Summary 3 Sept 2017

 

Makan dan Mengenal (Yohanes 6:41-51)

Relay Khotbah 3 September 2017

Pdt. Billy Kristanto

Kalau kita membaca pasal ini, banyak terjemahan menggunakan pemenggalan dari ayat 41-51. Ini pemenggalan yang tepat. Meski dalam terjemahan LAI dipenggal lagi di ayat 44 dan 48, tapi kita dapat melihat ayat 41-51 ini satu kesatuan.

Ayat 41 Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari surga." Di sini digambarkan respon orang-orang Yahudi yang bersungut-sungut. Waktu Yesus melakukan mujizat 5 roti dan 2 ikan mengenyangkan 5000 orang, itu seperti pengulangan peristiwa yang terjadi di padang gurun sebagaimana yang dicatat kitab Keluaran orang Israel diberikan manna, dan Yesus di sini mengenyangkan mereka, juga dengan roti/ manna. Mereka juga secara tepat mengaitkan itu dengan mengutip tradisi Keluaran, meski agaknya tanpa mengerti konteks yang ada di sana, yaitu teologi manna itu. Selain itu, dicatat di dalam Keluaran orang Israel bersungut-sungut di padang gurun, dan di sini mereka juga bersungut-sungut. Gambaran yang persis sekali, seperti deja vu. Mereka mengulangi yang dulu terjadi dan sudah dicatat dalam kitab Keluaran --yang harusnya jadi peringatan-- seakan menghidupkan cerita itu lagi, termasuk yang negatif pun diulangi lagi. Yohanes dengan sangat peka mencatat bagian ini untuk mem-paralelkan dan menunjukkan ini bukan sesuatu yang baru. Bersungut-sungut sudah terjadi dahulu, lalu pada saat itu terjadi lagi, dan pada zaman kita pun tetap terjadi, bahkan sampai Tuhan datang kembali masih juga terjadi orang yang bersungut-sungut.

Apa itu bersungut-sungut? Dalam bahasa Inggris-nya  ‘grumble’, kalau dicek dalam Thesaurus keluar kata ‘complain’. Memang grumble mirip sekali dengan complain, tapi di dalam tradisi Alkitab complain/ mengeluh itu masih diberikan tempat. Mengeluh dalam pengertian meratap karena kita meresponi penderitaan dengan keluhan, ratapan, kejujuran kita merasa sakit, merupakan hal yang tidak harus dipandang negatif, bahkan bisa jadi itu suatu pembentukan yang penting dalam kehidupan manusia. Tapi ‘bersungut-sungut’ bukanlah ratapan di hadapan Tuhan; sungut-sungut diwarnai dengan perasaan tidak puas atas kehidupan ini, ada perasaan menuntut, persis seperti ketika orang Israel tidak puas dengan manna yang diberikan Tuhan lalu mereka complain/ grumble, “Ini apa-apaan, kita mustinya ‘kan bukan cuma manna tapi ada ini dan itu, mengapa diberikan seperti ini??”  Memang dalam Pentateukh kita membaca bahwa sungut-sungut mereka bukan cuma masalah manna saja. Mereka bersungut-sungut karena urusan air yang mereka mau minum (Kel 15), bersungut-sungut karena kekurangan roti (Kel 16), bersungut-sungut urusan air lagi (Kel 17), mengeluh karena di padang gurun begitu sulit hidupnya (Bil 11), bersungut-sungut karena melihat ada kesulitan untuk menempati tanah perjanjian (Bil 14). Dan yang terakhir, yang mau kita pakai dalam pembahasan hari ini  yaitu mereka bersungut-sungut karena manna. 

Bilangan 11:4-6  Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: "Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat." Alkitab mengatakan mereka kemasukan nafsu rakus dan mengingat di Mesir ada daging, ikan, bawang, dsb.; urusannya bukan cuma soal selera saja. Waktu mereka refer to makanan Mesir, itu berarti mereka connected with Mesir (land of Egypt). Mereka harusnya berpaut pada tanah perjanjian (promised land) tapi mereka lebih suka tanah yang ada di Mesir; daripada mengikuti Yahweh, mereka lebih suka di Mesir dengan dewa-dewanya. Jadi makanan Mesir, tanah Mesir, dan dewa-dewa yang ada di Mesir, itulah yang menghancurkan iman mereka. Ini konteks yang penting kalau kita mempelajari Yohanes pasal 6.

