Summary 20 Aug 2017

 

Akulah Roti Hidup (Yohanes 6:22-40)

Khotbah 20 Agustus 2017

Pdt. Billy Kristanto

Dalam eksposisi Injil Yohanes ini kita akan melewati bagian-bagian yang ada paralelnya di Injil sinoptik dan berkonsentrasi pada materi-materi yang ada dalam Injil Yohanes saja (Johannine special material). Jadi kita melewati perikop “Yesus memberi makan lima ribu orang” yang sudah pernah dibahas dalam Injil Lukas, perikop  “Yesus berjalan di atas air” yang ada paralelnya di Injil Matius dan Markus, lalu masuk ke ayat 22-40 dari pasal 6.

Di sini ada konteks tersendiri, yaitu kaitan antara Yesus berjalan di atas air --yang merupakan suatu mujizat-- dengan pertanyaan yang timbul dari orang-orang setelah tahu Yesus tidak berangkat bersama murid-murid-Nya namun bisa berada di tempat yang sama (ayat 22-24). Dari gambaran ini terlihat bahwa mereka orang-orang yang antusias, mereka mencari Yesus, tapi pertanyaannya: mencari dalam pengertian bagaimana? Apakah iman itu sekedar mencari Yesus? Apakah iman sekedar menyebut nama Yesus? Kalau memang begitu, artinya mereka ini orang-orang yang percaya, tetapi mengapa Yesus mengatakan mereka orang yang tidak percaya? Ada hal yang kita bisa belajar mengenai arti kata ‘percaya’ menurut konteks Yohanes 6 ini.

Di ayat 25, orang banyak menemukan Yesus di seberang laut sementara tadinya mereka sudah mengejar ke tempat lain dan Yesus tidak ada di sana, dan pertanyaan yang muncul adalah: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Pertama, mereka melihat Yesus hanya sebagai rabi yang berarti guru --sebutan yang tidak terlalu jelek karena menujukkan bahwa setidaknya mereka mau diajar oleh Sang Rabi ini-- selanjutnya, mereka bertanya ‘bilamana’ (kapan/when). Pertanyaan ‘bilamana’, di saat-saat tertentu bisa menjadi pertanyaan yang penting, menunjukkan orang itu sangat peka waktu, mengerti artinya kairos-nya Tuhan. Tapi mungkin juga pertanyaan ‘bilamana’ ini menjadi pertanyaan yang salah, yang tidak perlu ditanggapi oleh Tuhan, bahkan pertanyaan ini juga bisa muncul dari orang yang tidak peduli akan waktu Tuhan namun tetap bertanya ‘kapan’. Ada tafsiran yang mengatakan bahwa di bagian ini sebenarnya pertanyaan yang lebih baik bukan ‘bilamana/kapan’ melainkan ‘koq bisa Engkau ada di sini’, karena itu akan membawa kepada realita Yesus berjalan di atas air. Orang-orang ini terkejutnya masalah waktu, ‘koq cepat juga Kamu ada di sini, kita baru saja sampai, kapan memangnya Kamu sampai?’; mereka tidak tanya ‘bagaimana’, yang harusnya bisa membawa kepada penjelasan yang lebih baik tentang itu. Tapi memang cerita “Yesus berjalan di atas air” ini nampaknya bukan untuk mereka; yang belajar sesuatu di sini adalah murid-murid-Nya, sedangkan orang-orang ini tidak mendapatkan pengajaran dari ‘Yesus berjalan di atas air’ --setidaknya demikian menurut Yohanes. Lalu apa yang mereka dapatkan?

