Summary 27 Aug 2017

 

Yesus di Tirus dan Sidon (Markus 7:24-37)

Relay Khotbah 27 Agustus 2017

Vik. Jethro Rachmadi

Salah satu pertanyaan yang paling sentral dalam kitab Injil adalah “Siapakah Orang ini?” seperti juga dalam biografi merupakan satu pertanyaan paling besar yang mau dijawab lewat tulisan tersebut. Kalau kita melihat dalam spektrum kepercayaan orang akan siapa itu Allah, tentu kita menemukan ada banyak keragaman. Di satu sisi, yang bisa kita temukan dalam pendekatan yang lebih kuno, Allah itu seperti dewa yang haus darah atau seperti seorang polisi yang di hadapannya kita harus berkelakuan baik dan jika tidak bisa kena hukuman. Spektrum yang lain lagi --pendekatan yang lebih modern-- Allah itu seperti suatu kuasa yang bisa kita akses kapan pun kita perlu, sangat dekat, dsb. Dan waktu kita melihat bagian ini --cerita mengenai perempuan Siro-Fenisia dan orang yang bisu tuli di Sidon-- salah satu hal yang kita dapatkan adalah gambaran Tuhan yang tidak seperti kedua ekstrim tadi. Banyak komentator memperlakukan kedua cerita ini sebagai satu cerita yang memang harus diberikan secara bersamaan.

Sedikit latar belakangnya: ini adalah satu kisah yang cukup unik dalam kitab Markus karena tempat yang disebutkan di sini mungkin satu-satunya tempat di luar Israel yang dikatakan bahwa Yesus melayani di situ. Daerah Tirus, Sidon, Dekapolis adalah daerah orang-orang kafir/gentiles, daerah orang-orang Helenistik, bukan Yahudi; dan mungkin selain daerah-daerah ini, Tuhan Yesus tidak pernah melayani di luar Israel. Jafi kita bisa melihat nampaknya ada hal yang sengaja mau diberitakan melalui hal ini.

Cerita yang pertama yaitu mengenai perempuan Siro-Fenisia. Dikatakan di ayat 24: Lalu Yesus berangkat dari situ (dari daerah Yudea) dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Mengapa Tuhan Yesus datang ke daerah kafir ini? Apa tujuan-Nya? Dikatakan di situ bahwa Tuhan Yesus tidak mau ada orang mengetahui kedatangan-Nya, maka mungkin sekali Tuhan Yesus mau mencari kesunyian, semacam tempat saat teduh. Kita baca di bagian-bagian lain, Tuhan Yesus lumayan sering menyingkir dari keramaian mencari tempat yang sunyi untuk berdoa. Kita juga bisa mengerti hal ini --dari level manusia-- karena di awal pasal 7 Dia baru saja ‘perang terbuka’ dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di daerah Israel. Mereka perang terbuka mengenai adat istiadat/ ritual pembasuhan (cleanliness), dan di situ ada kalimat yang terkenal dari Tuhan Yesus yaitu: “yang menajiskan bukan yang masuk dari luar melainkan yang keluar dari hati”. Jadi ada kemungkinan memang Tuhan Yesus datang ke daerah ini mau mencari kesunyian, tapi tidak berhasil, ada orang yang sudah mendengar dan langsung mendatangi-Nya lalu tersungkur di kaki-Nya, yaitu wanita ini.
Dikatakan bahwa wanita ini orang Siro-Fenisia,  berarti dia orang kafir, bukan orang Israel, tapi dia tinggal di daerah perbatasan (karena daerah tersebut memang perbatasan antara daerah Israel dan daerah kafir). Orang yang tinggal di perbatasan seperti ini pasti tahu adat istiadat Yahudi, bahwa orang Yahudi peka sekali soal kenajisan, apa yang bersih dan apa yang tidak, sebagaimana mereka baru saja perang terbuka mengenai hal ini dengan Tuhan Yesus. Dan dalam hal ini, perempuan itu pasti tergolong perempuan yang najis/ sangat kotor/ unclean, mirip perempuan Samaria, bahkan lebih rendah lagi, sehingga dia tidak mungkin ada kredibilitas untuk mendekati seorang rabi Yahudi. Secara etnis, dia bukan Yahudi. Secara keagamaan, dia kafir. Secara jenis kelamin, dia wanita. Dan lebih parah lagi, dia adalah seorang ibu yang anaknya kerasukan roh jahat, yang kalau dalam bahasa aslinya dikatakan ‘unclean spirit’ kontras dengan bagian sebelumnya ketika Tuhan Yesus berhadapan dengan orang-orang yang bersikeras menuntut cleanliness dan cleanliness. Tapi wanita ini tetap datang meski dia tahu adat istiadat Yahudi tadi.