Di bagian ini mereka bersungut-sungut, tapi sekarang dewanya bukan dewa-dewa Mesir melainkan perut mereka sendiri. Mereka mencari Yesus bukan karena melihat tanda tapi karena kenyang; kembali kepada persoalan yang sama yaitu dosa kerakusan yang akhirnya membuat mereka tidak bisa melihat perkara yang rohani, dan karena itu mereka bersungut-sungut. Tapi ada perbedaan juga antara Pentateukh dan Yohanes. Dalam Bilangan dicatat mereka bersungut-sungut karena makanannya cuma manna, tidak ada bawang ini itu dan macam-macam lainnya, mereka bersungut-sungut karena tidak bisa mencukupkan diri dengan yang Tuhan berikan. Sedangkan dalam Yohanes tidak dicatat ada problem roti tidak enak, dsb., justru mereka dikatakan kenyang. Ironis. Mereka merasa kurang, lalu bersungut-sungut; mereka kenyang, juga bersungut-sungut. Memang bersungut-sungutnya bukan karena rotinya tidak enak atau tidak ada isinya, dsb. melainkan karena Yesus mengatakan “Akulah Roti yang telah turun dari surga”; itulah sumber sungut-sungut mereka.

Dalam batas tertentu, kita dapat mengatakan mungkin mereka bisa menerima kalau Yesus mengatakan diri-Nya roti, suatu penjelasan metaforik seperti waktu Yesus dikatakan sebagai gembala atau terang. Tapi mereka tersandung dan bersungut-sungut waktu Yesus mengatakan “Akulah roti yang telah turun dari surga”. Dari dulu sampai sekarang, persoalannya adalah bahwa orang tidak bisa menerima misteri inkarnasi. Dalam Keluaran mereka tahu manna turun dari surga, melalui tangan Musa; di situ tidak ada kesulitan menerima tapi kesulitannya karena tidak ada bawang, ikan, dsb. cuma manna. Sedangkan di sini mereka mungkin tidak ada kesulitan dengan rotinya karena mereka dikenyangkan, yang mereka tidak bisa terima adalah konsep ‘Yesus turun dari surga’. Kekristenan akan terus jadi batu sandungan bagi orang yang tidak percaya atau sulit percaya klaim ini, yaitu bahwa Yesus mengatakan Dia turun dari surga.

Oleh karena itu, di sini mereka mengatakan: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari surga?" (ayat 42) --Dia ini ‘kan Yesus yang kita kenal dari kecil, kita tetangga-Nya; Dia ini anak Yusuf dan Maria, kita kenal bapa-ibu-Nya, koq Dia berkata ‘Aku telah turun dari surga’, apa-apaan kayak begini??. Prinsip ini kalau kita aplikasikan pada zaman kita masih ada kaitan juga; pengetahuan seseorang tentang latar belakang orang yang dia kenal sejak kecil, bisa menyebabkan dia sulit untuk melihat pekerjaan Tuhan di dalam diri orang itu. Kalau kita tahu terlalu banyak latar belakang seseorang, kemudian orang itu musti mengajar kita, kita jadi agak sulit untuk mendengarkan dia. Itu sebabnya Alkitab juga mengatakan seorang nabi sulit diterima di kampung halaman/ tempat asalnya, karena tempat asalnya tahu terlalu banyak tentang latar belakangnya. Kamu ‘kan dulu masih kecil, ingusan, saya yang tolong kamu, lalu kamu sekarang ngajar-ngajar kayak orang sombong banget, padahal lu dulu siapa?? Lu belum kenal Tuhan juga saya sudah kenal Tuhan duluan. Ada kesulitan untuk dapat melihat pekerjaan Tuhan dengan mata yang bersih. Demikian juga di bagian ini,  ini ‘kan Yesus yang waktu kecil suka lari-lari, sekarang Dia bilang Dia turun dari surga, mana bisa?? Dia ‘kan cuma keluar dari rahim ibu-Nya?! Orang Yahudi sulit untuk mengerti rahasia inkarnasi, logos yang menjadi daging itu. Sampai kapan pun, inkarnasi akan menjadi satu pengertian yang tidak bisa dipahami oleh manusia di dalam keberdosaannya. Perlu ada tarikan dari Bapa.

Yesus mengatakan kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut” (ayat 43). Waktu Yesus mengatakan “Akulah roti yang telah turun dari surga”, mereka mau menarik Yesus selevel dengan dirinya, seperti teman lama yang ‘gak usah kayak gitulah. Mungkin kita juga ada teman lama waktu SMP atau SMA lalu orang itu jadi sukses kaya raya, lalu waktu kita mau ketemu dia, dia sibuk, dan kita tersinggung, ‘gak sadar ya, dulu kita teman lama, sekarang jadi berubah mentang-mentang kaya, jadi direktur,dsb.’; padahal mungkin juga kita berubah, atau kita yang tidak berubah dan tidak bertumbuh sementara dia naik terus, dan kita jengkel lalu mau menarik dia kalau bisa selevel dengan kita. Begitu juga di bagian ini, ‘dulu ‘kan kita tetangga, sekarang ngaku-ngaku turun dari surga, mentang-mentang bisa bikin kita kenyang; memang sih Lu ada kelebihan bisa bikin sulap lalu ngaku-ngaku turun dari surga, padahal kita dulu teman’. Mereka sulit menerima ke-berbeda-an Yesus, padahal Yesus memang betul-betul berbeda dari mereka. Mereka tidak bisa menerima perkataan Yesus “Aku adalah roti yang turun dari surga”, artinya mereka menolak pengakuan yang paling sederhana dalam iman Kristen yaitu tentang inkarnasi, Firman yang menjadi daging.

