Terutama bukanlah untuk memberikan bara itu, tapi untuk mengutus dia, sedangkan bara itu hanya jalan/cara/ means-nya, bukan yang terutama. Hari ini kita menganggap Alkitab itu bicara mengenai Allah menciptakan manusia, manusia jatuh ke dalam dosa, Allah menyelamatkan manusia, manusia selamat, the end, happy ending forever and ever. Tapi tidak seperti itu. Ceritanya bukan berakhir di situ, itu adalah awal kisahnya. Penyembuhan yang Tuhan berikan kepada Yesaya itu sepaket dengan pengutusannya.

Maju ke Perjanjian Baru, Gabriel mengatakan kepada Maria, “Jangan takut hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah”. Kasih karunia-Nya adalah bertemu dengan Tuhan, bahkan mengandung dan membesarkan Tuhan. Lalu apa lanjutannya? Maria harus keluar. Keluar dari komunitasnya karena dia jadi dikucilkan (Tuhan Yesus disebut anaknya Maria, bukan anak Yusuf, itu berarti anak di luar nikah), keluar dari tempat tinggalnya ke Mesir karena dikejar-kejar Herodes, keluar dari comfort zone-nya melahirkan di kandang binatang yang tidak ada pemisahan dengan kuman-kuman. Yang lain lagi, kepada Petrus dan para murid Tuhan Yesus mengatakan, “Datanglah, Aku akan menjadikan kamu penjala manusia”. Penggambaran sebagai nelayan ini menarik, karena nelayan meninggalkan daratan yang stabil lalu masuk ke lautan yang tidak bisa diprediksi. “Datang, untuk Aku utus keluat”, semua ini mengantisipasi pelayanan Kristus sendiri.

Kata ‘berkat’ dalam bahasa Indonesia kita menganggapnya sesuatu yang datang dari atas ke bawah, seperti Tuhan memberkati kita, orang yang lebih besar memberkati orang yang lebih di bawah, dst. Tapi kata ‘blessing’ sebenarnya bisa dan bahkan lebih cocok dimengerti sebagai dari bawah ke atas. Dalam bahasa Inggris ada istilah tentang kita bless God, yang memang harusnya seperti itu --orang-orang yang membawa blessings kepada Tuhan-- karena Allah tidak ada obligasi sama sekali untuk memberkati kita, yang ada adalah kita harusnya yang membawa berkat-berkat kepada Dia. Itu yang lebih tepat, tapi kita juga tahu ini bukan yang kita baca. Sejak awal Allah kita adalah Allah yang memberkati, yang memberikan, bukan cuma dalam keselamatan tapi bahkan sejak penciptaan. Allah kita sudah secure di surga dengan ketritunggalannya, dengan komunitasnya; Allah Tritunggal tidak perlu kita untuk dicintai, Allah Tritunggal itu sudah paling sempurna, saling memuliakan, saling pengertian, saling membagi kekuasaan, saling mengalah, dsb. And yet, Dia keluar dari comfort zone-Nya, Dia komit menciptakan suatu ciptaan yang Dia berikan untuk ada resiko melawan diri-Nya, yang membuat Dia satu hari bisa mengatakan “hati-Ku pilu melihat kejahatan manusia”.

Untuk apa dalam baptisan Tuhan Yesus ada proklamasi “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan”, Allah Bapa yang menarik Dia begitu dekat? Yaitu untuk keluar, karena di akhir hidup-Nya Tuhan Yesus berteriak “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Mendekat, untuk keluar. Tuhan Yesus tidak pernah mendapatkan berkat hanya demi mendapatkan berkat bagi Dia, tapi Dia mendapatkan berkat untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Mujizat yang Kristus lakukan tidak pernah tujuannya untuk show off diri-Nya, mujizat selalu diberikan untuk kelepasan dari suatu problem --sakit penyakit, lumpuh, dirasuk setan, dst. Itu semua dilakukan untuk jadi saluran berkat bagi orang lain. Dan bukan cuma itu, setiap kali melakukan mujizat Dia meresikokan diri-Nya, semakin banyak Dia melakukan mujizat, musuh-musuh-Nya semakin mengancam Dia. Waktu Dia menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan, Dia mengatakan “ada kuasa keluar daripada-Ku”, dan wanita itu sembuh. Ada unsur substitusi di sini, karena Yesus menjadi lemah maka wanita ini jadi kuat. Waktu Dia membangkitkan Lazarus, itu adalah titik ketika musuh-musuh-Nya bersatu dan mengatakan “sekarang kita harus bunuh Dia”, sebelumnya tidak ada, mereka hanya tidak suka. Maka ini berarti ‘karena Engkau telah mengeluarkan orang dari kubur, kami akan memasukkan Engkau ke dalam kubur’. Inilah substitusinya. Itulah yang Tuhan kita lakukan. Dia tidak pernah mendapat berkat, kuasa, kemuliaan, mujizat, dsb. untuk diri-Nya, Dia hanya melakukannya untuk menjadi saluran berkat keluar. Gereja pun dipanggil untuk menjadi demikian.