Kalau Saudara perhatikan jawaban Yesus Kristus, Saudara akan mendapati yang seharusnya jadi pertanyaan, yaitu bukan pertanyaan mereka terhadap Yesus melainkan pertanyaan Yesus terhadap mereka. Yesus mengatakan “sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda ”, di sini mereka tanya ‘bilamana/kapan’ dan Yesus jawab soal ‘mengapa’ --mengapa kamu mencari Aku-- dan dijawab langsung juga oleh Yesus yaitu bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda. Alasan mencari Yesus, itu penting sekali menurut Alkitab, bukan sekedar fenomena mencari Tuhan atau mencari Yesus. Kalau dalam pengertian sekedar fenomena mencari Tuhan, semua agama bagaimanapun juga memang mencari Tuhan tapi Alkitab mengatakan “tidak ada seorang pun yang mencari Allah”. Ada perbedaan antara orang beragama --termasuk orang beragama Kristen-- dengan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Orang datang beribadah, minta kesejahteraan, kelancaran, supaya dagang diberkati, anak bisa lulus sekolah, bisa dapat pekerjaan; inilah agama. Memang tidak salah dengan itu, setidaknya tidak berdoa kepada setan tapi kepada Tuhan, tapi kalau menurut Yesus ‘kamu tidak mencari Aku sebetulnya, kalaupun kamu mencari Aku, kamu mencari bukan karena telah melihat tanda-tanda melainkan kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang; kamu dipuaskan secara fisik, itulah alasan kamu mencari Aku’.
“Kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda” (ayat 26), apa maksudnya? Maksudnya adalah mujizat itu.  Lima roti dan dua ikan lalu 5000 orang kenyang, itu ‘tanda’; tanda yang menunjuk kepada Pribadi Yesus “Akulah Roti Hidup” melalui roti yang kelihatan. Tanda menunjuk kepada yang ditunjuk oleh tanda, kalau mereka melihat tanda maka mereka akan melihat yang ditunjuk oleh tanda, tapi di sini bahkan tanda-nya pun mereka tidak lihat. Mereka betul-betul hidup di dalam kegelapan. Kalau orang sungguh-sungguh mempunyai high view akan ‘tanda’, maka dia akan menghargai tanda itu sedemikian rupa dengan menjadikan ‘tanda’ itu berfungsi pada dirinya, yaitu menunjuk pada yang lain yang bukan tanda itu sendiri. Kalau seorang sedemikian menghargai foto Saudara --yang adalah tanda-- sampai akhirnya tidak bisa menghargai Saudara yang asli, itu masalah. Dalam Perjamuan Kudus, melalui roti dan anggur --realita yang kelihatan-- kita dibawa kepada realita tubuh dan darah Kristus --realita rohani. Kita tidak menghargai Perjamuan Kudus dengan menghargai roti dan anggurnya sendiri, melainkan kita dibawa kepada realita yang lebih tinggi, yaitu tubuh dan darah Kristus yang ditunjuk oleh tanda itu.

Kembali ke bagian ini, tanda-nya begitu jelas, mereka betul-betul mengalami mujizat itu dengan pertolongan Tuhan, Tuhan sendiri yang mengenyangkan mereka melalui 5 roti dan 2 ikan itu, tapi kata Yesus ‘kamu tidak datang mencari Yesus; kalaupun kamu mencari Yesus, itu adalah karena kamu kenyang’. Inilah problem dalam kehidupan orang beragama; mencari Tuhan karena kenyang, karena berkat jasmani. Menurut Yesus, ini gambaran orang yang sebetulnya tidak percaya. Tidak peduli berapa lama orang sudah datang ke gereja, berapa banyak sudah belajar teologi Reformed, kalau setiap kali pergumulannya adalah pergumulan kebutuhan fisik saja, menurut Yesus dia sebenarnya orang yang tidak percaya. Orang seperti ini mungkin menyebut nama Yesus berulang-ulang, mungkin juga waktu berdoa menyebut nama Yesus lalu mendapat pertolongan, dan pertolongannya pun dari Yesus bukan dari setan --sebagaimana orang-orang di sini dikenyangkan oleh Yesus bukan setan-- tapi orang-orang ini sebetulnya orang yang tidak percaya, orang-orang yang hanya menekankan kenyang secara jasmani.
Dalam Perjamuan Kudus ada hal yang menarik; ada banyak variasi dalam cara gereja-gereja melaksanakan Perjamuan Kudus, yang bisa kita lihat secara eklektikal dalam keindahannya masing-masing. Ada praktek Perjamuan Kudus yang jemaat-jemaatnya diundang maju ke depan membentuk satu lingkaran, di sini aspek ‘diundang’ dan table fellowship terlihat jelas sekali meski tidak mungkin persis seperti zaman Yesus. Tapi praktek Perjamuan Kudus dengan membagi-bagikan juga ada keindahannya sendiri, di sini penekanan pada ‘distribusi’-nya, seperti waktu 5 roti dan 2 ikan diberkati menjadi banyak lalu dibagi-bagikan (peristiwa 5 roti dan 2 ikan lalu 5000 orang laki-laki dikenyangkan menunjuk kepada Eucharist yang dilakukan Yesus waktu Dia mengatakan tentang tubuh-Nya). Dan praktek Perjamuan Kudus hari ini sebenarnya tidak sama dengan waktu zaman Paulus yang mereka betul-betul makan sampai kenyang makanan (first table), lalu di tengah-tengah itu mereka melakukan Perjamuan Kudus (second table). Sedangkan sekarang Perjamuan Kudus cuma pakai roti secuil dan anggur sedikit, mirip spiritualitas ‘puasa’ dan sangat berkait dengan teologi ‘manna’ yang ada dalam kitab Keluaran. Saudara makan sedikit saja --seperti dalam Doa Bapa Kami ‘berikanlah makanan kami yang secukupnya’-- cukup karena manusia tidak hidup dari roti saja. Dalam keadaan dunia kita yang serakah akan kebutuhan jasmani yang tidak ada habis-habisnya, di sini kita belajar meminimalisasi kebutuhan fisik supaya kita punya kepekaan akan kebutuhan rohani. Di sinilah kompleksitasnya.

