Summary 23 July 2017

 

Kristus Sang Nabi (Yohanes 5:24-40)

Relay Khotbah 23 Juli 2017

Pdt. Billy Kristanto

Kita sudah membahas waktu Yesus memberitakan tentang diri-Nya, gambarannya bukan dalam arti Yesus bersaksi tentang diri-Nya sendiri; hal ini dikatakan secara eksplisit di ayat 31 “Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar”. Yesus bukan sedang bersaksi tentang diri-Nya sendiri, melainkan bahwa otoritas yang ada pada diri-Nya itu berasal dari Bapa. Ini gambaran yang sangat khas dalam profil teologi tulisan-tulisan Yohanes. Ayat-ayat selanjutnya semua membicarakan tentang pribadi Yesus, tapi di dalamnya kita mendapati ada kelincahan perspektif  menurut natur ilahi-Nya dan menurut natur manusia-Nya. Di sini kita tidak perlu dibingungkan dengan kelincahan tersebut, karena Yesus memang betul-betul memiliki dua natur itu.

Ayat 24 berbicara tentang pengutusan. Ayat ini menggunakan perbendaharaan kata yang seringkali dipakai dalam cerita nabi-nabi, yaitu nabi yang diutus Allah versus nabi yang palsu yang tidak diutus Allah. Waktu dikatakan di ayat ini “Dia yang mengutus Aku”, itu menyatakan hubungan yang khusus ini: The Son sent by The Father. Yang mengutus adalah Bapa, yang diutus adalah Anak. Bagian ini diulang di surat yang lain, misalnya Surat Ibrani yang mengatakan “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya”. Yesus itu Nabi, Imam, Raja; waktu bagian ini bicara tentang pengutusan, itu menunjuk pada kenabian Kristus. Nabi memberitakan nubuat. Arti nubuat sebenarnya bukanlah prediksi masa depan, sebagaimana sebagian orang menafsirkan begitu. Substansi nubuat yang pertama adalah mengatakan yang berasal dari Bapa, yaitu yang mengutus; dan yang kedua --khususnya dalam Perjanjian Lama-- adalah berita pertobatan.
Yesus diutus dari Bapa, berarti Dia mengatakan yang diterima-Nya dari Bapa; dalam hal ini ada kaitan dengan keselamatan. Ayat 24: “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku... “; pertama mendengar perkataan Yang Diutus/Mediator, lalu setelah itu percaya kepada Dia yang mengutus yaitu Bapa, “...  ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup”. Di sini ada kaitan antara nabi/kenabian dengan keselamatan. Kita lebih familiar bahwa priestly office (jabatan imam) sangat berkaitan dengan soteriologi (keselamatan), karena imam mempersembahkan korban, menghapus dosa, dsb., tapi di bagian ini ada kaitan antara prophetic office (jabatan nabi) dengan keselamatan. Bukan cuma ‘pengampunan dosa’ yang berkaitan dengan keselamatan, tapi juga ‘mendengar firman’ berkaitan dengan keselamatan, bahkan sebetulnya bukan cuma itu karena ada threefold office of Christ (jabatan rangkap tiga Kristus) yang semuanya pasti berkaitan dengan keselamatan.

Ayat 25: “...saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup”. Bagian ini tipikal dalam bahasa Yohanes yaitu adanya “kekacauan tempora/tempus”. Maksudnya begini: kebangkitan orang mati harusnya di akhir zaman, tapi Yohanes “mengacaukan” dengan mencatat bahwa Yesus melakukan pembangkitan itu ketika Dia masih ada di dalam dunia (seperti dalam kasus Lazarus). Mengapa Yesus melakukannya? Yaitu karena Yohanes mau mengatakan bahwa di dalam tangan Tuhan tidak ada past, present, future --itu dunia manusia-- bagi Tuhan, Dia bisa melakukannya kapan saja. Oleh karena itu, Lazarus yang dibangkitkan “di dalam waktu yang salah” itu bukanlah waktu yang salah tapi Yesus mau mendemonstasikan bahwa Dia tidak berada dalam kurungan past, present, future. Pekerjaan Tuhan tidak dibatasi itu, maka yang seharusnya terjadi nanti bisa juga dimengerti sekarang ini sebagai antisipasi. Dan bukan kebetulan setelah membangkitkan Lazarus, Yesus mengatakan “Akulah kebangkitan dan hidup”, tidak usah tunggu sampai nanti, di sini pun bisa ada kebangkitan oleh kuasa yang ada pada Yesus-nya bukan pada waktu-nya. Kuasa itu ada pada Pribadi Yesus, bukan pada jadwal. Mengutip kalimat  Pendeta Stephen Chen tentang kedatangan Kristus, dia mengatakan: “Jesus has not have to come on time, because He is not in time”. Yesus tidak perlu datang sesuai jadwal karena Dia tidak berada di bawah jadwal, jadwal yang di bawah Yesus. Kita bisa berada di bawah jadwal tertentu dan pastinya di bawah jadwalnya Tuhan, dalam waktu yang ditentukan Tuhan, dalam kairosnya Tuhan; tapi Tuhan tidak di bawah waktu, Dia Tuhan, Dia bebas.