Di ayat 26 dikatakan: Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Kata ‘memohon’ di sini bentuknya present progressive, sehingga lebih tepat diartikan bahwa dia terus-menerus memohon kepada Kristus untuk menyembuhkan anaknya. Bahkan lebih dramatis lagi bagian paralelnya di Matius 15; di situ dikatakan:  ‘Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." ‘ Jadi ini wanita yang begitu berani, begitu mati-matian mau menghadap Tuhan Yesus, menerobos semua batasan sosial. Mengapa? Kita tentu tidak perlu terlalu heran karena ini menyangkut anaknya; waktu orangtua mendapati anaknya dalam bahaya, dia tidak akan berpikir lagi mengenai diri, dan dia akan melakukan segala sesuatu yang perlu demi anak tersebut selamat. Jadi keberanian wanita ini sebenarnya cukup wajar, tapi yang unik bukanlah soal keberaniannya melainkan bagian berikutnya, yaitu respon dia terhadap yang Tuhan Yesus katakan.

Di ayat 27 dikatakan: Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Apa artinya? Ini hinaan.  ‘Tuhan saya mau sesuatu dari Kamu’ lalu dijawab ‘Gak bagus kasih sesuatu ke anjing’; berarti kamu itu anjing, jelas sekali di sini. Dan ini bukan cuma hinaan dalam terminologi Yahudi yang menganggap anjing najis, namun juga dalam terminologi orang-orang kafir yang menganggap anjing bukan sesuatu yang bersih, dan sama seperti terminologi kita hari ini juga. Waktu orang mengatakan kepada orang lain “anjing” itu sudah pasti hinaan, seperti waktu Goliat  --yang orang kafir-- berhadapan dengan Daud, dia mengatakan: “Anjingkah aku sehingga engkau mendatangi aku dengan tongkat ?” Dalam pemikiran yang cukup universal, anjing itu sesuatu yang hina, kotor, najis; menyambung tema dalam bagian sebelumnya, anjing termasuk sesuatu yang unclean. Secara common sense meski anjing peliharaan Saudara sangat bersih dan dimandikan setiap hari, kalau Saudara sedang makan bersama anak-anak dan anjing itu naik ke meja, tentu Saudara tidak suruh anjing itu makan sama-sama dari piring anak Saudara. “Turun, kamu anjing, kamu makan di bawah”, itu yang akan Saudara lakukan.

Tapi di sisi lain, ini bukan cuma satu hinaan melainkan juga satu tantangan. Ini adalah satu metafor tantangan yang Tuhan berikan kepada wanita tersebut, dan dia mengerti. Kita bisa mendapat sedikit petunjuk mengenai hal ini --yang terlihat seperti hinaan tapi sebenarnya bukan-- dari istilah yang dipakai untuk kata ‘anjing’ di situ. Istilah yang dipakai bukan kýōn  (anjing pada umumnya) tapi kynárion  (puppies; bentuk diminutif/ bentuk sayang dari kata ‘anjing’) yang lebih mengacu kepada binatang peliharaan bukan anjing liar. Ini sangat tepat, karena Tuhan Yesus mengatakannya kepada seorang ibu. Seakan-akan Tuhan Yesus mengatakan “kamu ‘kan seorang ibu, kamu tahu dong bagaimana caranya kalau keluarga sedang makan” (orang-orang Greco-Roman pada waktu itu memiliki kebiasaan makan dengan cara si ayah membawa piring yang paling besar, lalu anak-anak mengambil dari piring ayahnya, setelah itu baru binatang-binatang peliharaan makan sisanya). Kita juga bisa mengerti bahwa Kristus tidak pernah meninggalkan Israel, Dia tidak pergi ke Roma seperti Paulus atau menjumpai sida-sida dari Etiopia seperti Filipus; dalam hidup-Nya ada misi khusus kepada Israel karena Dia memang menghadirkan diri-Nya sebagai penggenapan wahyu Allah, janji Allah, nubuat-nubuat, yang diberikan kepada orang Israel. Setelah Dia mengerjakan pekerjaan-Nya itu --setelah Dia mati dan bangkit-- barulah Dia segera menginstruksikan murid-murid-Nya untuk pergi ke seluruh dunia. Jadi memang ada urutan seperti ini. Pada dasarnya yang mau diberitakan Tuhan Yesus di bagian ini adalah “sekarang belum waktumu, kamu bagiannya nanti”.