Tapi kemudian Yesus mengatakan: “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku,” (ayat 44). Yesus relaks sekali. Doktrin tentang kedaulatan Allah, inisiatif Allah, predestinasi, pemilihan (election), harusnya menjadikan pelayanan kita relaks. Waktu Yesus tidak diterima, Dia bukan marah-marah, Dia mengatakan kalimat tadi. Mereka memang tidak mendapat pencerahan, tidak ditarik oleh Bapa. Yesus tenang sekali di dalam pelayanan-Nya, tidak ada campur aduk dengan ego. Kalau kita melayani  bercampur-aduk dengan ego, koq orang kurang menghormati saya, akhirnya tidak karuan, sebenarnya melayani Tuhan atau melayani ego. Yesus terhibur dengan doktrin kedaulatan Allah ini, ‘kamu tidak bisa melihat, kamu bersungut-sungut, memang kamu tidak ditarik oleh Bapa’. Ini bukan self-therapy menghibur diri dengan kedaulatan Allah, melainkan satu pengakuan yang jujur bahwa kalau tidak Bapa yang menarik, tidak ada orang yang bisa mencari Yesus dengan benar. Orang yang mencari Yesus karena kenyang, ada. Yang mencari Yesus karena berkat, banyak sekali. Tapi yang betul-betul mencari Yesus untuk mengenal Dia dan melihat Bapa, itu tidak mungkin terjadi kalau tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Anak. Ada gerakan yang dari Tuhan. Doktrin Predestinasi dalam teologi Reformed bukan mau menggambarkan Tuhan itu semena-mena; salah penghayatan kalau orang mengarahkan ke sana dan akhirnya memberikan gambaran Tuhan yang kejam. Waktu dikatakan kalimat tadi, kita musti bersyukur bahwa kalau kita mencari Tuhan dengan motivasi yang benar, itu adalah karena Bapa menarik kita; kemuliaan musti kembali kepada Bapa. Itu bukan karena Saudara lebih hebat, atau IQ lebih tajam, atau lebih punya kerinduan, kehausan, dan kelaparan, tapi karena Bapa menarik.

Kalau tidak ditarik oleh Bapa, tidak ada satu orang pun yang bisa menerima fakta Yesus itu turun dari surga. Kita semua tidak akan setuju dengan kalimat Yesus tadi karena kita punya bayangan sendiri artinya turun dari surga, mungkin seperti Mr. Bean yang jatuh dari atas dan ada lingkaran terang sekelilingnya atau seperti Superman, sedangkan Yesus jelas-jelas keluar dari rahim ibu-Nya, kita tahu proses lahirnya, latar belakang-Nya, silsilah-Nya, dsb. Menurut Martin Luther inilah yang namanya Theologia Gloriae, teologi kemuliaan menurut versi kemuliaan dunia, bahwa gambaran yang keren itu harusnya begini begitu. Tapi waktu Yesus turun dari surga ke dalam dunia, ternyata gambarannya normal, gambaran pengalaman sehari-hari, dan kita kecewa dengan gambaran ini. Kita maunya yang abnormal, extra ordinary, heavenly, extra terrestrial, yang bukan pengalaman sehari-hari, bukan gambaran dunia ini. Padahal justru di situlah luar biasanya, bahwa Dia Tuhan, tapi mau lewat jalan biasa, sama seperti kita.