Secara teori harusnya tidak ‘either or’ seperti ini, orang kenyang secara fisik harusnya juga bisa kenyang secara rohani. Tapi sayangnya kita terlalu lemah, waktu kita kenyang secara fisik, kita jadi tidak tertarik hal-hal rohani, spiritual appetite kita cenderung mati; di sini jadi ‘either or’. Ini prinsip yang mirip sekali waktu Injil mengatakan “celakalah kamu yang kaya”, apakah itu berati orang kaya pasti binasa? Secara teori: tidak. Dan kenyataannya pun tidak harus seperti itu, contohnya Zakheus orang kaya tapi dia tidak binasa, sedangkan pemuda kaya dalam kitab Injil itu memang binasa karena kekayaannya. Mengapa kekayaan seringkali tidak compatible dengan Kekristenan? Karena orang kaya kalau tidak berhati-hati dengan self-sufficiency-nya, dia sulit sekali menghayati diri sebagai pengemis sebagaimana kita semua di hadapan Tuhan adalah pengemis. Orang kaya susah jadi pengemis, dia hanya tahu menolong pengemis, dan bangga bisa menolong pengemis, tapi tidak tahu apa artinya jadi seorang pengemis yang minta pertolongan baik dari Tuhan maupun sesamanya. Itu sebabnya Yesus mengatakan “alangkah sulitnya orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga”; memang betul sulit sekali, meskipun tidak mustahil. Dengan prinsip yang sama, orang yang kenyang secara fisik, alangkah sulitnya untuk masih bisa mengerti artinya kebutuhan rohani. Oleh karena itu, mari kita mengembangkan spirit Perjamuan Kudus --makan secukupnya, minum secukupnya-- supaya kita sadar bahwa manusia bukan hidup dari hal fisik saja tapi manusia hidup dari Roti Surga, Roti Rohani, Roti Hidup, Yesus Kristus.

Masih dalam urusan ‘kenyang’, Yesus dalam Injil Yohanes mengatakan realita orang yang cuma makan roti itu dia akan lapar dan haus lagi, tapi Yesus dalam Injil Lukas bahkan mengatakan “celakalah kamu yang kenyang, karena kamu akan lapar”. Apakah maksudnya setiap makan kita tidak boleh kenyang? Waktu kita lapar, lalu makan dan kenyang, tidak apa-apa; tapi persoalannya, dalam kekenyangan fisik itu kita bisa melupakan kebutuhan kita akan hal-hal rohani karena merasa sudah kenyang (kenyang secara fisik/material) dan akhirnya kita tidak punya kepekaan. Waktu kita berpuasa, kita menderita, lalu muncullah satu per satu segala macam makanan yang kita inginkan, yang sebenarnya refleksi dari kerakusan kita. Inilah kehidupan kita yang tidak bisa tidak harus hidup dengan segala macam itu, dan kalau tidak ada akan jadi persoalan besar. Tapi siapa yang punya kepekaan terhadap kelaparan  rohani? Waktu lapar rohani, manusia tidak sadar; waktu lapar fisik, manusia sangat sadar. Ada orang yang peka sekali waktu bangkrut secara fisik atau keuangan minim, tapi tidak sadar waktu bangkrut rohani. Ada yang  bergumul mati-matian tentang kesehatan fisik, tapi tidak pernah sadar tentang kesehatan atau kesakitan rohaninya. Hanya bergumul urusan-urusan material, urusan-urusan natural, urusan-urusan fisik; itulah orang yang tidak percaya, kata Yesus.

Maka Yesus mengatakan: “Bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa” (ayat 27). Yesus sendiri yang menyediakan makanan sampai 5000 orang kenyang. Makanan yang dapat binasa ini bukan sesuatu yang evil/jahat --kalau itu jahat, tentu Yesus tidak berikan kepada mereka-- memang kita juga membutuhkan itu. Yesus mengatakan ‘manusia tidak hidup dari roti saja’ bukan ‘manusia tidak hidup dari roti sama sekali’. Tapi jangan lupa, dalam perkataan ‘tidak hidup dari roti saja’ berarti ada kebutuhan yang lain, yaitu kebutuhan rohani, yang bisa mati atau kebal/tidak ada kepekaan ketika kita terlalu banyak dipuaskan secara materi . “Bekerjalah ... untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Di sini Yesus membawa pengertian mereka tentang kepuasan secara fisik untuk diangkat masuk ke dalam kepuasan secara rohani.