Dan respon perempuan ini ada 2 bagian yang besar. YANG PERTAMA: “Ya, benar Tuhan”, dia mengamini yang Tuhan Yesus katakan, bahwa dirinya bukan bagian dari Israel, dirinya tidak menyembah Allah Israel, tidak menerima Sepuluh Hukum dan janji-janji serta nubuat-nubuat. Ini cukup mengagumkan. Perempuan ini tidak ngamuk-ngamuk merasa dinista atau dizolimi, dsb. Dia tidak mengatakan “masa saya dikatakan anjing, bukankah saya juga gambar dan rupa Allah! enak saja bilang begitu”, melainkan dia menerima penilaian Kristus itu. YANG KEDUA, dia mengatakan “tapi anak-anak anjing itu --puppies itu, kynárion  itu-- juga makan dari remah-remah yang jatuh”. Jadi perempuan ini tidak berhenti. Dia mengerti dirinya tidak layak duduk di meja, tapi dia tidak lalu pulang dan mengatakan “ya, sudahlah, berarti tidak ada bagian buatku”, melainkan ‘memang tempatku bukan duduk di meja, tapi ada cukup kasih karunia di atas meja itu bahkan untuk mereka yang duduk di lantai; dan saya mau bagian itu sekarang’. Apa artinya? Yaitu ada humility (kerendahan hati) --“ya, Tuhan, saya memang bukan itu dan  saya tidak minta itu juga”-- dan juga confidence, assertion (ketegasan/ menuntut dengan tegas) --“tapi saya minta sesuatu”. Dan Kristus memuji respon seperti ini; dalam bahasa aslinya kalimatnya bukan “karena engkau mengatakan kalimat ini, maka pergilah anakmu sudah selamat” melainkan lebih tepat diterjemahkan sebagai “kalimat yang luar biasa! (such an answer!), pulanglah, dan anakmu sudah sembuh”.

Ini sesuatu yang asing buat kita. Kita, khususnya yang tinggal di kota, sudah belajar budaya urban yaitu berani menuntut hak; ‘kalau saya punya hak, saya harus menuntut hak tersebut, tidak menunggu orang memberikannya kepada saya’. Memang ada benarnya. Tapi masalahnya, kita cuma belajar ‘menuntut ketika kita berhak’ sedangkan keunikan perempuan ini adalah dia menuntut --dan ada confidence dalam tuntutannya-- tapi bukan karena dia berhak; dia menuntut justru karena dia tidak layak, dan di sisi lain dia menerima statusnya sebagai orang yang tidak ada hak menerima dari meja tersebut. Aneh sekali. Kita sulit sekali menuntut yang memang kita tidak layak mendapatkan itu; bagi kita, bagaimana bisa sinkron antara humility dan confidence. Tapi inilah yang dilakukan wanita itu. Dia bukan menuntut atas dasar hak, melainkan menuntut tanpa dasar hak. Jadi apa dasarnya? Yaitu yang dia katakan: “saya tidak datang kepada-Mu berdasarkan diriku, kebaikanku, tapi saya datang kepada-Mu berdasarkan Engkau, berdasarkan kebaikan-Mu, belas-kasihan-Mu, anugerah-Mu”. Wanita ini bukan mengatakan “berikan kepadaku apa yang aku layak menerima atas dasar kebaikanku”, melainkan “berikan kepadaku apa yang aku tidak layak menerima atas dasar kasih karunia-Mu”. Ada tuntutan, tapi tuntutan yang bukan berdasarkan hak saya atau diri saya. Hal ini nampaknya seperti jarang kita lihat, tapi sebenarnya tidak juga.
Ada satu film berjudul “Sabrina”, remake dari film tahun 1954, yang kemudian diperankan Harrison Ford dan Julia Ormond sebagai Sabrina. Singkat cerita, Harrison Ford orang yang super kaya dan agak arogan, dia jatuh cinta kepada wanita yang bekerja sebagai pembantu di rumahnya, Sabrina. Lalu karena satu dan lain hal, wanita ini kabur ke Paris, pergi dari padanya. Harrison Ford mengejar ke Paris, menemui ayah wanita ini untuk dapat bertemu kembali dengan Sabrina.Tapi sang ayah mengatakan, “Kamu tidak layak menerima dia!” lalu respon dari Harrison Ford adalah, “Ya, saya tahu saya tidak layak, tapi saya membutuhkan dia”, maka sang ayah pun memberikan alamat anaknya, dan mereka bertemu kembali. Apakah ini sebenarnya? Inilah Injil. Kita tahu secara common sense, seandainya waktu si ayah mengatakan ‘kamu tidak layak mendapatkan dia’, Harrison Ford menjawab, “Apa?! Tidak bisa! Kamu kurang ajar ya, saya ini orang kaya, dia cuma pembantu, dia harusnya bersyukur bisa dapat orang seperti saya!”, maka begitu dia mengatakan ‘saya berhak’, itu adalah bukti bahwa dia memang tidak berhak, tidak pantas. Tapi begitu dia mengatakan ‘saya tidak pantas, tidak layak’, itulah justru saatnya sang ayah mengetahui dia layak.