Dalam bagian Injil Yohanes  kita membaca “kekacauan tempus” tersebut; dikatakan “orang mati akan mendengar suara Anak Allah”, ini harusnya eskatologis karena berbicara tentang orang mati yang mendengar suara Allah lalu bangkit, tapi Yohanes --yang mencatat perkataan Yesus-- di sini mengatakan orang mati mendengar suara-Nya, di sini dan sekarang --karena kamu mati.  Orang-orang yang mendengar Yesus itu orang mati sebetulnya, yaitu mati rohani. Di sini bergeser ke pengertian spiritual, orang mati akan mendengar suara Anak Allah dan mereka yang mendengarnya akan hidup, di sini dan sekarang. Ini eskatologikal ‘di sini dan sekarang’ bukan cuma yang akan datang saja (tipikal Johannine Eschatology). Waktu Reformed mengatakan eskatologi itu ‘already and not yet’, maksudnya adalah bahwa eskatologi di dalam perspektif Reformed tidak bisa dimengerti hanya dari ‘not yet’ saja, tapi experienceable ‘here and now’.

Kembali ke bagian ini, dikatakan: “...orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.” Ini semuanya bahasa eskatologis, dan secara pembacaan sederhana ‘eskatologis not yet’, tapi Yesus menerapkannya dalam kehidupan selama orang tersebut hidup. Orang yang mati (mati rohani) akan mendengar suara Anak Allah, yaitu waktu Yesus menyampaikan kalimat-kalimat tersebut, dan mereka yang mendengar akan hidup. Kata ‘hidup’ ini bahasa soteriologi, tentang keselamatan; dan di sini dikaitkan dengan mendengar firman yang sangat berkaitan dengan prophetic office, bukan cuma dengan Perjamuan Kudus yang berkaitan  dengan priestly office. Orang yang mendengar firman, orang itu hidup.

Ayat 26: “... sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri”; ini maksudnya  the sharing of life, consubstantial/sama.

Ayat 27: “Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.” Istilah ‘Anak Manusia’ berkaitan dengan tradisi yang dicatat dalam kitab Daniel, bukanlah low title melainkan high title, bukan menggambarkan kesederhanaan Yesus sebagai manusia melainkan menggambarkan Yang akan Menghakimi, ada kuasa menghakimi di situ. Tapi pertanyaannya, mengapa pakai istilah ‘Anak Manusia’? Apa bukan lebih cocok ‘Anak Allah’ karena menghakimi? Kita musti melihat kitab Daniel untuk mengerti hal ini. Waktu membaca di dalam Injil bahwa Anak Manusia diserahkan kuasa penghakiman, saya spontan teringat perkataan Paulus yang mengatakan kita sendiri --yang juga manusia-- akan menghakimi. Paulus bicara kepada jemaat yang dilayaninya “tidakkah kamu tahu kita ini akan menghakimi para malaikat?” Manusia itu menghakimi. To certain extent  penghakiman adalah hak Tuhan; itu betul, dan ada ayatnya juga. Tapi kita melihat disini pakai istilah ‘Anak Manusia menghakimi’ yang kalau Saudara baca dalam konteks keseluruhan, ini tidak terpisah dengan konsep bahwa Yesus waktu berkata-kata, Dia selalu berkata-kata yang Dia terima dari Bapa, ini otoritas dan kuasa-Nya, termasuk di dalamnya otoritas dan kuasa penghakiman. Waktu Saudara memberitakan firman Tuhan yang betul-betul kita terima dari Tuhan, bukan yang kita karang sendiri berdasarkan imajinasi/fantasi kita sendiri, melainkan yang Tuhan mau sampaikan melalui kita, maka di dalamnya juga ada kuasa penghakiman. Penghakimannya bukan ada pada kita, kita ini cuma manusia berdosa, tapi karena yang saya sampaikan bukan dari diri saya sendiri melainkan dari Allah, maka ada kuasa penghakiman yang mengalir di situ. Dalam perkataan Yesus di ayat ini menurut perspektif konteks dalam Yohanes, tidak bisa dipisahkan dari Sang Anak Manusia yang selalu mengatakan kalimat itu berasal dari Bapa. Bahkan sebelum Yesus datang, waktu para nabi dalam Perjanjian Lama memberitakan firman Tuhan, juga ada kuasa penghakiman di dalamnya.
Ayat 28 “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya”, bagian ini sebenarnya pengulangan dari yang kita sudah bahas tadi.