Mereka jadi tertarik lalu bertanya di ayat 28: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Lalu Yesus menjawab kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah" (ayat 29). Di sini kontras yang sangat mirip dengan teologi Paulus yaitu: perbuatan versus percaya. Dalam perikop-perikop sebelumnya baru saja kita membahas perkataan ‘orang yang tekun berbuat baik mendapatkan hidup yang kekal, yang berbuat jahat berakhir pada kebinasaan’, suatu kategori ‘perbuatan’, lalu ada ayat ini; jadi sebetulnya bagaimana? Salvation by work? Jelas bukan; tapi bukan berarti tidak ada tanda orang-orang percaya di dalam perbuatan baik. "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" lalu Yesus mengatakan “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah... hendaklah kamu percaya... .” Jadi pertanyaannya sudah betul, tentang pekerjaan yang dikehendaki Allah, karya Allah, atau perbuatan Allah; tapi mereka tanyanya tentang ‘perbuat’, dan Yesus mengatakan ‘percaya’. Apa maksudnya percaya? Angkat tangan, terima Yesus masuk di dalam hati, dan tetap tidak peduli dengan dimensi rohani, kalau datang kepada Tuhan doanya berputar dalam urusan fisik/jasmani semata; menurut Yesus orang-orang seperti itu TIDAK percaya, bukan percaya. Saudara baca konteks dalam bagian ini, mereka ini orang-orang yang tidak percaya, mereka mengalami mujizat langsung dari Yesus Kristus, tapi mereka tidak tertarik sama sekali dengan hal-hal rohani. Ini orang-orang yang hidup dalam kegelapan.

Bukan cuma tidak bisa melihat Yesus Kristus, tapi bahkan tidak bisa melihat tanda itu sendiri, buktinya mereka tanya di ayat 30 "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu?” Yesus baru saja membuat  5000 orang itu kenyang, bukankah itu tanda yang jelas sekali yang mereka alami, tapi mereka malah tanya ‘tanda apa yang Engkau perbuat’, mau tanda apa lagi??  Jadi kamu tidak melihat tanda, ‘tanda’-nya saja kamu tidak lihat apalagi yang asli yang ditunjuk oleh ‘tanda’ itu, sudah pasti kamu tidak lihat. Mereka ini orang-orang yang kenyang tadi, tapi masih minta tanda, “supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu”. Orang yang tidak percaya, mereka punya kepercayaan terhadap allah yang mereka ciptakan sendiri, lalu  tanda-tanda yang menunjuk kepada allah palsu itu pun mereka ciptakan sendiri. Mereka menciptakan tanda-tanda palsu menurut versi mereka sendiri. Tanda-tanda yang palsu menunjuk kepada allah yang palsu. Padahal, Yesus sudah membuat tanda yang asli yang menunjuk kepada Pribadi-Nya yang asli. Mereka tanya “Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan... ?” Jadi bagi mereka yang Yesus perbuat tadi bukan apa-apa, karena mereka cuma pikir perut mereka sendiri, kesejahteraan jasmani mereka sendiri saja. Itu yang membuat mereka buta, tidak bisa melihat Yesus Kristus. Itulah orang-orang yang tidak percaya.