Yesus mengatakan: “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman”. Kalimat ini mengantisipasi perkataan “I AM The Resurrection and The Life” karena bicara tentang kebangkitan. Kata ‘akan Kubangkitkan’ menunjukkan ini bukan presentis  tapi futuris. Kita sering menekankan bahwa eskatologi-nya Yohanes sangat presentis, memakai aorist tense menyatakan yang seharusnya terjadi kelak ditarik kepada di sini dan sekarang --menjadi momen sekarang-- karena di dalam Tuhan tidak ada past-present-future, Tuhan selalu ‘is’, maka dikatakan I am seperti “I am The Bread of Life”. Musa kasih kamu makan manna, itu dulu (past tense), tapi sekarang “I am The Bread of Life”, makan sekarang, percaya sekarang. Cerita Lazarus dibangkitkan juga sama. Harusnya orang dibangkitkan pada akhir zaman, tapi Yesus tarik di sini dan sekarang. “I am The Resurrection and The Life”, bukan “I will be The Resurrection and The Life”, oleh sebab itu ada kebangkitan Lazarus yang seperti “salah waktu” itu. Di sini Saudara melihat ada penekanan presentis eschatology dalam Injil Yohanes, tetapi bukan berarti eskatologi Yohanes tidak memiliki aspek futuris sama sekali.
Kita musti hati-hati dengan penekanan realized yang akhirnya jadi over realized eschatology, cuma di sini dan sekarang (here and now), tidak ada penantian akan “yang belum”. Di dalam Alkitab disajikan gambaran seperti itu, misalnya dalam surat Korintus. Jemaat Korintus punya daftar karunia-karunia yang kalau dibandingkan dengan jemaat Efesus atau Roma, paling panjang, paling lengkap (kalau saya tidak salah ingat; perlu dicek lagi). Di tengah keadaan seperti itu, mereka merasa ini sudah Kerajaan Allah, sampai-sampai mereka tidak percaya kebangkitan (dalam arti mereka percaya kebangkitan itu sudah terjadi). Maka dalam surat Paulus ada isu tentang kebangkitan; dia mengatakan “kalau kamu tidak percaya kebangkitan --kamu pikir kamu sudah bangkit-- maka imanmu sia-sia” (1 Kor 15). Mengapa bisa orang Kristen tidak percaya kebangkitan? Karena mereka percaya kebangkitan sudah terjadi, ini sudah Kerajaan Allah, setiap hari sudah hidup dalam pengalaman supra-natural seperti ini, mau tunggu apa lagi? Kerajaan Allah sudah datang, sudah tidak usah doa ‘datanglah kerajaan-Mu’ lagi. Inilah over realized eschatology dalam jemaat Korintus, yang mengakibatkan mereka tidak ada penantian lagi, dan akhirnya mereka tidak sadar ada kelemahan, tidak bisa melihat ada dosa yang begitu akut sebagaimana Paulus mengatakan “di antara kamu ada orang yang tidur (berzinah) dengan ibu tirinya, dan kamu tetap mengatakan hidup dalam Kerajaan Allah”. Inilah bahayanya kalau orang menghidupi over realized eschatology yang tidak ada aspek ‘akan/ yang akan datang’, sehingga kita akan buta terhadap kelemahan kita, jadi tidak realistis akan kehidupan yang penuh kekurangan ini.

Dalam kehidupan keluarga/ pernikahan ini juga bisa terjadi, yaitu orang-orang yang selalu kecewa dengan pasangannya. Kalau kita tidak menghidupi over realized eschatology, kita sadar bahwa pasangan kita ini memang manusia berdosa, dan kita sendiri juga orang berdosa, jadi kalau istri/ suami saya punya kelemahan, ya, karena kita ini memang masih di dunia, masih ‘akan’. Orang yang menghidupi over realized eschatology, dia sulit menerima kelemahan. Juga waktu ke Gereja, ‘Gereja koq begini, isinya orang-orang seperti ini’, karena penekanannya adalah here and now, di sini dan sekarang musti ada achievement  terus, kita menutup mata terhadap kelemahan dan kekurangan. Mungkin tidak secara harafiah orang mengatakan “saya penganut over realized eschatology”, mungkin dia sendiri juga tidak sadar, tapi sebetulnya konsep tersebut penekanannya. Hati-hati terhadap penekanan yang tidak memberikan ruang kepada ‘akan’. Dikatakan dalam Alkitab: “dia akan Kubangkitkan”, “dia akan Kukuduskan”, “dia akan Kusempurnakan”, semuanya ‘akan’. Kalau kita ada tempat untuk ‘akan’, kita tidak gampang bersungut-sungut. Tapi kalau kita tidak ada tempat untuk “akan”, semuanya minta terjadi sekarang, akhirnya kita jadi orang yang bersungut-sungut seperti orang-orang Israel di padang gurun, seperti orang-orang Yahudi di zaman Yesus.

Yesus mengatakan “dan Dia akan Kubangkitkan pada akhir zaman”, lalu tidak lama setelah itu, Lazarus dibangkitkan. Jadi akhir zaman atau sekarang? Inilah “confusion” di dalam Injil Yohanes, ‘akan’ tapi juga ‘sekarang’, karena Tuhan tidak ada ‘akan’ dan tidak ada ‘sekarang’. Tuhan tidak ada masa lampau, Tuhan tidak ada masa kini, Tuhan tidak ada masa depan, jadi Tuhan bisa pakai kapan saja. Tapi penekanan terhadap presentis eschatolology (eskatologi yang ‘di sini dan sekarang’) bukan berarti meniadakan penantian, karena jika kita tidak memberikan tempat untuk ‘akan’ dalam spiritualitas kita, kita jadi orang yang gampang bersungut-sungut, gampang tidak puas dalam kehidupan ini. Kita jadi menuntut terlalu banyak hak seperti orang Israel karena ‘dulu’, “dulu kita ada ikan, ada bawang, ada ini dan itu, sekarang cuma manna”. Orang-orang Israel di padang gurun gagal menghidupi ‘saat ini’, lalu di zaman Yesus juga ada persoalan lain lagi dan mereka juga bersungut-sungut. Tapi Yesus mengatakan “akan Kubangkitkan pada akhir zaman”, ada proses yang belum selesai.

“Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah” (ayat 45). Ini bicara ‘akan’, yaitu ‘akan yang dulu’. Mungkin di antara semua penginjil, yang paling peka urusan waktu adalah Yohanes. Yohanes mengatakan “ada tertulis dalam kitab nabi-nabi”, ini berarti yang ‘dulu’; dan dikatakan “mereka semua akan”, ini ‘akan’ yang terjadi di zaman Yesus --‘sekarang’-nya Yesus. Sekarang, here and now, catatan nubuatan yang ada dalam kitab nabi, sedang digenapi. Maksudnya apa?

Kita membaca bagian yang dikutip Yesus yaitu Yeremia 31: 34 “Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka."  Ini common prophethood. Nabi tadinya cuma segelintir orang yang dihinggapi oleh Roh, kemudian nubuatan Yoel mengatakan “Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke semua orang”. Bukan cuma segelintir orang saja, bukan cuma untuk laki-laki tapi perempuan juga, bukan cuma untuk orang merdeka tapi hamba-hamba juga, bukan cuma untuk para elders/ tua-tua tapi teruna-teruna/ orang-orang muda juga, sehingga prophethood (kenabian) yang tadinya cuma dimiliki segelintir orang saja kini di-share untuk semua orang, yang penggenapannya di dalam peristiwa Pentakosta. Ini ada kemiripan dengan --kalau saya pakai istilah yang sama-- “common teacherhood”. Teacher / pengajar tadinya cuma segelintir orang, yang kepada mereka semua orang awam lain sangat bergantung, sehingga mereka ibarat agen tunggal, meski bisa juga bukan satu orang tapi sekelompok orang. Dalam zaman Yesus inilah ahli-ahli Taurat itu, yang kepadanya orang bergantung untuk mau mengenal Allah.

Yeremia jauh-jauh hari mengatakan “tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN!”. Tidak usah mati-matian bergantung pada pengajar-pengajar yang eksklusif itu, karena Yeremia menubuatkan “Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN”.  Apa maksudnya? Yaitu bahwa semua orang punya akses langsung kepada Tuhan; ini reformasi. Memang kita masih perlu dan sangat perlu diajar oleh guru-guru yang mengenal firman Tuhan. Ayat ini jangan di-intepretasi secara radikal dan ekstrim ‘tuh Tuhan sendiri mengajarkan tidak perlu lagi ada pengajar, berarti kita bubarkan semua sekolah teologi, tidak perlu ada pengajar, semua orang langsung belajar dari Tuhan; kita tidak usah lagi dengar pengkotbah, setiap orang, siapa pun bisa naik ke mimbar menggurui orang lain, memangnya dia siapa sehingga cuma dia yang boleh mengajar orang lain??’. Ini salah tafsir. Hati-hati, tafsiran seperti ini akhirnya menjadikan generasi yang sangat tidak teachable, generasi yang tidak mau diajar. Bukan itu maksudnya.

Ini bicara tentang yang tadinya bisa mengenal Tuhan cuma segelintir orang (dulu yang bisa baca Kitab Suci cuma segelintir orang dan kalau orang mau mengenal Tuhan harus melalui mereka), sekarang Yesus mengatakan “bukan melalui mereka, melalui Saya”. Yesus yang akan memperlihatkan Bapa. Ini relativisasi pengajar-pengajar yang eksklusif itu. Ada direct access, “mereka akan diajar oleh Allah, tidak ada lagi orang yang mengajar dengan mengatakan ‘kenallah Tuhan’ sebab mereka semua yang mengenal Aku akan mengenal Allah”. Dari yang tadinya segelintir orang (pengajar), kemudian jadi semua bisa menjadi pengajar dengan belajar langsung dari Tuhan. Bukan meniadakan fungsi pengajar, melainkan dalam pengertian tidak ada lagi kebergantungan kepada kelompok elit tertentu yang kalau tidak melalui mereka kita tidak bisa mengenal Allah. Ini dibubarkan oleh Yesus, dan sudah dinubuatkan oleh Yeremia.