Lalu selanjutnya ayat 29: “dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum”. Apakah ini berarti diselamatkan karena perbuatan baik? Menurut Paulus sepertinya tidak; tapi kita musti rendah hati membiarkan Alkitab berbicara. Mengapa pakai kategori ‘perbuatan baik’ di sini; dan mungkin bukan cuma di dalam Yohanes, tapi juga di dalam Yakobus, Matius, dan to certain extent juga di dalam Petrus? Saya mau mengatakan hal ini dalam gambaran ekumenikal yang sangat bertanggung-jawab dan yang sangat terstruktur. Waktu kita melihat perspektifnya Yohanes, kita tidak boleh jajah berdasarkan perspektifnya Paulus karena memang sama-sama firman Tuhan. Ini perkataan Yesus --Yohanes hanya mencatat-- tidak mungkin perkataan ini lebih rendah dari perkataan Paulus; dan perkataan Paulus juga firman Tuhan. Tapi mengapa di sini bicara tentang perbuatan baik? Sebetulnya kalau membaca di dalam sistematika Teologi Reformed tetap ada jawaban, termasuk dari perspektif Reformed. Mungkin salah satu kata yang boleh Saudara perhatikan di situ adalah ‘telah’. Di sini dikatakan “mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal”, bukan dikatakan “mereka yang akan berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal”. Ini berarti perbuatan baik itu adalah konfirmasi keselamatan yang sejati. Sederhana.

Dalam tulisan orang-orang later Calvinism, mereka membicarakan yang disebut dengan syllogismus practicus (practical syllogism), yaitu pengambilan kesimpulan dengan cara yang dalam istilah Alkitab dikatakan “dari buahnya, kamu tahu pohonnya”. Orang bergumul, ‘lu tahu dari mana lu itu orang pilihan, jangan-jangan lu bukan orang pilihan’, dan pertanyaan seperti ini seringkali memberikan keragu-raguan, tidak ada jaminan keselamatan. Memang kalau kita belajar baik-baik, jaminan keselamatan itu pondasinya adalah korban Kristus yang sempurna. Itu tidak pernah tidak sempurna, selalu sempurna, dan sudah berlalu juga; tapi masih saja ada orang yang ragu-ragu. Maka orang-orang later Calvinism menggumulkan hal itu dan mengajarkan ajaran syllogismus practicus ini, bahwa ada tanda-tandanya orang pilihan --dalam istilah Alkitab ‘buah’ orang yang diselamatkan-- dan dari situ kita tahu kita orang pilihan. Ini bukan berarti diselamatkan oleh tanda-tanda itu, sama sekali tidak. Kita diselamatkan oleh anugerah, kita diselamatkan oleh kesempurnaan korban Kristus di atas kayu salib, tapi orang pilihan itu ada tanda-tandanya. Salah satu tanda, menurut Yohanes adalah perbuatan baik.