Tapi di sini mereka masih ada sesuatu pengertian, mereka mengatakan: “Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga" (ayat 31).  Ironi sekali. Memang peristiwa Yesus memberi makan banyak orang itu sangat berkait dengan teologi manna di padang gurun, meski bukan satu-satunya (istilah “I AM The Bread of Life” / Ego Eimi seringkali orang kaitkan dengan tradisi Keluaran, tapi ada juga tradisi yang lain tentang roti dan anggur yaitu teologi sophia dari Amsal). Mengaitkan antara ‘Yesus memperbanyak roti dan ikan sehingga 5000 orang kenyang’ dengan tradisi manna, sebetulnya sudah sangat tepat, tapi celakanya mereka tidak melihat  kaitannya. Referensi-nya benar, foot note-nya benar, tapi pengertiannya salah. Kalau mereka betul-betul mengerti tentang manna, manna itu artinya Tuhan memberikan sesuai dengan porsi yang menurut Tuhan cukup. Tapi waktu itu orang-orang Israel merasa tidak cukup, mereka bosan. Orang bosan itu bisa karena serakah. Contoh sederhana: istri itu satu saja; kalau Saudara bosan, itu berarti mau yang lain,  keserakahan kita yang membuat bosan. Orang Israel diberi manna, itu cukup harusnya, tidak akan ada orang yang mati kelaparan karena manna yang diturunkan dari surga itu cukup buat mereka. Tapi mereka bosan. Bosan bukan urusan tidak cukup, ini urusan selera, selera mereka yang serakah yang merasa tidak cukup, harusnya ada daging, ganti-ganti menu, tidak bisa cuma manna begini, paling tidak kalau roti, ya, roti dengan segala variasinya, hari ini keju, besok bacon, lalu ham, dsb. itu baru oke. Dari tradisi Keluaran tentang manna, bisa dipelajari bahwa orang Israel itu tidak bisa mencukupkan diri dengan yang diberikan Tuhan. Doa Bapa Kami “berikan kami makanan kami pada hari ini” (versi Injil Matius) atau “hari demi hari” (versi Lukas) atau “yang secukupnya” (terjemahan bahasa Indonesia); “our daily bread” berarti takaran hari ini, seperti manna yang hari itu saja diberikan. Dan mereka tidak mengerti sama sekali, bagi mereka itu bukan tanda.

Yesus memberikan kepada mereka seperti mengulangi teologi manna, Yesus menunjuk diri-Nya sendiri ‘Manna yang turun dari surga’, Dia adalah The Bread of Life. Manna dalam cerita Keluaran itu sebetulnya menunjuk kepada Kristus yang turun dari surga, sama seperti manna yang saat itu turun dari surga. Sekarang Yang turun dari surga itu ada di depan mata mereka, tapi mereka tidak bisa melihat. Betapa luar biasa menyedihkan berhadapan dengan orang-orang yang berada dalam kegelapan seperti ini. Mereka bisa mengutip soal manna, soal Keluaran, tapi tidak mengerti sama sekali isinya. Ini persis seperti yang di perikop sebelumnya, mereka bangga memiliki Taurat, memiliki Musa yang mengajar mereka, berharap Musa jadi pendoa syafaat bagi mereka pada hari terakhir, tapi Tuhan Yesus mengatakan ‘Musa akan mendakwa kamu, bukan mendoakan kamu’. Mengapa? Karena ‘Musa pun menulis tentang Aku, tapi kamu menyelidiki kitab suci dan membaca tulisan Musa namun kamu tidak menerima Kristus, tidak berjumpa dengan Pribadi Kristus’. Boleh saja orang punya pengetahuan teologi yang banyak, tapi tidak ada perjumpaan pribadi dengan Kristus. Itu sama saja tidak datang kepada Kristus, atau kalaupun datang kepada Kristus, datang dengan alasan ‘karena kita kenyang, karena Yesus itu menguntungkan untuk saya, saya diberi fasilitas kelancaran, saya ada pegangan dalam hidup’, tapi sendirinya tidak pernah berpegang pada Yesus secara sungguh-sungguh. Tradisi manna dikutip tapi tidak mengerti artinya. Pengertian manna yaitu hidup di dalam pemeliharaan Tuhan yang cukup akan hal-hal fisik supaya bisa melihat hal-hal yang rohani. Ini spritualitas puasa. Waktu puasa, kita belajar mencukupkan diri dengan kebutuhan yang sederhana, dan ternyata tidak mati. Memang tidak mati, karena Alkitab mengatakan ‘manusia hidup bukan dari roti saja’; tapi waktu kita menjalani kehidupan yang berfilosofi ‘manusia hidup dari roti saja’, kita merasa sengsara kalau tidak ada berbagai macam masakan.

Selanjutnya Yesus melakukan koreksi. Ayat 32: “...sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga”. Dalam bahasa Inggris, ayat 31 mengatakan “Our fathers (nenek moyang kami) ate the manna in the wilderness; as it is written, ‘He gave them bread from heaven to eat.’ ” Mereka mengatakan ‘our fathers’ (bapa-bapa kami), tapi Yesus mengatakan “bukan Musa --bapa-bapamu itu-- yang memberikan kamu roti dari surga melainkan Bapa-Ku (My Father)”. Kalau dibaca secara spontan, sepertinya di sini Yesus sedang mengklaim keilahian-Nya -- The Only begotten Son of The Father/ God-- tapi kalau kita baca Perjanjian Lama, Israel itu disebut anak-anak Allah, “Bnei Yisra'el”  (bani Israel) yang artinya the children of Israel, dan Bapanya siapa lagi kalau bukan Yahweh. Jadi waktu Yesus menyebut Allah sebagai Bapa, itu sebetulnya bukan hal baru,tapi mengapa di sini Yesus secara eksklusif mengatakan ‘Bapa-Ku’, bahkan di bagian lain lebih keras lagi mengatakan ‘bapamu itu bukan Allah, bapamu itu iblis’ ? Yaitu karena fakta Israel gagal menghidupi cerita anak-anak Allah yang menjadikan Yahweh itu Bapa mereka; sebagai gantinya, mereka bangga dengan bapa-bapa yang kelihatan --our fathers’ (nenek moyang kami), Musa, Abraham, Ishak, Yakub, dst.-- sedangkan kalau Yahweh itu Bapa kami yang di surga, sulit, tidak kelihatan. Mereka menjadikan nenek moyangnya itulah bapa-bapa mereka, mereka tidak melihat Allah sebagai Bapa.