Waktu Tuhan Yesus akan naik ke surga dan murid-murid bersama Dia terakhir kalinya, mereka bertanya: “Tuhan maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Lalu jawaban Tuhan Yesus: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu,... . Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Ini artinya keluar. Kesalahan kita hari ini adalah kita berpikir bahwa Alkitab berbicara mengenai keselamatan kita, kita tidak pernah berpikir bahwa Alkitab berbicara mengenai Kerajaan Tuhan; pokoknya Tuhan menciptakan, manusia jatuh, Tuhan menyelamatkan, lalu selamat, tidak ada gambaran Kerajaan atau kita harus memperjuangkan kerajaan bagi Tuhan di situ. Oleh karena itu kita selalu berpikir ‘saya dan Tuhan, urusan pribadi, saya selamat’. Tapi murid-murifd Tuhan Yesus tidak demikian, mereka sangat peka bahwa 2/3 Alkitab bicara mengenai kerajaan Israel dan itu berujung pada seluruh bangsa-bangsa di bumi membawa upeti kepada raja Israel, maka mereka menanyakan kalimat tadi.

Tujuan dari keselamatan/karya Kristus tidak pernah hanya untuk kita lalu kalau kita keluar itu sekedar suatu pilihan. Justru yang bukan pilihan sama sekali adalah bahwa kita keluar dan menjadi saksi Tuhan; itulah objektif Gereja sejak awal. Dan Saudara lihat dalam cerita-cerita berikutnya, di Kis 8 mulai terjadi penganiayaan yang hebat dan oleh sebab itu jemaat, kecuali para rasul, harus kabur dari Yerusalem. Tapi di ayat 4 pasal 8 dikatakan bahwa mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri sambil memberitakan Injil. Inilah gambaran Gereja di dalam Alkitab, yang bukan seperti kita pikirkan. Kita ingin dalam Gereja ada beberapa orang yang kuat yang jadi provider-nya dan sisanya menjadi consumer. Tapi gambaran Gereja yang diberikan Alkitab adalah Allah memakai penganiayaan untuk mengubah Gereja. Tadinya rasul-rasul merupakan provider-nya dan jemaat Yerusalem consumer-nya, tapi setelah penganiayaan mereka tersebar sehingga justru di situlah semua anggota Gereja menjadi provider bukan cuma consumer. Mereka semua menginjili, semua keluar, semua menjalankan pekerjaan itu. Inilah visi gerakan. Kita seringkali menganggap Gereja adalah satu komunitas yang self contained, tapi konsep Gereja dalam Alkitab lebih dekat kepada ‘gerakan’. Dalam gerakan, semua orang adalah pemimpin meski tetap ada ordo, semua orang sampai tingkat akar rumput bergerak, dan dalam kisah ini mereka bisa sampai begitu karena ada penganiayaan.

Bukan hanya pada Gereja mula-mula tapi di sepanjang sejarah, Gereja yang ada revolusi dari jemaat consumer menjadi jemaat provider yang keluar/yang bermisi, itu hampir selalu lewat penganiayaan. Gereja di Cina tentu dimulai dari misionaris Barat, tapi ledakan Injil yang besar di sana baru terjadi setelah semua misonaris Barat ditendang keluar oleh pemerintah komunis. Mereka pikir inilah akhir Kekristenan di Cina. Tapi apa yang terjadi? Tadinya orang-orang Barat itu provider-nya dan orang-orang Cina consumer-nya, tapi karena penganiayaan ini maka akhirnya orang-orang Cina tersebut menjadi people of the mission. Mereka mulai menginjili. Orang-orang Barat menginjili dengan cara-cara Barat, tapi setelah mereka diputus Injil lalu meledak karena orang-orang Cina ini menginjili  dengan cara yang juga Chinese; Injil jadi sesuatu yang masuk ke dalam budaya. Itu sebabnya Tertullian punya kutipan “The blood of the martyrs is the seed of the church” (darah dari kaum martir adalah bibit Gereja).

Kebahayaan terbesar yang kita bisa alami dalam Gereja bukanlah persekusi tapi toleransi. Sadarkah Saudara akan hal itu? Tanyalah pada diri Saudara, apa misimu, siapa yang menjadi misimu.


Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)