Maka, kembali kepada Injil Yohanes, dikatakan “Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku”. Yesus mengatakan ‘datang kepada-Ku’, bukan datang kepada ahli-ahli Taurat itu yang merasa dirinya agen tunggal pengajar. Yesus merelativisasi kelompok elit ini --tidak harus melalui mereka, bisa langsung belajar kepada Allah-- oleh sebab itu Yesus dibenci sekali. Itu juga sebabnya Reformasi sangat menjengkelkan, karena tadinya ada “agen tunggal” --musti melalui orang tertentu yang ada posisinya sendiri-- tapi sejak Reformasi setiap orang dapat membaca firman Tuhan. Memang tidak bisa dipungkiri, sejak Reformasi terjadi penafsiran yang liar. Ini ekses negatif yang tidak bisa dihindari, seperti juga terjadi dalam hal apapun, tapi Martin Luther dan kawan-kawan tidak harus bertanggung-jawab atas ekses itu. Waktu Saudara diberikan kebebasan, selalu ada resiko, bahkan Tuhan pun mengambil resiko ini. Waktu Tuhan menciptakan Adam, dia diberikan kemungkinan untuk berbuat dosa (bukan diarahkan untuk berbuat dosa), diberikan kemungkinan untuk melawan Tuhan, dan dia betul-betul melawan Tuhan akhirnya. Ini side effect/ ekses; lalu apakah Tuhan yang harus bertanggung-jawab? Tentu tidak. Adam sendiri yang harus bertanggung-jawab. Di dalam kebebasan ada tanggung jawab. Kita ada freedom untuk menafsirkan Alkitab, tapi hati-hati karena bisa terjadi keliaran. Sekarang ini semua orang punya Alkitab sehingga dia  bisa baca sendiri dan menafsir sendiri. Dan memang bisa saja tafsirannya ngawur. Tapi apakah karena itu Luther jadi salah karena dia menerjemahkan Alkitab dan harusnya sudah betul jangan diterjemahkan, biar saja agen tunggal itu saja yang menjelaskan Alkitab kepada kita? Yeremia 31 tidak mengatakan itu. Itu justru melawan Yer 31, dan juga melawan penggenapan dalam kehidupan Kristus.

Bagaimana kita menghargai kebebasan ini --kemungkinan direct access ini? Yaitu bukan dengan meniadakan pengajar-pengajar yang diberkati Tuhan itu. Kita tetap dengan rendah hati belajar kepada mereka, tapi jangan bergantung kepada mereka sampai seolah-olah kita tidak punya akses langsung kepada Tuhan. Ayub mengatakan: “Dulu saya dengar tentang Engkau dari perkataan orang lain, sekarang mataku sendiri melihat Engkau”; pengalaman inilah maksudnya. Bukan dalam pengertian kita benci semua pengajar lalu secara akses langsung Roh Kudus bicara kepada kita, melainkan bahwa Yesus membuka/ merelativisasi jalan yang tadinya sempit cuma sebagian orang saja, sekarang diperluas, silakan datang kepada Yesus Kristus, “Setiap orang yang mendengar, menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku”.

Tapi ini tidak berarti setiap orang telah melihat Bapa, bagaimana pun Yesus-lah satu-satunya yang melihat Bapa dan yang bisa menyatakan Bapa kepada manusia. Yesus-lah Nabi yang sesungguhnya, yang kepada-Nya semua nabi dalam Perjanjian Lama menunjuk. Kita juga bisa mengatakan Dia Nabi yang terbesar karena Dia yang paling jelas melihat Bapa, paling intimate bersama dengan Bapa, yang bisa menyatakan Bapa kepada manusia. Tidak ada satu nabi pun berani mengatakan “barangsiapa melihat Aku, dia melihat Bapa”, tapi Yesus betul-betul sempurna merefleksikan Bapa sampai Dia berani mengatakan itu. Bukan berarti Yesus sama dengan Bapa, tapi bahwa kehidupan Bapa yang sepenuhnya berada dalam kehidupan Kristus. Inilah mengenal Allah melalui mengenal Kristus, karena Kristus-lah Sang Anak yang melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa, yaitu Sang Anak yang datang dari surga, datang dari Allah, datang dari Bapa. Sekarang Sang Anak itu menyatakan-Nya kepada kita manusia; inilah sesungguhnya arti hidup kekal. Ayat 47 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.”

Apa artinya hidup kekal? Dalam bahasa Inggris ada perbedaan antara ‘eternal’ dan ‘everlasting’; everlasting lebih ke ‘selama-lamanya’, tapi eternal agak berbau Yunani (kalau dalam film, waktu dewa-dewa akan eternalized, mereka yang tadinya punya kuasa ini itu lalu perlahan-lahan tidak bergerak lagi dan jadi patung). Dalam bahasa Indonesia ada istilah ‘mengabadikan’, yang dipakai dalam foto. Orang bergerak lalu begitu difoto langsung gambarnya berhenti, diam seperti patung, dan dikatakan ‘diabadikan’. Sekarang banyak teolog tidak setuju dengan istilah ‘eternal’ karena pengertiannya yang tadinya dinamis lalu jadi statis; ini bukan ‘hidup kekal’-nya Kristen. Hidup kekal bukan seperti gambar dalam foto, yang diam, yang begitu terus seperti patung, tidak ada gerakan tidak ada proses, seperti konsep eternal Yunani. Alkitab tidak mengajarkan seperti itu. Yesus tidak mengatakan ‘datanglah kepada-Ku maka engkau akan mulai hidup kekal --diam tidak bergerak’. Kata yang lebih baik mungkin ‘everlasting’ (selama-lamanya). Apa maksudnya ‘selama-lamanya’? Makin panjang makin bagus?