Maka Yesus mengatakan “Bukan Musa yang memberikan roti itu dari surga” --kamu itu terlalu silau melihat kemuliaan Musa sampai tidak bisa melihat kemuliaan Anak yang diutus oleh Bapa, termasuk juga tidak bisa melihat kemuliaan Bapa. Orang-orang Kristen kanak-kanak berhenti pada kekaguman akan orang-orang yang diberkati dan dipakai Tuhan. Orang Kristen yang dewasa, dia tidak berhenti pada kekaguman melihat orang-orang besar seperti Musa, Paulus, bahkan Luther, Calvin, Zwingli, dsb. tapi mata mereka melihat lebih dalam lagi, yaitu kemuliaan Allah. Namun orang-orang di bagian ini terus-menerus lihat kepada Musa dan Musa; lalu Yesus mengatakan kalimat sederhana: “bukan Musa, tapi Tuhan”. Kalimat seperti ini seakan-akan klise, “ya tahulah, tidak usah bilang begitu sudah pasti Tuhan, tapi ‘kan Tuhan melalui Musa”, kembali lagi ditarik ke situ. (Ekstrim yang lain lagi, orang Kristen yang waktu dimasakin mamanya selalu cuma bilang “terima kasih makanan dari Tuhan”, tidak memperhatikan siapa yang dipakai Tuhan, pokoknya semua dari Tuhan , saya tidak berutang kepada siapa pun, hanya kepada Tuhan). Terus-menerus melihat kebaikan Musa, kehebatan Musa, tapi tidak bisa melihat Tuhan, sampai-sampai Yesus musti mengatakan kalimat sederhana ini ‘bukan Musa, tapi Tuhan yang menyediakan roti; Bapa-Ku, yang sebenarnya juga Bapamu, tapi sayang kamu tidak menghidupi cerita hidup menjadi anak-anak Allah karena kamu lebih bangga jadi anak-anak Abraham daripada anak-anak Yahweh’ . Mereka ini mengatakan ‘Abraham bapa kami’, tapi Yesus bilang ‘bapamu itu Iblis sebetulnya, bukan Abraham, karena Abraham sendiri mem-Bapa-kan Yahweh, Abraham menghidupi cerita anak Allah tapi kamu tidak, kamu tidak percaya’.
Ayat 33 “Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia." Yesus sedang menunjuk kepada diri-Nya sendiri. Yohanes penulis Injil ini seringkali menggunakan tenses Aorist karena pekerjaan Tuhan tidak dikuasai oleh ‘dulu, sekarang, akan datang’. Di bagian ini dikatakan dulu waktu  Musa, adaroti yang turun dari surga; lalu Yesus mengatakan tentang now, di sini dan sekarang, ada roti hidup turun dari surga di sini, bukan dulu, yang dulu itu menujuk kepada yang di sini sebetulnya. Yohanes di sini konsisten dalam profil teologinya, tentang kekinian, sekaranglah saatnya, jangan mengeraskan hati, terimalah Tuhan, percayalah kepada Tuhan sekarang, bukan cerita soal dulu karena cerita dulu itu sudah lewat, dan jangan juga ditunda terus sampai pada masa yang akan datang nanti kamu terlambat, sekarang saatnya (dalam bahasa Inggris atau Yunani ada tenses yang jelas di sini).

Jadi koreksi yang pertama: bukan Musa, tapiTuhan. Selanjutnya: mereka katakan ‘our fathers’ tapi Yesus mengatakan ‘My Father’ --yang harusnya jadi Bapamu juga, tapi kamu tidak percaya dan lebih mem-bapa-kan Abraham, Ishak, Yakub, dsb. itu, sebetulnya bapamu itu Iblis (di bagian ini belum dikatakan, tapi ekskalasinya sampai ke situ). Kemudian koreksi yang ketiga: bukan roti yang masa lalu itu tapi roti yang sekarang, “Roti yang turun dari surga, yaitu Aku”, di sini Yesus menujuk kepada diri-Nya sendiri. Mereka sebut-sebut manna, tapi sekarang Yesus ada di situ mereka tolak.