Inilah Injil. Ini pola yang sangat jelas dalam pengajaran Tuhan Yesus; “kamu kehilangan nyawamu, kamu mendapatkannya”, “kamu yang terbelakang, kamu menjadi yang terdahulu”, “kamu yang merendahkan diri akan ditinggikan, kamu yang meninggikan diri akan direndahkan”. Dua bagian ini harus dipegang bersamaan. Pertama, wanita ini menerima penilaian Tuhan kepadanya, mengakui ketidak-layakannya. Dalam hal ketidak-layakan ini, orang yang sudah cukup lama jadi Kristen biasanya cukup mudah mengerti --memang benar, Tuhan, saya anjing di hadapan-Mu, saya memang manusia berdosa, tidak layak di hadapan-Mu-- kira-kira seperti itu. Tapi ada sisi yang kedua, yang kita sebagai orang religius seringkali tidak menangkap, bahwa justru ketidak-layakan inilah yang menggerakkan wanita ini untuk menuntut. Dia tahu ‘saya memang tidak layak’ tapi dia tidak pergi dan berpikir ‘jadi memang tidak ada roti untuk saya’, melainkan mengatakan “Saya tahu, Tuhan, bahwa ada belas kasihan cukup di meja itu, bahkan untuk saya”. Saya memang tidak pantas duduk di meja, dan saya tidak minta itu, tapi saya tahu hati-Mu cukup luas untuk mereka yang bahkan duduk di lantai, dan itulah yang saya minta. Ada confidence tapi yang berdasarkan diri Orang lain, yaitu Tuhan, bukan diri sendiri.
Hal ini memberitahukan kepada kita juga bahwa ada dua cara untuk menolak Kristus sebagai Juruselamat. Yang pertama, pride/superiority complex yang mengatakan “Kurang ajar menyebut saya anjing, saya tidak perlu Kekristenan! Saya tidak perlu Allah! Kekristenan seperti kruk bagi orang yang sakit tapi saya bisa jalan dengan kaki saya sendiri, saya tidak perlu itu semua!” Atau versi yang lain yang mungkin lebih dekat dengan hidup kita yaitu kita bertanya “Siapa kamu, kritik-kritik saya dari mimbar? Saya patut mendapatkan respek lebih tinggi daripada ini, saya tidak mau dengar mimbar sebagai perkataan dari firman Tuhan”. Mungkin kita berpikir bahwa mengkritik dari mimbar itu tidak pantas, apalagi kalau yang dkritik lebih berumur daripada pengkotbahnya. Perempuan ini sebenarnya juga bisa meresepsi perkataan Kristus dalam level budaya seperti itu, dengan mengatakan ‘Maksud-Mu apa? Karena saya kafir, orang Siro-Fenisia, maka saya anjing? Rasis sekali, tidak pantas!’ Tapi tidak. Perempuan ini menerima perkataan Tuhan Yesus dalam level spiritual; ini tantangan dari Tuhan Yesus yang dia berhasil sadari maksudnya. Ini bukan bicara soal kafir atau Kristen, soal Yunani atau Yahudi. Markus, dan juga Matius, sengaja menaruh bagian ini persis setelah bagian yang Tuhan Yesus baru saja mengatakan bahwa yang menajiskan orang bukan yang datang dari luar melainkan yang dari dalam hati, oleh sebab itu yang menajiskan seseorang bukanlah statusnya sebagai orang Yunani atau Yahudi, sebagai orang yang berumur atau yang muda. Wanita ini menerima perkataan Tuhan Yesus bukan dalam level budaya seperti itu melainkan dalam level spiritual. Maka waktu Saudara sulit menerima kritikan dari atas mimbar --tempat di mana hamba-hamba Tuhan sedang mewakili Tuhan karena bicara yang bukan dari dirinya melainkan dari Alkitab-- itu problem, karena Saudara mungkin menerima firman Tuhan bukan dalam level spiritual melainkan dalam level budaya. Saudara jadi menempatkan diri lebih tinggi daripada firman Tuhan, seakan Saudara sedang mengatakan “saya bukan anjing!”