Dalam suratnya, Yakobus mengatakan ‘kamu bicara iman, iman’, seperti polemik dengan Paulus, tapi sebetulnya ini  hanya dalam level perbendaharaan kata saja, bukan secara konsep; secara konsep tidak ada benturan. Surat Yakobus polemiknya bukan melawan teologi Paulus yang orisinal, melainkan resepsi atas teologi Paulus yang salah  --justification by faith alone (sola fide) yang dimengerti secara salah-- ini yang dikritik oleh Yakobus. Bukan Paulus-nya yang dikritik karena Paulus sebetulnya tidak mengajarkan seperti itu, misalnya dalam Efesus 2, “kita diselamatkan itu bukan karena hasil usahamu, ... Tuhan menyediakan pekerjaan baik”,  kita diselamatkan untuk pekerjaan baik. Pauline pun konsisten dengan Johannine writings di sini. Perbuatan baik sebagai tanda orang  diselamatkan, tanda orang pilihan. Bagaimana kalau ini tidak ada? Yakobus mengatakan itu iman yang mati. Yakobus menantang ‘coba tunjukkan imanmu tanpa perbuatan, nanti saya akan menunjukkan kepadamu bahwa perbuatanku di dalamnya ada iman’; dan di sini yang dimaksudkan Yakobus pastinya yang terakhir, bahwa perbuatan baik di dalamnya adalah iman, true faith itulah yang menghasilkan yang disebut good works tersebut. Tapi kalau dibalik jadi ‘saya cuma punya iman, saya ini spesialisasinya orang beriman, ada karunia iman, tidak ada karunia perbuatan baik’ (perbuatan baik memang bukan karunia, itu untuk semua orang beriman), ini ibarat orang yang berdoa “here I am, sent him and her”.

Yohanes jelas tidak kurang menekankan soal percaya. Dosa, dalam Johannine writings --khususnya dalam Injil Yohanes-- definisinya adalah ketidak-percayaan.  Luther mengatakan bahwa orang dibenarkan karena iman, dan orang dihukum karena ketidak-percayaan. Hal ini --percaya-tidak percaya-- sangat banyak ditekankan dalam Yohanes ; dan saya pikir itu cukup dan sudah jelas sekali. Kita membaca di ayat 29, “mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum”. Orang yang percaya itu orang yang berbuat baik, karena orang percaya tidak terus berbuat jahat, mereka akan rajin dan tekun berbuat baik. Kalau Saudara membaca Alkitab, gambarannya pun tidak sekaku  yang dibicarakan dalam teologi sistematika; kadang-kadang perbuatan baik juga merupakan anugerah, ditaruh sebelum orang diselamatkan (kalau kita pakai kategori ‘sudah/belum’ diselamatkan). Salah satunya adalah Kornelius, yang perbuatan baiknya seperti bau-bauan harum yang naik  sampai ke atas, kemudian Tuhan mengirim Petrus untuk memberitakan Injil khusus kepada dia. Perbuatan baik mendahului keselamatan. Di dalam sistematik teologi sepertinya kurang ada tempat bagian ini karena kita terlalu kuatir akan campuran perbuatan baik di dalam keselamatan, tapi Alkitab jauh lebih lincah daripada teologi sistematika kita; dan kita dipanggil untuk Alkitabiah. Teologi sistematika mengantar kita kepada kekayaan yang ada di dalam Alkitab, bukan sebaliknya.

Ayat 30: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil”. Tadi kita sudah membahas ‘mengapa penghakiman Tuhan itu benar dan adil’ karena memang Tuhan Yesus menghakimi sesuai dengan yang Dia dengar dari Bapa-Nya. Saudara perhatikan di bagian awal ayat 30 ini “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri”, bagian ini kalau tidak hati-hati kita bisa ambil kesimpulan bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa. Tapi justru di situlah keindahan inkarnasi, Yesus itu Tuhan tapi Dia menjadi manusia sama seperti kita. Kalimat ini mendahului ayat yang terkenal dalam Yohanes 15 waktu Yesus mengatakan “di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa”. Kalau kita boleh gandeng kedua kalimat ini jadinya:  ‘di luar Aku --jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku-- kamu tidak dapat berbuat apa-apa, oleh karena  Yesus pun tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Nya sendiri’. Ini tidak berarti Yesus kurang sovereignty, atau kurang consubstantial, atau jangan-jangan tidak sehakekat dengan Bapa, jangan-jangan lebih rendah, dsb., tapi maksudnya mengatakan bahwa Yesus selalu tinggal di dalam Bapa-Nya.