Saya baru menguburkan papa mertua saya yang meninggal umur 66 tahun, masih cukup muda. Ibu kandung saya meninggal umur 56 tahu, lebih muda lagi. Tapi hidup panjang atau pendek itu relatif. Apakah hidup everlasting itu hidup yang sepanjang-panjangnya? Bukan, Alkitab tidak mengatakan itu. Hidup artinya mengenal Bapa melalui mengenal Anak. Waktu murid-murid bertanya “di mana Engkau tinggal?”, Yesus mengatakan “marilah dan lihatlah”. Yesus mengajak orang untuk melihat diri-Nya sendiri lalu melihat Bapa; melihat Yesus, melihat Bapa, inilah hidup kekal. Papa mertua saya baru mengenal Tuhan 2 tahun lalu, tapi dalam 2 tahun itu dia betul-betul dengan penuh semangat mengejar pengenalan akan Allah terus-menerus. Saudara sudah berapa tahun kenal Tuhan? Pengenalan Allah yang bagaimana yang ada dalam diri Saudara? Ini bukan masalah durasi. Ada orang hidupnya panjang sekali, tidak sakit-sakitan, tapi tidak ada pengenalan akan  Allah. Untuk apa hidup seperti itu? Lebih baik hanya 2 tahun tapi intensive course. Memang alangkah indahnya kalau dari kecil sudah mengenal Tuhan, tapi timing itu ada dalam tangan Tuhan; Yesus mengatakan “tidak ada orang yang datang kepada-Ku jika tidak ditarik oleh Bapa”. Ada kairosnya, tapi setelah kita mendapatkan kairos itu, bagaimana kita mengisinya dalam waktu yang kita miliki? Bukan dengan selalu merasa masih ada waktu, ‘kan hidup masih panjang, saya masih sehat, dsb. Hidup bukan masalah sehat atau sakit. Hidup adalah soal Saudara mengenal dan berelasi denganTuhan atau tidak. Orang sehat tapi tidak mengenal Tuhan, dia mati kalau menurut definisi Kristus. Hidup kekal ada kaitannya dengan meihat Kritus, melihat Bapa. Di bagian lain lebih jelas lagi dikatakan “hidup kekal adalah mengenal Bapa, mengenal Yang Diutus Bapa”; itulah hidup kekal menurut definisi Injil Yohanes.

Ayat 48-49 “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati”. Mereka mati, termasuk juga dalam pengertian rohani (Yohanes sering memakai double meaning), yaitu karena mereka tidak mengenal Allah. Mereka mustinya melihat Tuhan yang menyediakan/ memelihara, tapi mereka tidak melihat the goodness of God, mereka merasa kurang, “mengapa tidak seperti di Mesir?” Ini penghinaan yang luar biasa, bukan cuma urusan makanan. Pertama yang diserang memang manna, ‘koq cuma manna, tidak ada ini dan itu’, lalu Musa yang diserang, dan akhirnya Tuhan, ‘mengapa Tuhan cuma kasih manna dalam kehidupan saya?’ --saya teruskan di sini: ‘tidak seperti dewa-dewa Mesir yang kasih saya ikan, bawang, dsb.; dewa-dewa Mesir kasih kecukupan kelimpahan, Yahweh yang katanya Tuhan yang asli cuma kasih manna’. Itulah bersungut-sungut. Tidak bisa puas dengan kehidupan. Orang yang terus komplain adalah orang yang tidak percaya, menurut Yesus. Mereka tidak bisa melihat the goodness of life, tidak bisa melihat the goodness of God; yang mereka lihat adalah kurang dan selalu kurang. Inilah complainer  par excellence, terus komplain apapun keadaannya.  Yesus mengatakan: “Nenek moyangmu --your fathers, yang tidak percaya-- makan manna di padang gurun, mereka mati” (ayat 49) yaitu karena mereka tidak mau mengenal Allah. Tapi “inilah Roti yang turun dari surga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati --akan hidup, yaitu mengenal Kristus dan mengenal Allah (ayat 50).