Cara yang kedua untuk menolak Tuhan adalah juga melalui pride, tapi fenomenanya bukan menaruh diri di atas (superiority complex), melainkan menaruh diri terlalu di bawah (inferiority complex), “O ya, saya memang anjing, saya tidak layak; dan karena saya tidak layak, maka tidak ada kasih karunia-Nya untuk saya, dosa saya terlalu besar”. Yang pertama tadi merasa terhina Tuhan atau dihina hamba Tuhan, sedangkan yang kedua menghina Tuhan. Menghina bahwa kasih karunia Tuhan tidak cukup banyak. Menghina bahwa kasih pengampunan Tuhan tidak cukup luas. Mengatakan bahwa pelanggaran saya lebih lebar daripada rangkulan Tuhan.
Satu contoh, ada orang yang konseling, mengatakan: “Saya ragu dengan status keselamatan saya. Saya percaya Tuhan sudah menyelamatkan saya, saya orang Kristen. Tapi saya lihat orang lain yang sepertinya sangat religius, sangat Kristen, suatu hari karena penderitaan, dsb. akhirnya murtad, lepas, keluar dari Gereja, menghina Tuhan, dsb. Jadi saya pikir saya mau rendah hati, karena saya tidak tahu bagaimana masa depan; kalau ada penderitaan begitu besar datang, saya tidak tahu seberapa kuat saya menghadapi hal itu”. Kedengaran sangat rohani, sangat rendah hati. Tapi tidak. Ini sesungguhnya cara untuk menolak Tuhan. Dengan cara apa? Lewat pride juga, karena pada dasarnya itu mengatakan bahwa pelanggaranku lebih lebar daripada rangkulan-Nya. Saya menjawab dia begini: “Pertama, penderitaan memang bisa membuat goncang iman, tapi kalau melihat sejarah orang Kristen, penderitaan juga bisa membuat iman kokoh? Coba bandingkan berapa banyak kesaksian yang jadi berkat bagi orang lain justru karena dia menderita dan berapa banyak kesaksian yang jadi berkat bagi orang lain karena hidupnya sukses tidak pernah ada penderitaan? Hal kedua, yang lebih penting, waktu kita mengatakan seperti tadi, kita sedang menghina Tuhan bahwa Tuhan yang sudah memasukkan kita ke rumah-Nya ternyata tidak cukup kuat untuk mempertahankan kita di rumah tersebut, kasih-Nya kepada kita tidak cukup besar. Bukankah firman Tuhan mengatakan ‘tidak ada yang bisa merenggut mereka dari tangan Bapa’? Artinya, kalau bisa lepas dari tangan Bapa, kamu yang berada di dalam tangan Bapa itu somehow lebih kuat dari tangan Bapa. Benarkah begitu?” Awalnya orang ini seperti tidak mengerti, tapi di kemudian hari dia mengatakan, “Terima kasih, Pak, sekarang saya mengerti. Dan saya memilih untuk bersandar bukan atas dasar kekuatan saya tapi kekuatan Allah saya”. Itulah humility dan confidence; Injil itu mencakup dua-duanya, tidak bisa salah satu.