Istilah ‘tinggal’ adalah salah satu kata kunci, dalam bahasa Inggris kata ‘abide’ atau ‘remain’. Yesus tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Nya sendiri, maksudnya Yesus tidak pernah tidak tinggal di dalam Bapa dan Bapa tidak tinggal di dalam Dia. Yesus selalu di dalam Bapa dan Bapa selalu di dalam Dia. Ini bicara tentang The Incarnated Christ, supaya bisa menjadi model bahwa demikian juga kita tidak bisa berbuat apa-apa dari diri kita sendiri kalau kita tidak tinggal di dalam Kristus yang tinggal di dalam Bapa itu. Kapan kita menjadi judgmental yang ngawur? Jawabannya sederhana: waktu kita tidak connected dengan Yesus. Waktu kita tidak tinggal di dalam Yesus, kita bisa jadi  judgmental, carnal spirit, highly polemical yang tidak ada perlunya seolah kalau tidak ada konflik tidak bisa hidup. Tapi di sisi lain waktu kita tidak tinggal di dalam Kristus, kita juga bisa takut menegur, jadi humanis, tidak berani bicara karena mau kehidupan yang harmonis dan apapun dikorbankan demi itu. Konsep ‘damai/peace’ yang ada di dalam Alkitab, pastinya bukan itu. Kalau Yesus mengusahakan harmoni seperti itu, Dia tidak akan diseret sampai ke atas kayu salib, Dia pasti tidak akan dibenci banyak orang, sebaliknya  semua orang akan senang kepada-Nya, dan Dia sangat punya potensi untuk itu. Tapi Yesus tidak melakukan itu. Karena apa? Karena Dia tinggal di dalam Bapa-Nya.

“Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar”, bukan dari diri-Nya sendiri. Ada satu kejadian dalam Perjanjian Lama, waktu itu kerajaan utara, dengan rajanya Yoram, dan kerajaan selatan, dengan rajanya Yosafat, maju bersama untuk berperang terhadap musuh, tapi di tengah-tengah keadaan itu mereka kehabisan air. Ini bahaya sekali, pasti kalah perang karena kuda-kuda tidak bisa minum, dan sebagainya. Akhirnya Yosafat mengatakan bahwa harus ada nabi yang dipanggil, nabi itulah yang bisa kasih tahu harus bertindak bagaimana. Yoram sebenarnya tahu ada nabi, yaitu Elisa, kemudian dengan sangat terpaksa ia memberi tahu. Akhirnya Elisa dipanggil, dan dia datang. Waktu Elisa melihat Yoram, dia sudah sebel, seperti mau muntah lihat muka Yoram. Elisa lalu mengatakan, ‘kalau bukan karena Yosafat, ...’. Tapi yang menarik, dalam keadaan seperti itu Elisa tahu kalau dia langsung bernubuat, yang keluar bukanlah kata-kata dari Tuhan tapi dari kedagingannya, maka Elisa menyuruh memanggil pemain kecapi. Waktu kita mendengarkan musik memuji Tuhan, itu mempersiapkan yang berbicara maupun yang mendengar, yaitu kita dibersihkan. Dalam cerita tadi, kemudian Elisa jadi bisa mengatakan yang dia terima dari Tuhan, bukan mengatakan yang dia suka.
Manusia itu banyak sekali biasnya; waktu kita bias lalu kita bicara, hasilnya kalimat yang tidak karuan, prejudice (baik prejudice yang terlalu baik ataupun terlalu kritis). Kita tidak dipanggil jadi orang Kristen yang prejudice, tapi boleh dikata kita semua adalah “nabi”, bukan secara jabatan tapi secara fungsi (common prophethood of all believers). Apa pengertiannya? Yaitu ini: jangan keluar kalimat yang tidak dari Tuhan. Yesus tidak menghakimi dari diri-Nya sendiri, Yesus tidak berbicara dari diri-Nya sendiri. Elisa betul-betul nabi, dia tahu dirinya orang berdosa sama seperti Saudara dan saya, kata-katanya juga bisa ngawur, bisa ada bias, kebencian, muak, dsb. Dia bukan orang yang suci, dia sama seperti kita, mungkin yang membedakan Elisa dengan kita adalah dia tahu, kita tidak tahu. Dia sadar kalau ada persoalan, sedangkan kita seringkali tidak sadar. Dia peka, maka dia panggil pemain kecapi, dan setelah itu dia mengatakan yang intinya “Tuhan mau menyelamatkan engkau, kamu tidak akan mati kelaparan”. Kalau dari diri Elisa, itu tidak mungkin; mungkin yang dikatakannya ‘sesungguhnya Tuhan akan memberkati engkau, hai Yosafat; tetapi engkau Yoram... !!” karena dia sudah sebel melihat Yoram, musuh bebuyutannya itu. Tapi hari itu tidak ada penghakiman untuk Yoram, Elisa taat --ini penyangkalan diri-- memberikan kalimat berkat melalui mulutnya untuk keduanya, termasuk Yoram yang dia sebel itu. Elisa nabi yang sejati, tapi Elisa tidak sempurna. Yesus sempurna, tidak ada kalimat yang bukan berasal dari Bapa. Tidak ada kalimat bias. Kalimat-kalimat-Nya betul-betul segelombang dengan yang Dia terima dari Bapa.

“... penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku”. Kehendak Bapa dan kehendak Anak itu satu. Kita seringkali mendengar gambaran bahwa kehendak itu berkaitan dengan pribadi; orang punya kehendak, itu menyatakan bahwa dia adalah pribadi yang utuh. Itu salah, bukan ajaran Alkitab tapi ajaran Yunani. Kehendak bukanlah belongs to person melainkan belongs to nature/substance.Di dalam Reformed Catechism Confession --dalam hal ini kita setuju dengan Roma Katholik, dan juga dengan Eastern Orthodox-- kehendak Anak, kehendak Bapa, kehendak Roh Kudus itu satu kehendak, bukan tiga (kalau 3 kehendak berarti 3 Allah), karena kehendak itu belongs to the property of nature/substance bukan to person. Yesus punya 2 kehendak --kehendak manusia dan kehendak ilahi-- karena Dia memiliki 2 natur, sebab kehendak itu belongs to nature, bukan person. Waktu Yesus bergumul di Taman Getsemani, Dia bergumul dalam kehendak manusia dan kehendak Allah yang ada pada-Nya. Itu berarti ketika dikatakan di sini “Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri”, kita musti tafsir menurut kehendak manusia-Nya Yesus punya kehendak-Nya sendiri yang tidak harus sama dengan kehendak ilahi. Konsili Chalcedon mengajarkan not to be confused, kehendak manusia dan kehendak ilahi bukan hal sama. Kita tidak bisa begitu saja mengatakan pasti sama, meski memang dalam diri Yesus pastinya sinkron karena Dia tidak pernah berdosa. Di sini Yesus menjadi model, Yesus itu mediator kita, di dalam Dia kita menemukan semuanya. Waktu Yesus bergumul di Taman Getsemani antara kehendak manusia dan kehendak ilahi, akhirnya kehendak manusia-Nya  taat kepada kehendak ilahi-Nya. Ini menggambarkan kita seharusnya taat kepada kehendak Ilahi, kehendak Tritunggal itu, di dalam kehidupan kita.

Yesus punya kehendak sendiri --kehendak manusia-- karena Dia ber-inkarnasi, tapi Dia mengatakan “Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku”. Kalimat ini meaningful  kalau di-share kepada kita manusia yang mau berusaha taat kehendak Tuhan; kalimat ini jadi tidak meaningful kalau dikatakan dalam percakapan inter-Trinitarian sebelum Yesus inkarnasi, karena kehendaknya satu. Lagipula dalam kalimat tadi ada perkataan ‘Dia yang mengutus Aku’ sedangkan waktu itu Yesus juga belum diutus, sehingga ini merupakan satu petunjuk bahwa kalimat ini tidak bisa dimengerti dalam tafsiran inter-Trinitarian karena dalam inter-Trinitarian kehendaknya cuma satu. Waktu Yesus berinkarnasi, Yesus mengambil natur manusia di dalam diri-Nya sehingga Dia punya kehendak manusia, bukan jadi 2 personalitas/pribadi. Yesus punya 2 natur karena itu ada 2 kehendak. Ini ajaran ortodoks; dalam Maximus The Confessor, salah satu dari Seven Ecumenical Councils, membahas tentang ini (meskipun orang Reformed dan Lutheran fokus pada 2 konsili saja). Yesus mengatakan, “Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku”. Dengan kalimat ini Dia mengundang Saudara dan saya untuk juga belajar seperti Dia, untuk juga tinggal di dalam Dia, untuk juga tidak menuruti kehendak kita sendiri yang jelas punya human will tapi belajar taat pada kehendak ilahi.