Terakhir, ayat 51: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya --everlasting--, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."  Ayat 51c ini banyak perdebatan. Memang ini bahasa Eucharistic (Perjamuan Kudus), dalam hal ini konsensus hampir semua scholars. Tapi kemudian ditafsir dalam pandangan transubstansiasi jadi: ‘roti itu betul-betul daging Kristus, roti itu sama dengan daging Kristus, lalu kita makan daging Kristus’. Ini jadi pengertian harafiah/jasmani; sedangkan kalau Saudara membaca konteksnya, justru mereka tidak mengerti karena mereka berpikirnya secara harafiah/ jasmani. Yesus mau membawa mereka kepada pengertian spiritual --dari hal jasmani dibawa kepada hal spiritual-- dan mereka tidak mengerti. Sekarang ada gereja yang menafsir ini secara jasmaniah, termasuk juga those great theologian of the past. Yang dimaksud di bagian ini bukanlah carnal eating tapi spiritual eating, karena hal ini dimengerti secara rohani. Agustinus pun mengatakan seperti itu.

Tapi mengapa pakai istilah ‘daging’? Secara motif, istilah ‘daging’ dalam Injil Yohanes menunjuk pada inkarnasi, Firman menjadi daging, Allah betul-betul menjadi manusia. Dan, ‘daging itu diserahkan’, Yesus mati di atas kayu salib, a sacrificial death. Yesus mempersembahkan tubuh-Nya --daging-Nya-- mati di atas kayu salib supaya boleh jadi korban sehingga menjadi makanan kita di dalam pengertian rohani.  Yohanes mau mengaitkan yang jasmani menunjuk kepada yang rohani.
Makan dan minum menurut Theologia Sophia dari Amsal, dikaitkan dengan pengenalan. Kita mendapati di situ ajakan pesta, "Marilah, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur”. Di UC Berkeley, perpustakaannya memakai ayat tersebut, dan dikaitkan dengan knowledge . Makan adalah tentang knowledge.  Makan bukanlah cuma soal apa yang saya makan, tapi menurut perspektif Alkitab adalah tentang pengenalan. Makan is about knowledge of God, itulah waktu Yesus table fellowship dengan para pendosa, mereka masuk dalam pengenalan akan Kristus. Orang-orang pendosa ini tidak pernah diajak makan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang self-righteous itu, mereka tahu dirinya tidak selevel dengan orang-orang tersebut, mereka tahu ‘kita ini pelacur, pezinah, pemungut cukai, orang-orang yang berdosa; kita cuma perempuan, kita anak kecil, dsb’. Tapi Yesus mengundang makan bersama. Jangan Saudara pikir waktu makan mereka keenakan, ‘wah makanannya luar biasa’, dsb. Tidak. Mereka melihat Yesus, ‘koq bisa ya ada Orang mengundang kita, mengapa Orang ini mengundang kita, saya cuma pelacur tapi saya diajak makan semeja’. Yang dilihat adalah Yesus, bukan makanan.

Makan dan minum adalah soal pengenalan akan Tuhan. Pengenalan tidak mungkin tanpa pribadi. Ini bukan cuma scientific knowledge, tapi personal knowledge; yang tahu adalah a person, yang diketahui juga a person. Yesus itu a person (satu pribadi); waktu Dia mengundang orang, orang jadi mengenal Dia, mereka jadi mengetahui the goodness of Jesus. Itu yang terjadi. Waktu kita makan disconnected dengan pengenalan akan Tuhan, itu kerakusan, kalau menurut istilah Alkitab. Inilah orang-orang dalam bagian ini. “Kamu datang bukan karena tanda yang menunjuk Aku --Aku adalah Roti Hidup-- tapi kamu datang karena kenyang”. Mereka makan dan kenyang tapi disconnected with the knowledge of God; persis seperti yang dikatakan dalam kitab Bilangan, nafsu kerakusan menguasai mereka sampai mereka tidak bisa melihat Tuhan yang menyediakan manna cukup. Mereka tidak mau masuk ke dalam pengenalan akan Tuhan melalui makan, mereka cuma pikir makanannya kurang dan merasa disiksa dengan makanan seperti itu.

Makan bukan urusan sederhana dalam Alkitab; bukan cuma tentang selera, atau diet jaga bentuk tubuh/ kesehatan, dsb. --itu pandangan yang terlalu rendah. Menurut Alkitab, makanan ada kaitannya dengan knowledge, terutama knowledge of God, dan termasuk juga knowledge of others. Waktu makan, paling sedikit Saudara sedang mengenal orang yang dengannya Saudara makan, lalu sebisa mungkin juga membawa kita kepada pengenalan akan Allah, Tuhan yang memelihara kehidupan. Saudara bisa makan, itu dari tangan Tuhan. Maka baiklah know your God better waktu kita makan, bukan know the food better. Makan ini sarana untuk membawa kita mengenal Tuhan. Ada saat-saat orang susah makan --waktu sakit kita susah makan-- dalam keadaan seperti itu, sama, better know your God, bahwa manusia tidak hidup dari roti saja. Dari situ kita semakin mengenal Tuhan , semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, melalui makan dan tidak makan. Inilah definisi kehidupan --hidup yang kekal-- menurut Injil Yohanes.

Apakah hidup kita semakin mengenal Tuhan hari demi hari?


Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)