Sebagai kontekstualisasinya, kita bisa memikirkan mengapa hari ini kita mundur dari pelayanan? Alasan yang paling klasik adalah ‘saya belum bisa, saya belum sanggup’. Ini berarti dia belum menyadari bahwa dasar dari pelayanan bukanlah cuma humility/ kerendahan hati di hadapan Tuhan, tapi juga confidence terhadap kebesaran Tuhan. Bagian ini hanya Tuhan yang bisa mengubah, dan mungkin juga waktunya memang belum tiba; dan melalui kotbah tentang prinsip ini, diharapkan Saudara bertumbuh. Kalau Saudara menangkap bagian ini, maka pelayanan Saudara --bukan cuma di Gereja tapi juga di masyarakat-- bukan cuma soal apa yang Saudara bisa atau tidak bisa lakukan, melainkan soal apa yang Dia bisa lakukan, yang Dia mau lakukan dan tidak mau lakukan. Masalahnya, apakah Saudara pernah memberi kesempatan untuk hal ini?

Satu contoh, kesaksian dari KKR Regional yang baru saja lewat. Seorang anak perempuan yang masih remaja/pemuda ikut melayani, dan dia sendirian bersama tukang ojek menuju tempat pedalaman (karena kurangnya pelayan, hampir tidak mungkin satu tempat dilayani berdua-berdua). Berbahaya sekali kelihatannya; dan orang yang bertemu dia pun seperti marah bahkan mengatakan “kamu ini gila ya, kalau kamu diapa-apain sama tukang ojek bagaimana?” Tapi kalimat selanjutnya agak ‘aneh’, orang tadi malah mengatakan “kamu harus memperbanyak keturunan”, maksudnya ‘seandainya ada 100, 1000 anak seperti kamu, Indonesia bisa berubah’. Memang benar ini suatu kebahayaan, tapi justru itu menjadi kesaksian, yang mungkin bahkan lebih powerful daripada kotbahnya. Mengapa bisa? Karena dia bukan melayani berdasarkan yang dia bisa lakukan atau tidak bisa lakukan, yang mengancam dia atau tidak mengancam dia, melainkan mengenai yang Tuhan mau kerjakan, yang Tuhan bisa kerjakan, lewat dia.

Kembali ke bagian ini, cerita selanjutnya adalah mengenai Tuhan Yesus pergi dari Tirus ke Sidon. Di daerah itu orang-orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan gagap (ayat 32). Satu hal yang menarik, di sini dicatat bahwa Tuhan Yesus melakukan beberapa hal yang agak ‘aneh’; Dia menarik orang tersebut ke tempat sepi, Dia memasukkan jarinya ke telinga orang itu, Dia mengambil ludah-Nya sendiri dan memasukkan jari-Nya ke lidah orang itu, kemudian Dia melihat ke langit, mendesah dengan dalam (terjemahan LAI ‘menarik nafas’), lalu berkata “Efata”, artinya ‘terbukalah’. Apakah maksud semua ini? Jurus-jurus atau ritual untuk menyembuhkan orang tuli dan bisu? Tidak. Tuhan tidak perlu ritual-ritual seperti ini. Tuhan tidak perlu pakai jurus-jurus seperti ini. Kita sudah melihat baru saja Dia melakukan mujizat tanpa ritual apa-apa, bahkan tanpa harus bertemu dengan orangnya, hanya berkata ‘pergilah, pulanglah, anakmu sudah sembuh’. Maka kesimpulannya, Tuhan Yesus melakukan semua “ritual” ini, bukanlah karena Dia butuh melainkan justru untuk memenuhi kebutuhan orang yang Dia layani, orang tuli dan gagap ini. Sederhana saja, semua yang Dia lakukan itu merupakan bahasa isyarat, karena orang ini tuli dan gagap. Pada dasarnya Dia sedang mengatakan “Saya akan melakukan sesuatu kepada kamu, Saya akan melakukan sesuatu bagi telingamu, Saya akan melakukan sesuatu bagi mulutmu, dan sumbernya adalah dari Atas”. Kira-kira begitu. Tuhan Yesus turun ke level orang yang dilayani-Nya. Dia beradaptasi, Dia berfokus pada kebutuhan orang yang dilayani-Nya.