Namun mereka juga seperti ada ketertarikan di bagian ini, mereka mengatakan: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa" (ayat 34). Ini mirip dengan perkataan perempuan Samaria ketika Yesus mengatakan ‘kamu menimba air dari sumur itu, kamu minum, kamu haus lagi; tapi air yang dari pada-Ku kamu minum, kamu tidak akan haus lagi’, lalu perempuan itu langsung menjawab ‘saya mau air seperti itu supaya saya tidak perlu menimba air lagi dari sumur’ --tetap pikirannya dalam physical realm. Nikodemus pun begitu --‘bagaimana seseorang bisa lahir kembali, masuk lagi ke dalam rahim ibunya yang sudah tua, dia sendiri pun sudah tua’-- tetap dalam physical realm.  Orang-orang ini buta. Yesus mengajak mereka untuk naik, berpikir perkara rohani, tapi mereka tetap di dalam dunia yang kelihatan karena bagi mereka satu-satunya realita adalah dunia yang kelihatan (the visible world), tidak ada yang lain. Yesus menunjuk kepada diri-Nya tapi mereka tolak, karena mereka mau roti yang menurut mereka sendiri, “berikanlah kami roti itu senantiasa”.  Kalau Yesus terjebak pada penerimaan yang semu ini, Yesus pastinya akan langsung jawab “Ya, sudah, penginjilan selesai. Kamu sudah terima Yesus berarti, kamu sudah percaya”. Tapi tidak. Mereka ini sebetulnya tidak menerima Yesus meskipun mengatakan kalimat itu, karena roti yang mereka mau bukan roti hidup melainkan roti yang binasa, yang sementara; mereka masih tetap di situ.
Maka kemudian Yesus mengatakan: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (ayat 35). Yesus bicara tentang diri-Nya sendiri, tapi mereka salah mengerti. Di ayat 41 dst. Saudara mendapati cerita bahwa mereka jadi bersungut-sungut ‘ini kanibalisme atau apa; perkataan ini terlalu keras’ waktu Yesus mengatakan “tubuh-Ku adalah benar-benar makanan, darah-Ku benar-benar minuman”. Mengapa perkataan itu terlalu keras menurut mereka? Bahkan dalam cerita Gereja mula-mula, ada perspektif dari orang-orang luar yang menuduh orang Kristen sebenarnya adalah orang-orang yang makan tubuh dan darah manusia, karena setiap kali Perjamuan Kudus orang-orang Kristen ini mengatakan ‘makan minum tubuh dan darah Tuhan’. Padahal maksudnya itu dalam pengertian rohani. Dan pikiran seperti itu sudah ada dalam bagian ini; mereka tidak bisa mengerti, mereka terbatas untuk masuk ke dunia rohani. Mengapa? Karena mereka terlalu kenyang. Terlalu kenyang dengan hal-hal fisik sampai tidak ada dan tidak peduli sama sekali akan spiritual appetite. Sukacita di dalam bagian rohani tidak ada. Ini orang-orang yang cuma mau di dalam comfort zone; comfort zone mereka adalah dunia yang kelihatan --saya lapar lalu kenyang, saya sakit kemudian doa jadi sembuh. Memang ada tempatnya untuk itu, memang manusia juga hidup dari roti, dari kesehatannya, dari kecukupan finansial, dsb.,  tapi tidak dari itu saja.

Oleh karena itu Yesus Kristus mengatakan kalimat ini  “Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya” (ayat 35-36). Dalam bahasa Yohanes, melihat itu sebetulnya percaya. Di bagian awal-awal, murid-murid mau melihat di mana Yesus tinggal, lalu Yesus mengatakan “marilah dan lihatlah”. Bukan melihat rumahnya Yesus secara arsitektur dan interiornya, tapi ini undangan untuk melihat kehidupan Yesus --di mana Yesus tinggal itulah rumahnya Yesus, di mana Yesus bergerak itulah rumahnya Yesus-- murid-murid diundang untuk melihat, dan melihat itu berarti percaya (seeing is believing). Tapi di sini Saudara melihat perkataan yang sangat menyedihkan, “kamu melihat Aku tapi kamu tidak percaya”, your seeing itu ternyata bukan believing. Ada kemungkinan orang melihat tapi ternyata tidak percaya, itu berarti mereka tidak melihat, persis seperti dikatakan Yesaya “kamu melihat tapi sesungguhnya tidak melihat”; kalau ditafsir berdasarkan Yohanes karena kamu cuma melihat secara fisik, cuma melihat dunia yang kelihatan tidak pernah melihat yang tidak kelihatan, kamu tidak percaya.