Seringkali memang ada tuduhan seperti ‘Tuhan itu bagaimana, sih? Satu sisi Dia menghendaki semua orang diselamatkan --free offer of grace-- tapi Dia memilih sebagian orang’, ada tension di sini. Lalu dalam sistematik teologi Reformed dijelaskan, yang pertama adalah kehendak Allah yang umum yang dinyatakan (God’s revealed will), dan yang kedua adalah kehendak kedaulatan Allah (God’s sovereign will). Kita membuat diferensiasi karena Alkitab memang mengajarkan seperti itu. Yudas, waktu dia berdosa menjual Yesus, itu jelas melawan kehendak Allah (God’s revealed will), tapi di sisi yang lain juga menggenapkan kehendak Allah (God’s sovereign will). Bagaimana pelanggaran Yudas bisa sekaligus menaati dan melanggar kehendak Tuhan? Ini berarti Tuhan punya 2 kehendak yang bertentangan, bahwa ada God’s revealed will yang tidak selalu cocok dengan God’s sovereign will? Kamp konsentrasi Auschwitz itu sesuai dengan God’s sovereign will tapi bertentangan dengan God’s revealed will; ini tensional, bagaimana menyelesaikannya?

Selama kita masih berada di dalam dunia yang berdosa ini akan selalu tensional, problemnya di sini. Nanti waktu kita di surga,  God’s revealed will tidak ada pertentangan sama sekali dengan God’s sovereign will, semua yang terjadi di sana betul-betul sepenuhnya purely God’s sovereign will dan sepenuhnya purely God’s revealed will, tidak ada orang yang berdosa di surga. Intinya, ini bukan sesuatu yang diselesaikan secara filosofis, problemnya adalah karena dosa. Dosa itulah yang membuat kehendak Tuhan terlihat dari bawah seperti terkoyak, seakan Tuhan itu schizophrenia. Tuhan pastinya tidak schizophrenia, tapi mengapa kehendak-Nya bisa bertentangan? Persoalannya ada pada kita. Persoalannya ada pada perspektif dunia kita yang berdosa. Kalau tidak ada dosa, tidak ada pertentangan itu. Jadi ini bukan sesuatu yang harus kita selesaikan dengan filosofis yang begitu rumit sampai bisa sinkron --itu useless and meaningless-- melainkan diselesaikan dengan ketaatan. Taat saja. Kalau kita taat, tidak ada benturan  God’s sovereign will dan God’s revealed will. Mengapa ada benturan? Karena kita tidak taat. Kalau kita taat --seperti Yesus taat-- bukan melakukan kehendakku sendiri melainkan kehendak Bapa, maka kita tidak ada problem dengan God’s sovereign will versus God’s revealed will, karena waktu saya taat yang terjadi adalah God’s sovereign will, dan waktu saya taat saya juga sesuai dengan God’s revealed will. Sinkron. Yang merusak adalah dosa kita. Tapi ini juga gambaran yang realistis karena memang kita ada dalam dunia yang sudah jatuh, kita masih berdosa, sehingga ada perspektif “keterkoyakan kehendak Allah” ini. Oleh karena itu, taatlah. Waktu kita taat, kita masuk ke dalam the idea of the simplicity of God. Tuhan itu simpel, satu. Waktu kita taat, tidak perlu rumit  ‘ini tapi bukan itu, itu tapi bukan ini’,tidak perlu  paradoxical tension, dsb. Waktu taat, kita mengerti artinya God’s being simple, satu Tuhan, yang tidak terkoyakkan itu. Demikianlah Yesus tidak menuruti kehendak-Nya sendiri melainkan kehendak Bapa yang mengutus-Nya.

Ayat 31 Yesus tidak bersaksi tentang diri-Nya sendiri, karena kesaksian tentang diri sendiri itu kesaksian yang tidak benar. Ini melawan Narcissistic Personality Disorder yang sangat marak sekarang, orang terus bicara tentang dirinya sendiri. Yesus itu waras, Dia tidak ada narcissistic disorder karena Dia tidak bicara tentang diri-Nya sendiri. Ada yang lain yang bersaksi tentang Dia; “... dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar”, yaitu Bapa. Ada banyak saksi seperti cerita di pasal 1 dan pasal 2 yaitu Yohanes Pembaptis, murid-murid yang pertama; dan yang pertama adalah kesaksian Bapa. Bapa adalah yang pertama bersaksi sebagaimana ditekankan dalam Injil sinoptik “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” --kesaksian Bapa tentang Sang Anak.

Kiranya Tuhan memberkati kita, kiranya Tuhan menyempurnakan kehidupan kita untuk lebih menyerupai Tuhan kita.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)