Selain itu, mengapa Tuhan Yesus membawa orang ini ke tempat sepi? Bukankah harusnya semua orang bisa lihat, ‘kan mau mempermuliakan Tuhan? Saya pernah punya teman yang tuli dan gagap; sebenarnya dia hanya tuli, tapi orang yang tuli jadinya tidak bisa bicara dengan baik. Dia bisa bicara sedikit-sedikit karena pernah bisa mendengar (menjadi tuli total sekitar usia 9 tahun), tapi tetap saja cara bicaranya aneh sekali bagi kita, dan orang seperti ini tanpa perlu dijaili, sudah pasti akan jadi tontonan. Tuhan Yesus mungkin sangat peka dengan hal ini, orang ini adalah orang yang seumur hidup jadi tontonan, maka Dia membawanya ke tempat sepi. Tuhan Yesus tidak memikirkan ingin dikenal sebagai Pembuat Mujizat, Dia membawa orang ini ke tempat sepi supaya dia tidak jadi tontonan orang-orang. Kepekaan hati yang luar biasa.

Ini nyambung dengan aplikasi soal melayani. Orang-orang yang baru pulang KKR Regional, hampir selalu ceritanya mengenai diri, ‘saya pergi KKR Regional lalu saya dapat berkat --merasakan penyertaan Tuhan, melihat alam yang indah, melihat banyak orang yang dilayani, dst.’. Memang itu tidak salah, tapi seringkali fokusnya di situ terus, yaitu diri kita, bukan orang yang kita layani. Tuhan Yesus tidak seperti itu. Tadi kita sudah mengatakan bahwa pelayanan bukan berfokus pada yang kita bisa, kita mau, kita mampu, kita aman, melainkan yang Tuhan mau, dsb.; kalau begitu, apakah pelayanan berarti jangan peduli kamu ada talenta atau tidak, ada kemampuan atau tidak, yang penting beriman kepada Tuhan, yang Dia bisa lakukan, bukan yang kamu bisa? Tidak. Itu sebabnya dua cerita dalam bagian ini harus dipegang bersamaan, karena ternyata ada batasannya dalam pelayanan kita. Pelayanan memang bukan yang kita bisa dan kita mau, tapi itu tidak lalu berarti pelayanan kita jadi tidak terbatas. Ada batasannya. Batasannya adalah kebutuhan orang lain yang kita layani itu, terpenuhi atau tidak. Memang bukan berfokus pada yang kita mau dan kita bisa, tapi harus berfokus pada yang orang lain butuhkan. Lihatlah kepekaan hati Tuhan Yesus kepada orang tadi; Dia pakai bahasa isyarat, membawanya ke tempat yang sepi. Tuhan Yesus sensitif secara emosi, sensitif secara komunikasi.

Ada satu hal yang paling menyedihkan hati saya dalam KKR Regional yang baru lalu. Seperti biasa, sebelumnya kami mendatangi sekolah-sekolah, menemui Kepala Sekolah, menanyakan apa pergumulan sekolah tersebut. Tujuan bertanya, sejujurnya untuk mendapatkan bahan yang nanti bisa dimasukkan dalam kotbah kepada murid-murid di situ, misalnya kalau di sekolah tersebut pergumulannya pornografi, atau narkoba, atau ada yang jadi pengedar narkoba, dsb. Tapi ternyata tidak ada satu pun guru yang saya tanya, mengatakan hal-hal semacam itu; semua mengatakan “infrastruktur; kami perlu lebih banyak ruangan, dari 500 anak yang mendaftar cuma bisa diterima 200 orang, itu sudah pas-pasan; kami butuh lebih banyak sekolah, kami butuh universitas”. Saya sedih sekali. Tuhan Yesus sendiri membatasi diri-Nya atas dasar kebutuhan orang yang dilayani, tapi seringkali kita sebagai Gereja, jangankan pergi KKR Regional, kotbah tidak menarik sedikit Saudara tidur, ada kesulitan karena car-free day Saudara malas datang. Mengerikan.