Ayat 37 “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang”. Mungkin jarang sekali kita menemukan ayat yang bisa menampung sekaligus dua paradoks ini.  “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku”, ini bicara tentang kedaulatan Allah, bahkan boleh juga dikaitkan dengan predestinasi; tapi di sisi lain “barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang”. Di satu sisi ada kedaulatan Tuhan, Tuhan bukan bergantung pada manusia yang datang kepada-Nya melainkan itu adalah yang diberikan Bapa kepada Sang Anak. Di sisi lain ada undangan untuk siapa saja, universal offer of salvation yang harus universal, tidak boleh limited. Kita percaya limited atonement (penebusan terbatas), kita percaya election (pemilihan), tapi pemberitaan Injil harus universal, “Barangsiapa datang kepada-Ku tidak akan Kubuang”. Siapa yang tidak akan dibuang? Siapa saja yang datang kepada Kristus tidak akan dibuang. Pertanyaannya, apakah orang betul-betul datang kepada Kristus atau jangan-jangan mencari Yesus untuk alasan yang lain seperti orang-orang dalam bagian ini. Mereka kelihatan seperti datang, seperti beribadah, seperti menghadap Tuhan, tapi sebetulnya mereka tidak datang kepada Yesus.

Ayat 38 “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.” Ini mengantisipasi tentang Ego Eimi yanglain “I Am The Resurrection and The Life””. Dalam bicara tentang roti hidup, tidak mungkin tidak berkait dengan kebangkitan, mengantisipasi “Akulah kebangkitan, Akulah kehidupan”. Pembicaraan tentang Ego Eimi tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain, dan dalam bagian ini kita juga bisa bicara Yesus sebagai Terang, menerangi orang-orang yang di dalam kegelapan, yaitu terkurung dalam urusan kebutuhan jasmani saja, tidak pernah ada kebutuhan rohani.

Yang terakhir, tradisi ‘Yesus Roti Hidup’ ini bukan cuma mengambil dari tradisi Keluaran saja tapi juga bisa kita baca dari kitab Amsal (pasal 9:1-6): "Marilah, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur” (Amsal 9:5). Di ayat pertama, hikmat itu mengundang orang ke dalam perjamuan. Ini aspek yang menarik; waktu bicara tentang roti dan anggur, ternyata bicara tentang pengertian sebagai lawan dari kebodohan (ayat 6). Ini undangan pesta. Pesta untuk mengerti; tidak ikut pesta itu sama dengan kebodohan. Maksudnya, bisa mengerti dan bisa mengenal, itulah pesta. Orang yang tidak tahu pesta, tidak tahu sukacita, tidak tahu roti, anggur, minyak, itu adalah orang yang berada dalam kebodohan. Kalau dikaitkan langsung dengan tradisi Yohanes untuk menafsir bagian ini: kebodohan itu karena orang cuma bisa melihat dunia yang kelihatan, tidak ada pengertian akan dunia yang tidak kelihatan; waktu makan Perjamuan Kudus dia mungkin komplain ‘mengapa rotinya cuma secuil, mengapa tidak pakai anggur dari Bordeaux, mengapa pakai anggur yang tahun ini bukan itu’ dst. dst. Itulah orang-orang yang cuma melihat dunia yang kelihatan, mereka tidak memiliki pengertian, cuma tahu physical tasting saja tidak ada spiritual tasting.

Di UC Berkeley ada perpustakaan yang sangat terkenal dan indah, waktu kita masuk di situ ada tulisan bahasa Latin ayat ini yang memang cocok, masuk perpustakaan seperti satu pesta untuk bisa mendapat pengertian. Tapi mungkin sekarang orang masuk perpustakaan namun pikirannya tetap sekuler, karena mereka tidak mengaitkan itu dengan dunia rohani, hanya tertarik menyelidiki alam dalam physical understanding, physical tasting bukan spiritual tasting karena mereka tidak percaya Tuhan. Kutipan itu masih ada di sana, tapi apakah orang mengerti dalam konteks aslinya? Pengertian yang mana? Pengertian hanya karena kita belajar banyak sekali buku di dalam perpustakaan? Pasti bukan. Kalau menurut Yesus Kristus: “Akulah Roti Hidup”, itulah pengertian yang sesungguhnya. Bukan roti yang Tuhan Yesus sediakan lalu kamu kenyang --memang itu satu hal-- tapi Yesuslah Roti Hidup itu.


Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)