Hal yang terakhir, tentang kekuatan untuk kita boleh menghidupi hidup yang seperti ini, yaitu di ayat 34. Di situ ada satu hal yang aneh, dikatakan Dia menarik nafas waktu menyembuhkan orang ini. Apa maksudnya? Ada yang mengatakan itu simbol doa. Sebenarnya di sini Tuhan Yesus bukan menarik nafas tapi sigh/ mendesah; kata aslinya memakai istilah stenazó yang artinya bukan cuma menghela nafas tapi sebuah deep sigh/ groan/ keluhan. Ini kata yang sama yang dipakai Paulus di Roma 8:23 ketika dia mengatakan bahwa seluruh ciptaan seperti sedang mengeluh/ mendesah/ stenazó seperti sakit bersalin menantikan pemulihan dari Allah. Mungkin saja Tuhan Yesus merasakan penderitaan orang itu sehingga Dia mengeluh, tapi nampaknya ada sesuatu yang lebih dalam daripada itu. Mengapa? Karena setiap kali Tuhan Yesus melakukan mujizat, ada harga yang Dia harus bayar. Hal ini bahkan sudah muncul sejak mujizat yang pertama waktu Maria minta Yesus bertindak dalam perkawinan di Kana. Di situ Tuhan Yesus mengatakan, “Mau apa engkau, perempuan, jam-Ku belum tiba”. Apa maksudnya? Jam dalam literatur Johannine selalu mengacu pada jam kematian-Nya, jam penderitaan-Nya di atas kayu salib. Mengapa waktu Tuhan Yesus diminta mengubah air jadi anggur, Dia berespon seperti ini? Karena Dia tahu, kalau Dia mengubah air menjadi anggur, harga yang harus Dia bayar adalah mengubah darah-Nya menjadi anggur bagi kita.

Sama halnya dengan itu, terjadi di bagian ini. Bagaimana kita bisa cukup yakin? Karena istilah ‘gagap’ (mogilalos) tidak pernah muncul lagi di seluruh kitab Perjanjian Baru; istilah mogilalos ini sangat jarang dan hanya muncul di Alkitab Perjanjian Lama edisi Yunani dalam Yesaya 35:6, nubuat tentang Mesias. Dikatakan di situ, ketika Tuhan datang, orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu/ mogilalos akan bersorak-sorai. Ini kata yang sama persis. Dan ini adalah nubuatan mengenai Sang Mesias, karena ayat 4-nya mengatakan: Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!" Apa maksudnya datang dengan ganjaran Allah tapi menyelamatkan? Bagaimana bisa? Kita tahu jawabannya, karena Dia datang bukan untuk membalas dan mengganjar, tapi Dia datang untuk menanggung pembalasan dan ganjaran itu.

Tuhan Yesus mendesah karena Dia tahu, Dia menyembuhkan dan hanya bisa menyembuhkan orang yang bisu ini karena Dia sendiri akan di-bisu-kan, “seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian, dan seperti anak  domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya”. Saudara masih ingat ayat itu? Sekarang Saudara tahu alasan mengapa kita, yang adalah anjing-anjing, boleh datang dengan confidence bahwa kasih karunia Tuhan lebih besar dari dosa-dosa kita, bahwa keluasan hati-Nya melebihi lebarnya pelanggaran-pelanggaran kita, yaitu karena di atas kayu salib kita melihat Anak Allah diusir dari meja Bapa-Nya tanpa menerima roti, supaya kita --anjing-anjing-- boleh duduk di meja tersebut. Dengan kata lain, Sang Anak harus menjadi anjing supaya kita, anjing-anjing, boleh menjadi anak-anak Bapa.

Kalau Saudara melihat hal ini, Saudara akan punya pada saat yang sama, humility dan confidence, menuntut belas kasihan Allah tapi bukan menuntut berdasarkan kebaikan diri melainkan kebaikan-Nya. Saudara tidak akan jatuh kepada superior complex yang mengatakan “aku bukan anjing!”, Saudara juga tidak akan jatuh kepada inferior complex yang mengatakan “O, ya sudah, saya memang anjing, saya pergi saja”. Saudara tidak akan merasa terhina oleh firman Tuhan, tapi Saudara juga tidak akan menghina Tuhan dan pergi dari-Nya karena merasa ‘keanjingan’-mu lebih besar daripada belas kasihan-Nya. Lihat, Dia menukar diri-Nya dengan engkau. Semakin ini riil dalam hidup Saudara, semakin Saudara akan sanggup untuk turun, masuk ke dunia, melayani bukan atas dasar kekuatan diri tapi kekuatan-Nya, dan berfokus bukan pada kebutuhan diri tapi kebutuhan orang yang Saudara layani; karena Kristus adalah Allah yang lebih dahulu melakukan semua itu kepada kita.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)